Tintasiyasi.ID-- Pendahuluan.
Dalam perjalanan hidup yang singkat ini, manusia sering kali terjebak dalam hiruk-pikuk dunia yang melelahkan. Banyak yang bangga dengan kecerdasan logika, tetapi lalai menggunakan akalnya untuk tujuan yang benar. Padahal, kecerdasan sejati bukanlah sekadar kemampuan berpikir cepat atau memiliki ilmu pengetahuan luas, melainkan kemampuan untuk memahami hakikat hidup dan bertindak sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
Imam Abu Laits As-Samarqandi, seorang ulama besar abad ke-10 yang masyhur dengan karyanya Tanbihul Ghafilin, mengingatkan bahwa ada empat tanda orang yang benar-benar berakal dan waspada dari kelalaian. Keempat tanda ini bagaikan kompas yang mengarahkan kita menuju keselamatan dunia dan akhirat.
1. Menyikapi Urusan Dunia dengan Qana’ah karena Waktu yang Lapang
Qana’ah adalah menerima apa yang Allah tetapkan dengan hati lapang, tidak serakah, dan tidak iri pada apa yang dimiliki orang lain. Orang yang berakal memahami bahwa dunia hanyalah ladang sementara, bukan tujuan utama. Waktu hidup di dunia memang terasa lapang dibandingkan dengan keterbatasan di akhirat kelak, namun justru kelapangan ini adalah ujian: apakah kita akan menggunakannya untuk mengumpulkan pahala atau tenggelam dalam kesenangan semu.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Beruntunglah orang yang masuk Islam, diberi rezeki secukupnya, dan Allah menjadikannya qana’ah terhadap apa yang diberikan kepadanya." (HR. Muslim)
Qana’ah tidak berarti pasrah buta tanpa usaha. Justru, ia adalah bentuk kesyukuran tertinggi: berusaha sebaik mungkin, lalu ridha dengan hasil yang Allah takdirkan. Orang yang qana’ah bebas dari penjara ambisi dunia yang tak pernah ada habisnya.
2. Menyikapi Urusan Akhirat dengan Serius karena Waktu yang Mendesak
Berbeda dengan dunia, urusan akhirat harus dihadapi dengan kesadaran bahwa waktu kita sangat singkat. Kematian bisa datang kapan saja, dan penyesalan kelak tidak akan mengubah keadaan. Orang berakal memandang akhirat seperti ujian yang akan dimulai dalam hitungan menit, sehingga ia mempersiapkan jawabannya dari sekarang.
Allah ﷻ berfirman:
"Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran: 133)
Mereka yang sadar akan hal ini tidak menunda taubat, tidak menunda kebaikan, dan tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Mereka hidup dengan rasa mendesak — bukan karena panik, tetapi karena paham bahwa setiap detik adalah kesempatan emas yang takkan kembali.
3. Menyikapi Urusan Agama dengan Ilmu dan Ijtihad
Agama bukan sekadar keyakinan yang diwarisi, tetapi cahaya yang harus dipahami dengan ilmu. Orang yang berakal tidak hanya mengandalkan tradisi atau mengikuti arus mayoritas tanpa mengerti dalilnya. Ia belajar, bertanya, dan merenung, lalu beramal sesuai tuntunan syariat.
Ijtihad di sini bukan sekadar istilah untuk mujtahid besar, tetapi kesungguhan mencari kebenaran, memeriksa sumber, dan memastikan bahwa setiap langkah sejalan dengan ridha Allah.
Allah ﷻ berfirman:
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah..." (QS. Muhammad: 19)
Ilmu adalah pondasi amal. Amal tanpa ilmu bagaikan bangunan tanpa pondasi, mudah runtuh ketika diuji.
4. Menyikapi Urusan dengan Sesama Makhluk dengan Ketulusan dan Kerja Sama yang Baik
Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Orang yang berakal tahu bahwa ia tidak bisa hidup sendiri. Ia menjaga hubungan baik dengan ketulusan — bukan sekadar demi keuntungan dunia, tetapi karena itu adalah perintah Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ahmad)
Kerja sama yang baik adalah tanda akhlak mulia. Ia berarti saling membantu, memudahkan urusan orang lain, dan tidak mempersulit tanpa alasan syar’i. Ketika ketulusan menjadi dasar interaksi, persaudaraan akan tumbuh dan rahmat Allah akan turun.
Refleksi: Mengukur Diri dengan Empat Tanda Ini
Jika kita jujur pada diri sendiri, keempat tanda ini adalah cermin yang mengungkap keadaan hati kita.
• Apakah kita sudah qana’ah atau masih terikat ambisi dunia yang melelahkan?
• Apakah kita memperlakukan akhirat seperti sesuatu yang mendesak atau masih kita tunda-tunda?
• Apakah agama kita jalani dengan ilmu atau hanya ikut-ikutan?
• Apakah hubungan kita dengan sesama didasari ketulusan atau ada agenda tersembunyi?
Merenungi pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan diri, tetapi untuk menghidupkan kembali kewaspadaan yang sering padam.
Penutup
Nasihat Abu Laits As-Samarqandi ini adalah harta berharga dari warisan ulama yang masih sangat relevan di zaman penuh kelalaian ini. Dunia modern menawarkan segala bentuk hiburan, informasi, dan godaan yang bisa membuat kita lupa arah. Tetapi dengan memegang empat tanda ini, insya Allah kita akan selalu berada di jalur yang benar:
1. Qana’ah dalam urusan dunia.
2. Keseriusan dalam urusan akhirat.
3. Ilmu dan ijtihad dalam urusan agama.
4. Ketulusan dan kerja sama dalam urusan dengan sesama.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk golongan orang-orang yang berakal, waspada, dan selalu siap menghadapi perjumpaan dengan-Nya.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)