TintaSiyasi.id -- Menanggapi aksi demontrasi masyarakat yang menuntut dibubarkan dewan perwakilan rakyat (DPR), Analis Ekonomi dari Pusat Kajian dan Analisa Data (PKAD) Ismail Izzuddin, mengatakan masalah sebenarnya ada akarnya, di sistem politik demokrasi.
"Masalah sebenarnya ada di akarnya sistem ekonomi, politik kapitalisme, demokrasi yang menyingkirkan peran agama," ungkapnya di akun TikTok ismail.pkad, Jumat (29/8/2025).
Sehingga, selama aturan dibuat oleh manusia yang bisa saling berkoalisi dalam politik dan ekonomi baik kapitalisme maupun sosialisme keadilan sejati enggak akan pernah terwujud.
Ia mempertanyakan, pernahkah masyarakat memikirkan mengapa kebijakan negara sering banget terasa jomplang dengan realita di lapangan? "Coba lihat deh ada tunjangan fantastis untuk anggota dewan tetapi rakyat kecil terus dijejali berbagai jenis pajak. Ada anggaran mobil dinas ASN tetapi gaji guru dan dosen malah dianggap beban, ada Wamen (wakil Menteri) yang merangkap komisaris BUMN, sementara lapangan kerja buat masyarakat makin sempit," paparnya.
Ia menambahkan, fenomena ini seharusnya membuat masyarakat perlu nalar kritis, masyarakat harus berani menguji cara pandang kapitalisme, sosialisme komunis dan juga perspektif Islam.
"Kapitalisme melahirkan ketimpangan ekonomi, sosialisme hadir sebagai antitesis tetapi juga punya keterbatasan," ujarnya.
Solusi Islam
Ia menjelaskan, Islam menawarkan paradigma pemikiran yang berbeda lebih fitrah dan manusiawi tetapi solusi dari ketimpangan ini enggak cukup hanya dengan menolak gaji DPR yang jumbo atau teriak bubarkan DPR itu cuma reaktif.
"Islam kasih jawaban logis aturan harus datang dari Allah SWT yang sifatnya independen, enggak bergantung pada apapun, sistem ini dikontrol langsung oleh rakyat lewat amar makruf nahi mungkar, penguasa enggak bisa bersekongkol dengan seluruh rakyat," ujarnya.
Ia menjelaskan, Majelis Ummah pun hadir bukan sebagai pembuat hukum tetapi sebagai wakil rakyat untuk mengontrol penguasa agar melayani sesuai hukum Allah.
"Jadi kalau kita serius ingin keluar dari ketimpangan sistem hari ini, saatnya kita berani jujur solusi ada pada sistem yang adil, terukur dan fitrah yaitu sistem Islam," pungkasnya. [] Alfia Purwanti