Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Inilah Solusi Menyelamatkan Kemiskinan dengan Ekonomi Islam

Senin, 25 Agustus 2025 | 08:16 WIB Last Updated 2025-08-25T01:16:26Z

Tintasiyasi.ID -- Pakar Ekonomi dan Bisnis Islam Ustaz Dwi Condro Triyono menyampaikan bagaimana solusi menyelamatkan kemiskinan dengan ekonomi Islam. “Inilah solusi menyelamatkan kemiskinan dengan ekonomi Islam,” sebutnya, Rabu (09/07/2025).

 

"Kalau negara ingin menyelamatkan rakyatnya dari kemiskinan, itu kan harus kuat ekonominya. Enggak mungkin negara menyelamatkan rakyat jika kasnya kosong enggak ada duit," ujarnya dalam acara Bincang-Bincang Bareng Tsalis Group dengan tema Menjaga Ekonomi Keluarga Saat Krisis Melanda di YouTube Tsalis Group.

 

Oleh karena itu, lanjutnya, kalau bicara sistem ekonomi Islam yang harus dibicarakan dulu adalah kas negara. “Kalau dalam Islam namanya baitulmal,” ulasnya.

 

"Nah, bicara sistem ekonomi itu paling pertama yang harus kita pegang adalah kekuatan ekonomi negara. Caranya untuk lapis pertama adalah Islam mengatur kepemilikan. Ada kepemilikan individu, ada kepemilikan umum, dan ada kepemilikan negara," bebernya.

 

Dalam kepemilikan individu, individu boleh berbisnis, boleh berekonomi, tetapi hanya di wilayah kepemilikan individu. “Sementara kepemilikan umum khususnya tambang yang besar tidak boleh disentuh oleh individu atau swasta,” urainya.

 

Lanjut dikatakan, yang mengelola adalah negara dan harus masuk ke kas negara. “Jadi kepemilikan umum dan kepemilikan negara semua masuk ke kas negara,” lugasnya.

 

"Dari lapis pertama saja kita sudah bisa membayangkan, negara sudah bisa punya kas yang sangat besar. Maka apa pun nanti tindakan pemimpin, tindakan khalifah untuk menyelamatkan rakyatnya itu mudah," ucapnya.

 

Lapis kedua, lanjutnya, dengan mengamputasi jantung ekonomi kapitalis, yakni bank dan pasar modal. “Jantung ini harus dihilangkan, karena yang menjadi penyedot uang seluruh negara bahkan mungkin level dunia juga bisa,” ungkapnya.

 

“Uang itu bisa kesedot di dalam jantungnya. Ini harus diamputasi, harus dihilangkan, selain memang hukumnya haram. Bank itu kan dengan riba, sedangkan pasar modal digerakkan dengan judi,” tandasnya.

 

"Riba dan judi itu ekonomi setan. Disebut dalam Al-Qur’an seperti itu. Ekonomi setan itulah yang menyedot uang ke dalamnya. Sehingga kalau uang sudah nanti di gelontorkan kepada pihak swasta, nanti akan ada oligarki-oligarki,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, oligarki banyak tumbuh di negara kapitalis, tidak hanya di Indonesia. “Di seluruh dunia oligarki akan lahir di mana perusahaan swasta itu bisa memiliki kekayaan melampaui negara, bisa mengalahkan negara, bahkan mengendalikan negara, dan politik negara. Itulah oligarki," terangnya.

 

Oligarki lahir karena ada bank dan pasar modal, lanjutnya, di mana saja negara punya bank dan pasar modal, pasti negaranya dikendalikan oleh kaum oligarki.

 

“Negara itu harus tunduk manut, kalau perlu ngemis-ngemis. Apalagi mereka bisa menjadi pemimpin, yang dibiayai oleh oligarki,” urainya lagi.

 

"Ini baru dua lapis. Dua lapis ini kalau ditegakkan maka dalam ekonomi Islam khalifah punya kas yang besar. Kalau kasnya besar mau nolong mana coba? Walaupun kena pandemi, mau kena apa mungkin kencana alam ya siap membantu rakyatnya dan enggak perlu kredit, enggak perlu utang. Kalau rakyatnya enggak punya rumah, kasih aja, habisin kas itu," ujarnya.

 

Ia menyebutkan, bahwa tahun 2022, waktu selesai pandemi Indonesia bisa mengekspor batu bara nilainya itu sampai 4.200 triliun. “APBN kita waktu itu cuma 3.000 triliun. Baru dari batubara kalau masuk kas negara bisa selesaikan masalah,” jelasnya.

 

Ustaz Dwi Condro juga menerangkan kalau masuk swasta negara malah harus dikendalikan oleh swasta. “Belum lagi dari nikel. Nikel itu 500 triliun. Dari kelapa sawit 1.000 triliun. Itu cuma tiga komoditas sudah 6.500 triliun,” bebernya.

 

"Apalagi belum emasnya, belum uraniumnya, belum tembaganya, belum minyak buminya. Indonesia itu gunung emas super kaya. Mudah untuk mengratiskan sekolahan, mudah menggratiskan rumah sakit, mudah menggratiskan rumah-rumah. Tetapi kenapa kita bisa menderita seperti sekarang? Ya, karena sistemnya kapitalis," tutupnya.[] Rina

Opini

×
Berita Terbaru Update