Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kekuatan Pikiran dan Jalan Menuju Kemuliaan Sejati: Perspektif Dr. Ibrahim El-Fiky dan Nilai Islam

Jumat, 29 Agustus 2025 | 17:52 WIB Last Updated 2025-08-29T10:52:41Z

Tintasiyasi.id -- Pendahuluan: Pikiran adalah Anugerah Besar Allah

Setiap manusia dilahirkan dengan akal dan hati. Keduanya merupakan amanah agung dari Allah. Akal yang sehat memampukan manusia untuk berpikir, menimbang, memilih, dan akhirnya bertindak. Pikiran adalah sumber dari semua keputusan; ia seperti benih yang menentukan buah apa yang akan tumbuh.

Dr. Ibrahim El-Fiky, pakar pengembangan diri asal Mesir yang bukunya dibaca di berbagai belahan dunia, menegaskan: “Pikiranmu adalah aset terbesar. Apa yang kau tanamkan di dalamnya akan menjadi kenyataan yang kau tuai.” Pernyataan ini sejalan dengan ajaran Islam yang sejak awal mengajak manusia untuk menggunakan akalnya dengan benar. Allah berulang kali berfirman: “Tidakkah kamu berpikir? Tidakkah kamu merenung?” (QS. Al-Baqarah: 44; QS. Al-An’am: 50).

Namun, dalam perspektif Islam, kekuatan pikiran tidak berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan hati yang bersih, iman yang kuat, dan tujuan hidup yang lurus. Pikiran yang benar melahirkan amal saleh dan mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah.

Konsep Kekuatan Pikiran Menurut Dr. Ibrahim El-Fiky

Dr. El-Fiky menyoroti beberapa prinsip penting:

1. Pikiran Membentuk Realitas
Apa yang sering kita pikirkan menjadi pola dalam hidup. Jika kita menanam ketakutan, kita cenderung ragu dan gagal. Jika kita menanam keyakinan positif, kita terdorong untuk berusaha dan berharap baik. Konsep ini selaras dengan sabda Nabi ﷺ:
“Allah berfirman: Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari & Muslim)
Husnuzan kepada Allah adalah bentuk pikiran positif tertinggi: yakin bahwa apa pun ketetapan-Nya penuh hikmah dan kasih sayang.

2. Kekuatan Pikiran Bawah Sadar
Menurut Dr. El-Fiky, banyak hambatan berasal dari program bawah sadar yang salah: keyakinan “saya tidak mampu”, “saya tidak layak”, dan seterusnya. Namun pikiran bawah sadar dapat dilatih ulang melalui pengulangan kata-kata positif dan latihan mental. Dalam Islam, pengulangan afirmasi positif ini mirip dengan dzikir, doa, dan tilawah. Kalimat “Hasbunallahu wa ni’mal wakil” misalnya, menanamkan keteguhan dan rasa cukup kepada Allah.

3. Energi Pikiran Menarik Energi Serupa
Apa yang kita fokuskan akan “menarik” kejadian sejenis. Fokus pada syukur menumbuhkan lebih banyak rasa syukur. Fokus pada keluhan menumbuhkan lebih banyak masalah. Al-Qur’an menyebut: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku tambah nikmatmu. Jika kamu kufur, azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Kuncinya bukan sihir, tapi cara pikiran memengaruhi emosi dan tindakan. Orang yang bersyukur akan lebih giat bekerja, lebih sabar, dan lebih optimis, sehingga hidupnya berkembang.

4. Pikiran Harus Didukung Lingkungan dan Tindakan
Dr. El-Fiky menekankan, pikiran positif harus diiringi dengan lingkungan yang mendukung dan tindakan nyata. Islam pun mengajarkan pentingnya suhbah shalihah (teman yang baik) karena “seseorang itu tergantung agama teman dekatnya” (HR. Abu Dawud). Pikiran positif tanpa amal hanya menjadi angan-angan; pikiran positif yang diwujudkan dengan amal adalah iman yang hidup.

5. Puncak Kekuatan Pikiran: Iman

Menurut Dr. El-Fiky, kekuatan pikiran sejati adalah saat ia bersandar kepada Allah. Keyakinan kepada diri harus dibangun di atas keyakinan kepada Sang Pencipta. Inilah yang membedakan konsep pikiran Islami dengan motivasi duniawi murni: orientasinya bukan hanya kesuksesan dunia, tapi ridha Allah dan kebahagiaan akhirat.

Refleksi Qur’ani: Pikiran, Tafakkur, dan Derajat Mulia

Al-Qur’an mengajarkan tafakkur (merenung) dan tadabbur (memikirkan makna). Orang-orang yang mau berpikir dan merenung disebut ulul albab (QS. Ali Imran: 190-191). Mereka menghubungkan fenomena hidup dengan kebesaran Allah. 

Buahnya adalah iman yang kokoh, sabar, dan bersyukur.

Di sinilah kekuatan pikiran Islami menemukan puncaknya: bukan hanya untuk mengatur emosi atau meraih target materi, tapi untuk mendekat kepada Allah, menebar manfaat, dan memperbaiki akhlak. Ini selaras dengan enam perkara pengangkat derajat hamba yang sudah kita bahas sebelumnya: ilmu, adab, amanah, iffah, jujur, dan menepati janji—semuanya berawal dari pikiran yang lurus dan hati yang bersih.

Tips Praktis Mengelola Pikiran ala Dr. El-Fiky dan Ajaran Islam

1. Mulailah Hari dengan Pikiran Baik dan Dzikir. Bangun tidur dengan doa syukur, bacaan Qur’an, dan afirmasi positif: “Hari ini aku akan berbuat baik karena Allah.”

2. Latih Syukur. Catat tiga nikmat setiap hari; ini melatih pikiran fokus pada karunia, bukan kekurangan.

3. Jaga Lingkungan Pikiran. Pilih teman, bacaan, tontonan, dan percakapan yang sehat. Jauhi gosip dan keluhan yang mengotori hati.

4. Gunakan Doa untuk Re-program Pikiran. Doa dan dzikir berulang bukan hanya ibadah, tapi juga “program” positif untuk bawah sadar.

5. Kendalikan Pikiran Negatif dengan Tafakkur. Saat cemas, alihkan pikiran ke keagungan Allah, ingat kematian, dan renungkan hikmah. Ini menenangkan hati.

6. Berbuat Nyata. Pikiran positif tanpa amal adalah fatamorgana. Segera wujudkan pikiran baik dengan aksi yang diridhai Allah.

Penutup: Mencerahkan Umat dengan Kekuatan Pikiran Islami

Di era modern, banyak orang mengalami stres, pesimis, dan kehilangan arah. Dakwah tentang kekuatan pikiran Islami ala Dr. Ibrahim El-Fiky dapat menjadi solusi. Ia mengajak kita untuk membersihkan pikiran, mengisinya dengan iman, dan menyalurkannya menjadi amal saleh.

Kita tidak bisa mengendalikan semua peristiwa, tetapi kita bisa mengendalikan cara kita berpikir dan merespons. Inilah letak kekuatan sejati seorang mukmin: berpikir baik tentang Allah, berusaha maksimal, dan berserah diri kepada-Nya. Dengan begitu, Allah mengangkat derajat kita di dunia dan di akhirat.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan dimulai dari pikiran. Mari isi pikiran dengan iman, ilmu, dan husnuzan; penuhi hati dengan syukur dan tawakal; wujudkan dalam amal nyata. Insya Allah, kita akan menjadi hamba yang mulia, membawa cahaya bagi diri dan umat.

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update