Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Begini Strategi Keluar dari Kemiskinan Individual dan Struktural

Senin, 25 Agustus 2025 | 08:13 WIB Last Updated 2025-08-25T01:13:15Z

Tintasiyasi.ID -- Pakar Ekonomi dan Bisnis Islam Ustaz Dwi Condro Triyono membeberkan strategi keluar dari kemiskinan individual dan struktural. “Begini strategi keluar dari kemiskinan individual dan struktural,” tuturnya, Rabu (09/07/2025).

 

"Kalau secara individu memang yang bisa dilakukan sebatas apa yang bisa dilakukan individu," tuturnya dalam acara Bincang-Bincang Bareng Tsalis Group dengan tema Menjaga Ekonomi Keluarga Saat Krisis Melanda di YouTube Tsalis Group.

 

Menurutnya, strategi kalau untuk individu dalam situasi kritis seperti ini out of the box-nya memang harus melakukan diversifikasi pekerjaan. “Jadi tidak boleh hanya terpaku atau tertuju hanya kepada satu pekerjaan saja atau satu sumber pendapatan saja, karena memang situasinya tidak menguntungkan,” ungkapnya.

 

"Kalau kita mengandalkan satu pekerjaan, satu sumber pendapatan dan kebetulan itu terpukul, misalnya kita sudah punya bisnis yang bagus, tiba-tiba kena pukulan, kayak kita punya hotel tiba-tiba tamunya sepi, tidak ada yang datang. Tidak ada pendapatan masuk, Ini kan terpukul. Kalau enggak punya alternatif pendapatan, benar-benar mati bisnisnya," ujarnya.

 

Oleh karena itu, ia mengimbau agar dalam situasi seperti sekarang memang seharusnya berpikir out of the box itu, memperbanyak diversifikasi pekerjaan. “Istilahnya harus mulai merintis usaha-usaha sambilan yang benar-benar kita rencanakan dengan baik, programkan dengan baik, sehingga ibaratnya bisa menjadi sekoci,” sarannya.

 

"Kalau kapal utama karam itu ada sekoci, maka harus disiapkan. Kalau cuma mengandalkan kapal, begitu dia karam ya langsung ikut tenggelam. Nah, oleh karena itu strategi yang paling rasional untuk individu memang harus memperbanyak sekoci. Nah, itu gambaran singkat untuk strategi individu," terangnya.

 

Strategi

 

Ia menjelaskan, kalau untuk strategi struktural, memang sekarang yang menjadi biang keroknya dari kehancuran ekonomi itu karena sistemnya. “Karena sistem yang digunakan itu adalah sistem ekonomi kapitalis,” tegasnya.

 

"Semua negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis itu dampaknya semuanya sama, yaitu akan membelah rakyatnya jadi dua, satu menjadi istilahnya kaum borjuis, yang kedua kaum proletar atau rakyat jelata. Kenapa? Karena jantungnya ekonomi kapitalisme itu kan bank dan pasar modal," bebernya.

 

Di perbankan, sebutnya, duit yang masuk adalah duit seluruh rakyat masuk ke bank. “Itu seperti arisan tingkat nasional masuk ke dalam satu lembaga. Kemudian keluarnya untuk siapa? Paling hanya yang menikmati hanya 10 persen saja,” ulasnya.

 

"Coba bayangkan yang iuran 100 persen, yang menikmati 10 persen. Berarti sisanya 90 persen itu kan hanya saja untuk menyetorkan uangnya bagi 10 persen penduduknya untuk mengeruk kekayaan Indonesia,” ungkapnya.

 

“Ini berarti yang menjadi penyebab itu jantungnya itu sendiri. Keberadaan jantung ekonomi kapitalisme itu yang membuat ekonomi pasti terpuruk di manapun," urainya.

 

Jadi menurutnya, kapitalisme tidak akan pernah membawakan keadilan ekonomi. “Kapitalisme pasti akan membawa yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin, dan jumlah yang miskin makin banyak. Sementara yang kaya makin sedikit, kapitalisasi kekayaannya makin besar,” lugasnya .

 

"Jadi kalau ada krisis ekonomi kayak gini, jangan dianggap semua kena krisis. Pasti ada yang menikmati krisis itu dengan tambahan kekayaan yang berlipat-lipat. Sementara yang lain semakin menderita. Itu sudah sunatullahnya begitu. Karena sistem yang salah itu. Oleh karena itu, satu-satunya sistem yang bisa menyelamatkan hanya sistem yang berasal dari Allah Swt., yaitu ekonomi Islam yang pasti akan membawa keadilan," tandasnya.[] Rina

Opini

×
Berita Terbaru Update