Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Shalat yang Sempurna: Hikmah dan Penjelasan Beberapa Tafsir QS. Al-Mukminum Ayat 1—2

Senin, 23 Februari 2026 | 07:43 WIB Last Updated 2026-02-23T00:43:20Z
TintaSiyasi.id -- Pendahuluan: Jalan Kemenangan Orang Beriman

Allah Swt., membuka Surah Al-Mu’minun dengan pernyataan yang tegas, singkat, namun mengguncang jiwa:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk dalam sholatnya.” (QS. Al-Mu’minun: 1–2).

Ayat ini bukan sekadar kabar gembira, tetapi deklarasi ilahiah tentang standar keberuntungan sejati. Keberuntungan tidak diukur dari kekuasaan, kekayaan atau popularitas, melainkan dari kualitas sholat. Dan bukan sembarang sholat, tetapi sholat yang khusyuk.

Inilah fondasi sholat yang sempurna.

Makna “Qad Aflaha” Menurut Para Mufassir

1. Tafsir Ibn Katsir

Ibn Katsir menjelaskan bahwa kata “qad aflaha” menunjukkan keberhasilan total, mencakup:

keselamatan dari neraka

masuk surga

dan keridhaan Allah.

Keberuntungan ini pasti, bukan kemungkinan. Namun ia bersyarat: iman yang hidup, dan sholat yang khusyuk.
“Allah mengaitkan kemenangan orang beriman dengan kekhusyukan sholat mereka.”
(Tafsir Ibn Katsir). 

2. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi menekankan bahwa ayat ini menunjukkan kedudukan sholat sebagai poros amal. Jika sholat rusak, maka seluruh amal ikut rusak. Jika sholat hidup, amal lainnya akan mengikuti.

Ia mengutip atsar:
“Barangsiapa menjaga sholatnya, maka ia telah menjaga agamanya.”

Makna Khusyuk: Ruh Sholat yang Hilang

1. Definisi Khusyuk Menurut Tafsir Ath-Thabari

Imam Ath-Thabari menjelaskan:
“Khusyuk adalah tunduknya hati, tenangnya anggota badan, dan hadirnya jiwa di hadapan Allah.”

Artinya: hati tidak melayang, pikiran tidak berkelana, dan tubuh tidak gelisah.

Sholat bukan sekadar gerakan fisik, melainkan perjumpaan ruhani.

2. Tafsir Al-Baghawi

Al-Baghawi menyebut:
“Khusyuk adalah rasa takut yang bercampur pengagungan.”

Takut yang melahirkan adab, dan cinta yang melahirkan ketenangan.

Dimensi Sufistik: Sholat Sebagai Mi’raj Ruhani

Para ulama tasawuf memandang sholat sebagai mi’raj orang beriman.

Imam Al-Ghazali Rahimahullah dalam Ihya’ Ulumiddin menegaskan:
“Sholat tanpa khusyuk adalah jasad tanpa ruh.”

Sholat yang sempurna memiliki tiga lapisan:

1. Kehadiran tubuh – berdiri, rukuk, sujud secara benar

2. Kehadiran akal – memahami bacaan

3. Kehadiran hati – merasa diawasi (muraqabah)

Tanpa lapisan ketiga, sholat hanya rutinitas kosong.

Hikmah Agung QS. Al-Mu’minun 1–2

1. Sholat Adalah Ukuran Iman

Ayat ini tidak menyebut amal sosial, harta atau jihad terlebih dahulu, tetapi sholat. Ini menunjukkan:

Kualitas iman tercermin dari kualitas sholat.

2. Khusyuk Adalah Penjaga dari Maksiat

Sholat yang khusyuk melahirkan efek nyata:

 إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ
“Sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45).

Jika sholat tidak mencegah maksiat, maka yang rusak bukan syariatnya, tetapi kekhusyukannya.

3. Kritik Peradaban Modern

Di era modern:

sholat dipercepat

bacaan dipotong

hati sibuk notifikasi dunia.

Manusia berdiri di hadapan Allah, tetapi pikirannya tenggelam dalam dunia.

Ayat ini adalah kritik keras terhadap ibadah yang mekanis dan kehilangan ruh.

Tanda-Tanda Sholat yang Sempurna

Para salaf menyebutkan ciri-ciri sholat yang khusyuk:

1. Hati lembut setelah sholat

2. Dosa terasa berat

3. Dunia terasa kecil

4. Akhlak membaik

5. Takut berbuat maksiat

Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata:
“Khusyuk itu tempatnya di hati, dan buahnya tampak pada perbuatan.”

Penutup: Kemenangan Dimulai dari Sujud

QS. Al-Mu’minun ayat 1–2 mengajarkan bahwa jalan kemenangan umat bukan dimulai dari mimbar kekuasaan, tetapi dari sajadah.

Sholat yang sempurna bukan tentang panjangnya bacaan, tetapi dalamnya kehadiran hati.

Maka setiap kali kita bertakbir, sejatinya kita sedang memilih:

sholat sebagai rutinitas, atau

sholat sebagai jalan menuju keberuntungan abadi.

> “Sungguh telah beruntung orang-orang yang beriman…”
Semoga kita termasuk di dalamnya.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. 
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update