Tintasiyasi.ID -- Pakar Ekonomi dan Bisnis Islam Ustaz Dwi Condro Triyono menyampaikan bagaimana solusi menyelamatkan kemiskinan dengan ekonomi Islam. “Inilah solusi menyelamatkan kemiskinan dengan ekonomi Islam,” sebutnya, Rabu (09/07/2025).
"Kalau negara ingin menyelamatkan rakyatnya dari
kemiskinan, itu kan harus kuat ekonominya. Enggak mungkin negara menyelamatkan
rakyat jika kasnya kosong enggak ada duit," ujarnya dalam acara Bincang-Bincang
Bareng Tsalis Group dengan tema Menjaga Ekonomi Keluarga Saat Krisis
Melanda di YouTube Tsalis Group.
Oleh karena itu, lanjutnya, kalau bicara sistem
ekonomi Islam yang harus dibicarakan dulu adalah kas negara. “Kalau dalam Islam
namanya baitulmal,” ulasnya.
"Nah, bicara sistem ekonomi itu paling pertama
yang harus kita pegang adalah kekuatan ekonomi negara. Caranya untuk lapis
pertama adalah Islam mengatur kepemilikan. Ada kepemilikan individu, ada
kepemilikan umum, dan ada kepemilikan negara," bebernya.
Dalam kepemilikan individu, individu boleh berbisnis,
boleh berekonomi, tetapi hanya di wilayah kepemilikan individu. “Sementara
kepemilikan umum khususnya tambang yang besar tidak boleh disentuh oleh
individu atau swasta,” urainya.
Lanjut dikatakan, yang mengelola adalah negara dan
harus masuk ke kas negara. “Jadi kepemilikan umum dan kepemilikan negara semua
masuk ke kas negara,” lugasnya.
"Dari lapis pertama saja kita sudah bisa
membayangkan, negara sudah bisa punya kas yang sangat besar. Maka apa pun nanti
tindakan pemimpin, tindakan khalifah untuk menyelamatkan rakyatnya itu
mudah," ucapnya.
Lapis kedua, lanjutnya, dengan mengamputasi jantung
ekonomi kapitalis, yakni bank dan pasar modal. “Jantung ini harus dihilangkan,
karena yang menjadi penyedot uang seluruh negara bahkan mungkin level dunia
juga bisa,” ungkapnya.
“Uang itu bisa kesedot di dalam jantungnya. Ini harus
diamputasi, harus dihilangkan, selain memang hukumnya haram. Bank itu kan
dengan riba, sedangkan pasar modal digerakkan dengan judi,” tandasnya.
"Riba dan judi itu ekonomi setan. Disebut dalam Al-Qur’an
seperti itu. Ekonomi setan itulah yang menyedot uang ke dalamnya. Sehingga
kalau uang sudah nanti di gelontorkan kepada pihak swasta, nanti akan ada
oligarki-oligarki,” ujarnya.
Ia menambahkan, oligarki banyak tumbuh di negara
kapitalis, tidak hanya di Indonesia. “Di seluruh dunia oligarki akan lahir di mana
perusahaan swasta itu bisa memiliki kekayaan melampaui negara, bisa mengalahkan
negara, bahkan mengendalikan negara, dan politik negara. Itulah oligarki,"
terangnya.
Oligarki lahir karena ada bank dan pasar modal,
lanjutnya, di mana saja negara punya bank dan pasar modal, pasti negaranya
dikendalikan oleh kaum oligarki.
“Negara itu harus tunduk manut, kalau perlu ngemis-ngemis.
Apalagi mereka bisa menjadi pemimpin, yang dibiayai oleh oligarki,” urainya
lagi.
"Ini baru dua lapis. Dua lapis ini kalau
ditegakkan maka dalam ekonomi Islam khalifah punya kas yang besar. Kalau kasnya
besar mau nolong mana coba? Walaupun kena pandemi, mau kena apa mungkin kencana
alam ya siap membantu rakyatnya dan enggak perlu kredit, enggak perlu utang.
Kalau rakyatnya enggak punya rumah, kasih aja, habisin kas itu," ujarnya.
Ia menyebutkan, bahwa tahun 2022, waktu selesai
pandemi Indonesia bisa mengekspor batu bara nilainya itu sampai 4.200 triliun. “APBN
kita waktu itu cuma 3.000 triliun. Baru dari batubara kalau masuk kas negara
bisa selesaikan masalah,” jelasnya.
Ustaz Dwi Condro juga menerangkan kalau masuk swasta negara
malah harus dikendalikan oleh swasta. “Belum lagi dari nikel. Nikel itu 500
triliun. Dari kelapa sawit 1.000 triliun. Itu cuma tiga komoditas sudah 6.500
triliun,” bebernya.
"Apalagi belum emasnya, belum uraniumnya, belum
tembaganya, belum minyak buminya. Indonesia itu gunung emas super kaya. Mudah
untuk mengratiskan sekolahan, mudah menggratiskan rumah sakit, mudah
menggratiskan rumah-rumah. Tetapi kenapa kita bisa menderita seperti sekarang?
Ya, karena sistemnya kapitalis," tutupnya.[] Rina
