Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Fokuslah pada Ilmu, Ibadah, dan Kerja: Jalan Hidup Seimbang Menuju Keberkahan

Jumat, 29 Agustus 2025 | 17:51 WIB Last Updated 2025-08-29T10:51:56Z

Tintasiyasi.id -- Mukadimah: Nasihat Ulama yang Selalu Relevan

Sayid Abu Bakar Syatha, seorang ulama besar penulis kitab I’anatuth Thalibin, pernah berpesan:

“Fokuslah mencari ilmu, beribadah, dan bekerja sesuai kebutuhanmu dan keluargamu. Pilihlah yang terbaik.”

Sepintas, nasihat ini terdengar sederhana. Namun di balik kalimat singkat itu, terkandung kearifan hidup yang mendalam. Nasihat ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati bukanlah hasil dari ambisi dunia tanpa batas, melainkan dari keseimbangan antara tiga pilar utama kehidupan: ilmu, ibadah, dan kerja yang cukup.

1. Ilmu: Cahaya Penuntun Kehidupan

Islam menempatkan ilmu pada posisi sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Ilmu adalah cahaya yang menerangi hati dan pikiran. Tanpa ilmu, ibadah bisa keliru, pekerjaan bisa terjerumus pada kebatilan. Imam Al-Ghazali berkata:

“Ilmu adalah pokok dari segala amal. Amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan, ilmu tanpa amal adalah kegilaan.”

Karena itu, Sayid Abu Bakar Syatha memulai nasehatnya dengan kata “fokuslah mencari ilmu.” Fokus berarti konsisten dan bersungguh-sungguh. Dalam konteks modern, mencari ilmu bukan hanya di pesantren atau kampus, tetapi juga belajar dari kehidupan, pengalaman, dan sumber-sumber yang bermanfaat.

Refleksi:

Sudahkah kita menuntut ilmu yang mendekatkan kita kepada Allah?

Ataukah kita hanya sibuk mengejar pengetahuan dunia tanpa memperhatikan aspek akhirat?

2. Ibadah: Pondasi Ketenangan dan Kualitas Hidup

Allah berfirman:

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ibadah bukan hanya shalat dan puasa, tetapi seluruh aktivitas yang diniatkan untuk Allah. Bekerja dengan jujur, menolong sesama, mendidik anak dengan sabar—semuanya bisa menjadi ibadah jika diniatkan lillahi ta’ala.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis:

Hati tidak akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan kecuali dengan mengenal Allah, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya.”

Artinya, semakin kita fokus beribadah, semakin tenang jiwa kita. Banyak orang kaya yang gelisah meski memiliki segalanya, karena melupakan aspek spiritual. Sebaliknya, banyak orang sederhana hidup damai karena dekat dengan Allah.

3. Bekerja Sesuai Kebutuhan: Kunci Hidup Sederhana dan Berkah

Sayid Abu Bakar Syatha menekankan “bekerjalah sesuai kebutuhanmu dan keluargamu.” Ini adalah prinsip hidup sederhana (zuhud). Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tapi tidak diperbudak dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik usaha adalah usaha seorang pekerja yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad)

Prinsip ini sangat penting di era konsumtif. Banyak orang terjebak gaya hidup hedonis, mengejar harta melampaui batas kebutuhan. Akibatnya, hati lelah, ibadah terabaikan, dan keluarga terbengkalai. Dengan bekerja secukupnya, kita memiliki waktu untuk menuntut ilmu, beribadah, dan membangun kebersamaan keluarga.

Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata:

“Kunci kebahagiaan adalah ridha dengan rezeki yang halal dan mencukupi.”

4. Pilihlah yang Terbaik: Hikmah di Setiap Keputusan

Di akhir nasehatnya, Sayid Abu Bakar Syatha berpesan: “Pilihlah yang terbaik.”
Ini mengandung makna penting: setiap pilihan hidup harus mempertimbangkan maslahat dunia dan akhirat. Allah berfirman:

“…supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2)

Kriteria terbaik bukan hanya dari sisi materi, tapi juga dari sisi keberkahan, manfaat, dan keridhaan Allah. Pekerjaan terbaik adalah yang halal dan bermanfaat. Ilmu terbaik adalah yang mendekatkan kepada Allah. Ibadah terbaik adalah yang dikerjakan dengan ikhlas dan khusyuk.

5. Jalan Keseimbangan: Rahasia Hidup Bahagia

Jika kita renungkan, nasehat Sayid Abu Bakar Syatha adalah formula hidup bahagia dan bermartabat.

Ilmu memberi arah.

Ibadah memberi ketenangan.

Kerja mencukupi kebutuhan.

Ketiganya harus seimbang. Jika hanya ilmu tanpa ibadah, kita bisa sombong. Jika hanya ibadah tanpa kerja, kita bisa menjadi beban orang lain. Jika hanya kerja tanpa ilmu dan ibadah, kita bisa terjerumus dalam kezaliman dan kelalaian.

Penutup: Saatnya Refleksi dan Aksi

Mari kita renungkan:

Apakah waktu kita lebih banyak habis untuk mengejar dunia, sementara akhirat kita abaikan?

Apakah kita menuntut ilmu untuk memperbaiki diri, atau hanya untuk mengejar status?

Apakah kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan atau menuruti nafsu tanpa batas?

Nasehat Sayid Abu Bakar Syatha adalah ajakan untuk hidup seimbang, fokus, dan bijak. Inilah jalan menuju keberkahan dunia dan akhirat.

“Fokuslah mencari ilmu, beribadah, dan bekerja sesuai kebutuhanmu dan keluargamu. Pilihlah yang terbaik.”
— Sayid Abu Bakar Syatha

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update