TintaSiyasi.id -- Derita Palestina tiada akhir. Kelaparan terus berlangsung selama 11 bulan terakhir akibat blokade penuh terhadap bantuan kemanusiaan. Kondisi ini mengakibatkan malnutrisi parah, khususnya pada anak-anak.
Mengutip The Japan Times, dalam tiga hari terakhir, 21 anak dilaporkan meninggal di Rumah Sakit Al-Shifa dan Al-Aqsa Martyrs hanya dalam waktu 72 jam karena malnutrisi. Artinya, tujuh anak tewas setiap hari akibat kekurangan gizi. Data WHO pun mencatat lebih dari 50 anak meninggal sejak awal pengepungan. UNRWA—lembaga PBB untuk pengungsi Palestina—menyebut telah memeriksa lebih dari 242.000 anak di bawah usia lima tahun, dan satu dari sepuluh di antaranya mengalami malnutrisi. Mereka bukan sekadar angka.
(Sumber: CNBC Indonesia, 23 Juli 2025)
Selain kelaparan, pembunuhan di dekat lokasi distribusi bantuan juga semakin mengkhawatirkan. Sebab, warga Gaza hanya bergantung pada pembagian bantuan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang kontroversial karena mendapat dukungan AS dan Israel. Menurut juru bicara Kantor HAM PBB, lebih dari 1.000 warga Palestina telah dibunuh Israel saat mencoba mendapatkan makanan sejak GHF mulai beroperasi pada 27 Mei 2025.
(Sumber: BBC Indonesia)
Genosida Baru dan Propaganda Barat
Dunia mungkin mengutuk kebiadaban Zionis yang makin brutal, tapi fakta menunjukkan bahwa blokade total sejak 2 Maret 2025 adalah bentuk strategi pelaparan sistemik—sebuah genosida baru yang dijalankan secara terencana untuk melemahkan semangat perjuangan rakyat Gaza.
Netanyahu menyangkal adanya kebijakan pelaparan massal, sementara Donald Trump justru mengakui hal itu terjadi dan mengajak dunia terlibat membantu. Namun, apakah dunia sungguh bisa berharap AS menghentikan genosida? Israel dan AS justru duduk bersama merancang "bantuan" yang diselimuti agenda.
Setelah serangan Tufan Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant memerintahkan penutupan total wilayah Gaza sambil menyatakan keji: "Tidak ada makanan, tidak ada pasokan listrik, gas, maupun air. Kami siap memerangi hewan manusia."
Penguasa negeri-negeri Muslim pun tak berbuat apa-apa. Mesir, negara tetangga, bahkan enggan membuka perbatasan Rafah untuk mengizinkan masuknya bahan makanan. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidaklah beriman seseorang yang kenyang, sementara tetangganya lapar sampai ke perutnya." (HR. Bukhari)
Blokade ini bukanlah bencana alam, melainkan proyek pelaparan sistemik. Setelah korban berjatuhan, Israel lalu “mengizinkan” masuknya bantuan dari Barat dan negara-negara Arab. Namun, apakah warga Gaza sudah bisa bernapas lega? Tentu tidak.
Umat Islam Tidak Boleh Diam
Kejahatan Zionis tidak cukup dilawan dengan retorika dan bantuan kemanusiaan. Apalagi ketika AS terus menjadi pelindung utama Israel dan PBB terbukti tak punya keberanian bertindak. Sementara para pemimpin Muslim tetap bungkam, bahkan mengabaikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Diamnya umat Islam justru memperkuat cengkeraman penjajahan atas Palestina.
Propaganda Barat pun berhasil membelokkan pandangan umat Islam. Umat diajak percaya bahwa bantuan dari negara-negara Barat adalah solusi. Padahal mereka justru bagian dari pelaku genosida. Penjajahan dan pembunuhan terselubung ini dibungkus dengan narasi “aksi kemanusiaan”.
Bahkan pengakuan sepihak sejumlah negara terhadap negara Palestina pun tidak lebih dari sandiwara politik. Sebab pengakuan itu disertai syarat: melemahkan Hamas dan menghentikan perlawanan rakyat Gaza. Tragisnya, para penguasa Muslim tetap diam—seolah membenarkan skenario busuk itu.
Pertanyaannya, di mana posisi umat Islam hari ini? Di mana para pemimpin Muslim? Mengapa tak satu pun bersuara keras? Mengapa membuka perbatasan pun terasa berat, hanya karena takut merusak hubungan dengan Amerika dan Barat?
Solusi Hakiki: Jihad dan Khilafah
Umat Islam tidak boleh terus diam. Harus ada perubahan cara pandang. Gencatan senjata atau bantuan kemanusiaan bukanlah solusi jangka panjang. Solusi sejati adalah mengusir entitas zionis dari Palestina dan mengembalikan tanah itu ke pangkuan umat Islam.
Allah SWT berfirman:
"Perangilah mereka di mana pun kamu jumpai mereka. Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusirmu. Fitnah (kekufuran) itu lebih berbahaya daripada pembunuhan." (TQS Al-Baqarah: 191)
Kini saatnya mengalihkan energi umat Islam kepada solusi hakiki: tegaknya Khilafah Islamiyah yang memimpin jihad dan membebaskan Palestina, sebagaimana dicontohkan Rasulullah ﷺ dan para khalifah setelah beliau.
Hanya sistem Islam yang mampu menyatukan kekuatan umat, memobilisasi pasukan, memutus ketergantungan dari musuh, dan menghentikan seluruh penjajahan atas negeri-negeri kaum Muslim.
Kesimpulan:
Kondisi Gaza bukan hanya tangisan kemanusiaan. Ini adalah ujian besar bagi seluruh umat Islam. Maka, janganlah kita diam. Mari bangkit dan bergerak dalam barisan dakwah ideologis yang menyeru kepada amar makruf nahi munkar, menyadarkan umat, dan berjuang untuk tegaknya Khilafah yang akan membawa nasrullah (pertolongan Allah) dan membebaskan Palestina.
Insya Allah.
Wallahu a’lam bish-showab.
Oleh: Punky Purboyowati, S.S
(Komunitas Pena Dakwah Muslimah)