Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengemudi Hati Menuju Allah: Jalan Panjang Menuju Keikhlasan

Sabtu, 02 Agustus 2025 | 03:27 WIB Last Updated 2025-08-01T20:28:00Z

Tintasiyasi.ID-- “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat: 56)

Hidup bukan sekadar rangkaian aktivitas duniawi. Ia adalah panggung kehambaan, di mana setiap detik yang terlewat adalah peluang untuk beribadah kepada Allah SWT. Maka siapa pun kita—seorang guru, pedagang, orang tua, pemimpin, pelajar—kita semua pada hakikatnya adalah hamba. Dan tugas utama seorang hamba adalah mengemudi hatinya menuju Tuhannya.

Namun, jalan menuju Allah bukan jalan yang datar dan lurus. Ia dipenuhi liku, badai, rintangan, dan terutama—perjuangan melawan diri sendiri. Dalam hati manusia terletak penentu utama dari kualitas ibadah itu sendiri: keikhlasan.

Keikhlasan: Mahkota Ibadah yang Paling Mahal

Keikhlasan adalah ketika seorang hamba beramal semata-mata karena Allah, tanpa berharap pujian manusia, tanpa mengharapkan balasan duniawi, tanpa merasa besar karena amalnya. Hanya Allah. Sebab hanya dengan keikhlasanlah amal-amal diterima di sisi-Nya.
Namun, betapa sulitnya menjaga hati agar tetap lurus kepada Allah. 

Kata Imam Al-Ghazali, “Hal yang paling sulit di dunia ini adalah memurnikan niat. Karena niat selalu berubah-rubah dalam dada manusia.”

Ibarat seorang pengemudi yang harus terus menggenggam kemudi di tengah derasnya angin dan kabut, seorang mukmin pun harus terus menjaga hatinya dari niat-niat tersembunyi, dari harapan kepada makhluk, dari keinginan disanjung atau dipuji.

Hati: Ruang Rahasia yang Menentukan Nasib Akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian, tidak pula kepada harta kalian. Tapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Hati adalah titik pusat seluruh amal. Bila hati bersih, maka amal menjadi ringan dan terarah. Bila hati gelap, maka amal sebesar apa pun akan kehilangan nilainya di sisi Allah.
Karena itu, menjaga hati adalah jihad terbesar. Bahkan para ulama menamainya sebagai jihad an-nafs—perang melawan hawa nafsu.

Mengemudi Hati: Upaya Tak Pernah Usai

Mengemudi hati menuju Allah tidak cukup sekali atau dua kali. Ia adalah proses seumur hidup. Di setiap pagi, seorang mukmin harus kembali menata niatnya. Di setiap malam, ia harus mengoreksi kembali tujuannya. Apakah aku beramal karena Allah? Atau karena ingin dianggap shalih?

Dalam setiap detik kehidupan, selalu ada ruang untuk syirik kecil—riya, ujub, sum’ah—yang menyusup halus ke dalam ibadah. Karena itu, muraqabah (merasa diawasi Allah) dan muhasabah (evaluasi diri) menjadi kunci utama.

Langkah-Langkah Menuju Keikhlasan

Berikut ini beberapa langkah yang bisa menjadi pegangan dalam mengemudi hati menuju keikhlasan:

1. Teguhkan niat karena Allah sebelum memulai amal.
Tanyakan: "Untuk siapa aku melakukan ini?"

2. Jauhkan diri dari pujian dan popularitas.
Popularitas sering kali mengikis nilai amal.

3. Sembunyikan amal shalih semampu mungkin.
Amal yang tersembunyi lebih dekat kepada ikhlas.

4. Perbanyak doa memohon hati yang bersih.
Seperti doa Rasulullah ﷺ:
“Ya Allah, berikanlah aku hati yang bersih dan ikhlas.”

5. Bergaul dengan orang-orang yang jujur dan ikhlas.
Hati kita akan meniru siapa yang sering dekat dengannya.

Penutup: Berjalan, Meski Berat

Tak ada jalan mudah menuju keikhlasan. Tapi setiap langkah yang kita ambil ke arah itu adalah ibadah yang bernilai tinggi. Bahkan ketika kita berjuang agar hati kita tetap ikhlas, perjuangan itu sendiri sudah menjadi amal yang agung.

"Sesungguhnya orang-orang yang ikhlas adalah orang-orang yang mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Karena mereka menyerahkan seluruh urusan kepada Allah."
(Ibnul Qayyim, Madarijus Salikin)

Maka mari kita terus mengemudi hati kita menuju Allah. Meski jalannya berliku, meski kadang kita lelah, yakinlah: Allah Maha Melihat perjuangan kita.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si.  (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update