Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Konflik Israel vs. Iran Meledak untuk Kepentingan Siapa?

Minggu, 13 Juli 2025 | 06:00 WIB Last Updated 2025-07-13T07:05:53Z
Tintasiyasi.id-- Perang Israel vs. Iran pecah ketika Israel menyerang terlebih dahulu Iran, Jumat (13-6-2025) lalu. Amerika Serikat ikut-ikutan menyerang Iran, Ahad (22-6-2026), hal ini bentuk pelanggaran terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut Kementerian Kesehatan Iran, lebih dari 220 orang tewas akibat serangan Israel sejak Jumat (13/06). Sementara itu, Israel mengatakan serangan Iran telah menewaskan 24 orang.Promise Gempuran Israel ke fasilitas nuklir Natanz—sekitar 225 km di selatan Teheran—menyebabkan kerusakan signifikan, kata Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan serangan Operasi Rising Lion menyasar "jantung" program nuklir Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan Israel "harus mengantisipasi hukuman berat". Sementara itu, menteri luar negeri Iran menyebut serangan itu sebagai "deklarasi perang". Pembalasan Iran dimulai beberapa jam kemudian dengan meluncurkan serangan rudal balistik ke "puluhan target, pusat militer, dan pangkalan udara" di Israel, dalam sebuah operasi yang disebut True Promise 3.

Konflik Israel-Iran tidak pecah begitu saja, tentu ini AS berada di balik ini semua. Kepentingan AS yang tidak mau ada yang menyaingi dalam hal pertahanan  bisa menjadi penyebab pecahnya konflik ini. AS bisa mengorbankan siapa pun, bahkan negara yang sudah berada dalam cengkeramannya pun menjadi korban kebiadaban Zionis. Mereka tidak takut melanggar amnesti internasional dan melanggar aturan yang mereka buat sendiri demi memuluskan syahwat AS tersebut.

Meneropong di Balik Pecahnya Konflik Israel-Iran

Israel memang negara yang tidak tahu diri. Dia adalah sel kanker yang dicangkokkan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah dengan segala kerusakan yang diciptakan. Tentunya Israel tidak mau ada negara yang mengunggulinya sebagaimana Iran yang telah mampu mengembangkan nuklir.

Zionis tampak membidik kota Isfahan sebagai wilayah strategis pertahanan. Pasalnya, Isfahan menjadi wilayah yang penting bagi Iran untuk mengembangkan sejumlah penelitian, apalagi penelitian nuklir. Tidak mungkin Zionis bergerak sendiri, tetapi serangannya menyasar tempat pengembangan nuklir ini tentu atas restu AS. 

Sebagai bangsa pengecut dan pecundang, Zionis tidak ingin ada teknologi pertahanan yang mengunggulinya. Terlebih ketika Iran mempunyai teknologi dan bahan baku uranium yang berpotensi membuat bom nuklir yang mengguncang perhatian dunia. Tentunya ini akan sangat menggetarkan Barat dan sekutunya. Apalagi yang memiliki teknologi canggih ini adalah negeri muslim. 

Menilik hubungan mesra antara Iran dan AS, tidak sepantasnya Israel melakukan serangan kepada Iran. Namun, inilah wajah sesungguhnya Zionis Yahudi yang begitu licik luar biasa. Selama puluhan tahun Zionis menindas Palestina, Iran tidak pernah menghalangi, justru malah membiarkan. Namun, hanya karena masalah pengembangan nuklir, Zionis tidak ingin memiliki pesaing siapa pun. Ia ingin menjadi nomor 1 di dunia walaupun di atas darah umat manusia.

Dampak Konflik Israel-Iran terhadap Aspek Ekonomi dan Eskalasi Politik Internasional

Tentu konflik Israel-Iran sangat berdampak terhadap umat. Dari rusaknya infrastruktur dan korban jiwa karena serangan rudal dari Israel maupun Iran. Dikutip dari TribunNews (24-6-2025), perang selama 12 hari antara Iran dan Israel telah menelan banyak korban jiwa besar di kedua negara. Lebih dari 600 orang tewas di Iran akibat serangan rudal Israel, sementara Israel juga mencatat 28 korban jiwa dan lebih dari 3.000 orang luka akibat rentetan balasan serangan dari Iran.

Kementerian Kesehatan Iran melaporkan lebih dari 600 orang tewas akibat serangan militer Israel, termasuk 100 orang dalam 24 jam terakhir sebelum gencatan senjata diberlakukan. Sebanyak 5.332 orang di Iran dilaporkan mengalami luka-luka selama periode serangan tersebut. Dari jumlah korban jiwa, 95 persen meninggal di bawah reruntuhan bangunan, sedangkan sisanya wafat dalam perawatan medis.

Dampak nyata dari konflik tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, krisis kemanusiaan. Konflik Israel-Iran telah menyebabkan banyaknya korban jiwa. Penindasan yang dilakukan Zionis sangat nyata tidak bisa dihadapi sendirian harus dihadapi bersama-sama. Kedua, ancaman krisis ekonomi. Adanya konflik dan perang antara Iran dan Israel diduga kuat berpotensi melemahkan kondisi ekonomi kedua belah pihak. Kalau Israel tentu di-backing AS. Lalu bagaimana dengan Iran dan negeri-negeri muslim yang terdampak akan perang tersebut? 

Ketiga, meningkatkan eskalasi perang bisa lebih luas lagi. Serangan Israel ke Iran menimbulkan gejolak di Timur Tengah. Tentu serangan ini juga tidak ceroboh dan gegabah. Namun, sudah dipikirkan matang oleh AS sebagai ibu kandung Israel. Semua kekacauan dan konflik di dunia ini didalangi oleh AS. 

AS menyulut permusuhan hingga perang supaya senjata dan teknologi perang yang diproduksi Barat bisa terjual keras tanpa memikirkan dampak kemanusiaan dari permasalahan ini. Seharusnya ini menjadi alasan akan pentingnya umat Islam dan negeri-negeri muslim mampu menciptakan teknologi pertahanan sendiri tanpa bergantung pada Barat dan sekutunya.

Strategi Islam Menyikapi Konflik Israel-Iran

Ketika Zionis membantai bahkan melakukan genosida terhadap muslim Palestina, penguasa-penguasa negeri muslim diam. Paling banter mereka hanya beretorika. Apakah menunggu Zionis Israel makin besar kepalanya dan membombardir negeri-negeri kaum muslim lainnya? Di saat yang sama umat Islam terus diam terkungkung nasionalisme seperti ini. Seolah-olah segala konflik yang diciptakan Zionis tidak menjadi masalahnya karena penjara nasionalisme. 

Publik bisa melihat, dalam menghadapi serangan balasan Iran, Israel sudah kuwalahan sampai AS turun tangan ikut menyerang Iran. Seharusnya ini menyadarkan umat Islam, andai saja negeri-negeri muslim bersatu dalam ikatan akidah tentu bisa memusnahkan Israel dari muka bumi. Ikatan akidah yang menyatukan negeri-negeri muslim bukan ikatan sembarangan tetapi ikatan dalam institusi Khilafah Islamiah. 

Dalam naungan khilafah, kaum muslim bisa menampakkan kekuatan yang tidak terkalahkan karena tingginya ketakwaan negara tersebut kepada Allah Swt. Sungguh, kesombongan Zionis harus segera ditundukkan dengan persatuan umat di bawah naungan khilafah. Jika umat Islam masih tercerai berai karena nasionalisme tentu umat Islam akan terus menerus ditindas dan dijajah. Oleh karena itu, mewujudkan kembalinya khilafah Islam adalah penting dan harus disegerakan.

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut. 

Kebutuhan akan kembalinya institusi Khilafah Islam adalah kebutuhan mendesak dan harus diupayakan segera oleh kaum muslim. Zionis Yahudi adalah sekumpulan orang-orang yang sombong berdiri di bawah kezaliman dan kepengecutannya terhadap kaum muslim. Mereka berdiri di atas kebringasan dan keserakahan yang mereka lakukan di bawah kepemimpinan ideologi kapitalisme. Sudah saatnya menyudahi kezaliman ini dengan sistem Islam kaffah dalam naungan Khilafah Islamiah. 

Oleh. Ika Mawarningtyas (Direktur Mutiara Umat Institute)
MATERI KULIAH ONLINE UNIOL 4.0 DIPONOROGO. Rabu, 25 Juni 2025. Di bawah asuhan Prof. Dr. Suteki, S.H., M. Hum.
#LamRad #LiveOpperessedOrRiseAgainst

Opini

×
Berita Terbaru Update