Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Negara dengan Sumber Pendapatan dari Pajak, Tidak Membuat Rakyat Sejahtera

Sabtu, 23 Agustus 2025 | 07:38 WIB Last Updated 2025-08-23T00:38:52Z

TintaSiyasi.id -- Direktur Pamong Institute Drs. Wahyudi Almaroky, menilai, negara dengan sumber pendapatan dari pajak justru tidak membuat masyarakat itu makin sejahtera tetapi rakyat kecil itu makin menderita.

"Ujungnya negara-negara dengan sumber pendapat yang dari pajak itu justru tidak membuat masyarakat itu makin sejahtera, tetapi justru semakin rakyat kecil itu makin menderita," ungkapnya di kanal YouTube Khilafah News, Rabu (20/8/2025), Pemerintah Menarik Pajak Seperti Berburu di Kebun Binatang?

Ia memberikan contoh, hampir semua negara-negara Barat yang menerapkan sistem sekuler akan menjadikan pajak sebagai sumber pendapatan. Maka bisa dilihat bahwa tidak ada satu negara kapitalistik yang dengan pajak bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya secara merata.

"Kalaulah tingkat kesejahteraan meningkat tetapi kesenjangannya melebar karena memang pajak yang dijadikan instrumen untuk bahasa mereka itu menarik kekayaan, atau uang orang-orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin secara paksa ternyata kan dalam sistem demokrasi dan sistem yang berlaku justru membuat kebijakan itu mereka sendiri, akhirnya yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin, yang pandai mengakali pajak mereka akan lolos, sementara si miskin dikejar-kejar pajak karena tidak ada basis kekuatan atau berbasis backingan yang kuat," paparnya.

Sehingga, ia menjelaskan, instrumen negara-negara kapitalis dengan menggunakan pajak sebagai sumber pendapatan mereka, ternyata tidak bisa meratakan kesejahteraan tetapi justru melakukan backwash effect.

"Jadi justru mereka menarik pajak dari rakyat justru di gunakan bahkan dinikmati oleh kaum oligarki maupun para pejabat makanya tadi kita bisa melihat ada para pejabat naik gaji yang sekarang lagi rame, DPR juga dari pendapatannya ASN juga mungkin dinaikkan gajinya tetapi rakyat dinaikkan pajaknya, saya pikir ini yang menunjukkan bahwa negara kita sangat kapitalistik walaupun kita tahu sebagian mengagung-agungkan, mengklaim bahwa kita itu sebenarnya negara Pancasila tetapi kebijakannya sangat kapitalistik itu yang mungkin perlu diingatkan kembali bahwa kita ini sampai hari ini justru lebih cenderung menjadi negara kapitalistik," cecarnya. 

Disatu sisi, para oligarki itu bisa menghindari pajak karena mereka mampu membuat kebijakan yang menunggangi negara untuk mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada mereka. "Misalnya batu bara, batu bara praktis tidak kena pajak, jadi luar biasa mereka mengambil kekayaan alam yang begitu besar, keuntungan yang terbesar tetapi bisa-bisanya mereka tidak diubah dengan begitu pajak yang besar justru rakyat kecil dikejar-kejar dengan berbagai pajak bukan hanya satu tetapi berbagai macam baik PPN, PPh PBB dan semacam itu luar biasa," ungkapnya. 

Kemudian, ia melanjutkan, munculnya kebijakan tax amnesti, tax holiday, dan seterusnya, sehingga para oligarki bisa menikmati itu sementara yang rakyat kecil tidak bisa menghindari pajak karena dikejar-kejar pajak bahkan aparatnya bisa lebih keras dan sadis kepada rakyat kecil untuk mengejar pajak.

"Dan ternyata dengan sistem tersebut sampai hari ini justru kita lihat kemiskinan kita semakin tinggi, belum lagi kita bicara bukan sekadar miskin tetapi kesenjangan semakin tinggi, bahkan terkait dengan alam juga makin rusak," pungkasnya.[] Alfia Purwanti

Opini

×
Berita Terbaru Update