Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Enam Perkara yang Mengangkat Derajat Seorang Hamba di Sisi Allah

Jumat, 29 Agustus 2025 | 17:52 WIB Last Updated 2025-08-29T10:52:17Z
Tintasiyasi.id -- Pendahuluan: Jalan Menuju Kemuliaan Sejati.

Setiap manusia mendambakan kemuliaan. Namun, kemuliaan sejati bukan diukur dari jabatan, kekayaan, atau keturunan. Betapa banyak orang yang dihormati di dunia, namun terhina di hadapan Allah di akhirat. Sebaliknya, betapa banyak hamba sederhana yang mungkin tidak dikenal manusia, tetapi namanya harum di langit karena ketaatan dan ketulusan.

Allah Ta'ala berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujurat: 13)

Kemuliaan di sisi Allah lahir dari keimanan, ketakwaan, dan amal shalih. Para ulama menjelaskan, ada beberapa sifat dan amalan utama yang menjadi sebab Allah meninggikan derajat seorang hamba. Di antara yang terpenting adalah enam perkara agung berikut:

1. Ilmu yang Bermanfaat (العلم النافع)
Ilmu adalah cahaya, pengangkat derajat, dan penunjuk jalan hidup. Allah sendiri menegaskan:
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Namun, tidak semua ilmu mendatangkan keberkahan. Rasulullah ﷺ berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak puas, dan doa yang tidak didengar." (HR. Muslim)
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang:
• Bersumber dari wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah).
• Dipahami dengan benar sesuai manhaj ulama.
• Diamalkan dalam kehidupan.
• Diajarkan untuk kemaslahatan umat.
Imam Syafi’i berkata:
"Ilmu adalah apa yang memberi manfaat, bukan sekadar yang dihafal."
Ilmu menumbuhkan rasa takut kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan memotivasi amal shalih. Semakin banyak ilmu yang bermanfaat, semakin tinggi derajat seseorang di sisi Allah dan manusia.

2. Adab yang Diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah
Ilmu tanpa adab ibarat pohon tanpa buah. Adab adalah perhiasan seorang mukmin. Banyak ulama menekankan adab bahkan sebelum ilmu.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata kepada putra Imam Asy-Syafi’i:
"Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu."
Adab yang benar harus bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, karena akhlak Rasulullah adalah implementasi Al-Qur’an:
Ketika ditanya tentang akhlak Nabi, Aisyah radhiyallahu ‘anha menjawab: "Akhlak beliau adalah Al-Qur’an." (HR. Muslim)
Adab mencakup:
• Adab kepada Allah: ikhlas, bersyukur, tawakal.
• Adab kepada manusia: santun, menghormati, menebar kasih sayang.
• Adab kepada diri: menjaga kehormatan, tidak merugikan diri sendiri.
Adab membuat seseorang mulia meski miskin. Tanpa adab, ilmu dan ibadah tidak bercahaya.

3. Amanah (Menjaga Kepercayaan)
Amanah adalah sifat mulia yang menjadi tanda keimanan. Allah berfirman:
"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya." (QS. Al-Mu’minun: 8)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji." (HR. Ahmad)
Amanah mencakup banyak hal:
• Menunaikan hak Allah (sholat, zakat, puasa, dsb).
• Menunaikan hak manusia (pekerjaan, titipan, rahasia).
• Memimpin dengan adil jika diberi amanah kepemimpinan.
Di zaman fitnah, amanah menjadi langka. Nabi ﷺ bersabda:
"Akan datang suatu zaman ketika amanah dicabut dari hati manusia, maka hanya sedikit orang yang amanah." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hamba yang menjaga amanah di saat kebanyakan orang mengkhianatinya akan diangkat derajatnya di dunia dan akhirat.

4. Iffah (Menjaga Kehormatan dari yang Haram)
Iffah berarti menjaga diri dari hal yang haram, baik harta, perbuatan, maupun syahwat. Allah memuji orang-orang yang menjaga kehormatan:
"Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya." (QS. Al-Mu’minun: 5)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa berusaha menjaga kehormatan dirinya (iffah), maka Allah akan menjaganya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Iffah juga mencakup kesederhanaan, tidak meminta-minta, dan qana'ah dengan rezeki halal meski sedikit. Dalam dunia modern yang penuh godaan, iffah menjadi benteng hati.
Ibnu Rajab berkata:
"Iffah adalah kemampuan menahan diri dari yang haram meski ada peluang untuk melakukannya."
Hamba yang menjaga iffah, walau tidak terlihat di mata manusia, dimuliakan di sisi Allah.

5. Jujur (Shidq)
Kejujuran adalah pondasi iman. Rasulullah ﷺ dikenal sebagai "Al-Amin" (yang terpercaya) bahkan sebelum diangkat menjadi nabi. Allah berfirman:
"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan jadilah bersama orang-orang yang jujur." (QS. At-Taubah: 119)
Kejujuran membawa kebaikan, dan kebaikan membawa surga:
"Sesungguhnya kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga." (HR. Bukhari dan Muslim)
Kejujuran meliputi:
• Jujur dalam ucapan.
• Jujur dalam niat.
• Jujur dalam amanah.
Di tengah maraknya kebohongan dan kepalsuan, jujur adalah cahaya yang membedakan seorang mukmin dari orang munafik.

6. Menepati Janji (Wafa’ bil ‘Ahd)
Menepati janji adalah tanda kesempurnaan iman. Allah berfirman:
"Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra’: 34)
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat." (HR. Bukhari dan Muslim)
Menepati janji bukan hanya soal perkataan, tapi juga komitmen terhadap perjanjian dengan Allah (ibadah) dan perjanjian dengan manusia. Seorang mukmin sejati menjaga integritasnya, walaupun berat.

Buah dari Enam Perkara Ini
Jika seorang hamba memelihara enam perkara agung ini:
• Allah akan memuliakannya di dunia. Ia dipercaya, dihormati, dan membawa keberkahan bagi sekitarnya.
• Allah akan meninggikan derajatnya di akhirat. Ia diberi kedudukan mulia di surga.
Ibnu Qayyim berkata:
"Derajat manusia di sisi Allah sesuai dengan kadar iman, keikhlasan, kejujuran, dan amanahnya."

Refleksi dan Penutup: Memulai dari Diri Sendiri
Enam perkara ini tidak datang tiba-tiba. Dibutuhkan mujahadah (kesungguhan), doa, dan lingkungan yang mendukung. Mulailah dari langkah kecil:
• Cari dan amalkan ilmu.
• Perbaiki akhlak dengan meneladani Nabi ﷺ.
• Jaga amanah, meski kecil.
• Hindari yang haram, meski tersembunyi.
• Latih kejujuran dalam segala hal.
• Tunaikan janji meski terasa berat.
Jika umat Islam kembali kepada enam perkara ini, niscaya kita akan melihat kemuliaan kembali tegak, dan umat ini menjadi teladan peradaban.

"Apakah kita siap menjadi hamba yang derajatnya ditinggikan Allah? Mari memulainya hari ini, dari diri sendiri, dengan niat ikhlas karena-Nya."

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update