Tintasiyasi.ID -- Pakar Ekonomi dan Bisnis Islam Ustaz Dwi Condro Triyono membeberkan strategi keluar dari kemiskinan individual dan struktural. “Begini strategi keluar dari kemiskinan individual dan struktural,” tuturnya, Rabu (09/07/2025).
"Kalau secara individu memang yang bisa dilakukan
sebatas apa yang bisa dilakukan individu," tuturnya dalam acara Bincang-Bincang
Bareng Tsalis Group dengan tema Menjaga Ekonomi Keluarga Saat Krisis
Melanda di YouTube Tsalis Group.
Menurutnya, strategi kalau untuk individu dalam
situasi kritis seperti ini out of the box-nya memang harus melakukan
diversifikasi pekerjaan. “Jadi tidak boleh hanya terpaku atau tertuju hanya
kepada satu pekerjaan saja atau satu sumber pendapatan saja, karena memang
situasinya tidak menguntungkan,” ungkapnya.
"Kalau kita mengandalkan satu pekerjaan, satu
sumber pendapatan dan kebetulan itu terpukul, misalnya kita sudah punya bisnis
yang bagus, tiba-tiba kena pukulan, kayak kita punya hotel tiba-tiba tamunya
sepi, tidak ada yang datang. Tidak ada pendapatan masuk, Ini kan terpukul. Kalau
enggak punya alternatif pendapatan, benar-benar mati bisnisnya," ujarnya.
Oleh karena itu, ia mengimbau agar dalam situasi
seperti sekarang memang seharusnya berpikir out of the box itu,
memperbanyak diversifikasi pekerjaan. “Istilahnya harus mulai merintis
usaha-usaha sambilan yang benar-benar kita rencanakan dengan baik, programkan
dengan baik, sehingga ibaratnya bisa menjadi sekoci,” sarannya.
"Kalau kapal utama karam itu ada sekoci, maka
harus disiapkan. Kalau cuma mengandalkan kapal, begitu dia karam ya langsung
ikut tenggelam. Nah, oleh karena itu strategi yang paling rasional untuk
individu memang harus memperbanyak sekoci. Nah, itu gambaran singkat untuk
strategi individu," terangnya.
Strategi
Ia menjelaskan, kalau untuk strategi struktural,
memang sekarang yang menjadi biang keroknya dari kehancuran ekonomi itu karena
sistemnya. “Karena sistem yang digunakan itu adalah sistem ekonomi kapitalis,”
tegasnya.
"Semua negara yang menerapkan sistem ekonomi
kapitalis itu dampaknya semuanya sama, yaitu akan membelah rakyatnya jadi dua,
satu menjadi istilahnya kaum borjuis, yang kedua kaum proletar atau rakyat
jelata. Kenapa? Karena jantungnya ekonomi kapitalisme itu kan bank dan pasar
modal," bebernya.
Di perbankan, sebutnya, duit yang masuk adalah duit
seluruh rakyat masuk ke bank. “Itu seperti arisan tingkat nasional masuk ke
dalam satu lembaga. Kemudian keluarnya untuk siapa? Paling hanya yang menikmati
hanya 10 persen saja,” ulasnya.
"Coba bayangkan yang iuran 100 persen, yang
menikmati 10 persen. Berarti sisanya 90 persen itu kan hanya saja untuk
menyetorkan uangnya bagi 10 persen penduduknya untuk mengeruk kekayaan
Indonesia,” ungkapnya.
“Ini berarti yang menjadi penyebab itu jantungnya itu
sendiri. Keberadaan jantung ekonomi kapitalisme itu yang membuat ekonomi pasti
terpuruk di manapun," urainya.
Jadi menurutnya, kapitalisme tidak akan pernah
membawakan keadilan ekonomi. “Kapitalisme pasti akan membawa yang kaya makin
kaya, yang miskin makin miskin, dan jumlah yang miskin makin banyak. Sementara
yang kaya makin sedikit, kapitalisasi kekayaannya makin besar,” lugasnya .
"Jadi kalau ada krisis ekonomi kayak gini, jangan
dianggap semua kena krisis. Pasti ada yang menikmati krisis itu dengan tambahan
kekayaan yang berlipat-lipat. Sementara yang lain semakin menderita. Itu sudah
sunatullahnya begitu. Karena sistem yang salah itu. Oleh karena itu,
satu-satunya sistem yang bisa menyelamatkan hanya sistem yang berasal dari
Allah Swt., yaitu ekonomi Islam yang pasti akan membawa keadilan,"
tandasnya.[] Rina
