Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gaza dan Luka Kemanusiaan: Solusi Islam Kaffah sebagai Jalan Pembebasan

Senin, 21 Juli 2025 | 17:56 WIB Last Updated 2025-07-21T10:56:13Z

Tintasiyasi.id.com -- Dalam gegap gempita kemajuan peradaban global, ketika negara-negara maju berlomba menunjukkan citra sebagai penjaga hak asasi manusia, ironi paling tragis justru terjadi di Gaza.

Wilayah kecil yang secara geografis terisolasi ini menjadi simbol nyata betapa kemanusiaan sering kali hanya menjadi slogan, bukan prinsip yang sungguh dijaga. Gaza, yang dihuni lebih dari dua juta jiwa dalam ruang yang sempit, telah menjelma menjadi penjara terbuka terbesar di dunia.

Setiap harinya, masyarakat Gaza bergulat dengan ancaman serangan udara, keterbatasan makanan, kelangkaan obat-obatan, dan kehancuran infrastruktur vital. Rumah sakit, sekolah, hingga masjid tak luput dari amukan rudal. 

Blokade darat, laut, dan udara yang diterapkan oleh Israel sejak bertahun-tahun silam, membuat kehidupan di Gaza seperti berjalan di ambang maut. Kondisi ini kian parah seiring ketidakpedulian dunia internasional yang semakin terasa.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada Kamis, 10 Juli 2025 menjadi salah satu bukti nyata kekejaman yang menimpa warga sipil. Sepuluh anak Palestina, yang hanya berharap mendapat layanan medis di klinik Project Hope di Deir al-Balah, justru menemui ajalnya akibat serangan militer Israel. 

Tragedi ini dilaporkan oleh jurnalis Rahma Dwi Safitri di Tirto.id (11 Juli 2025) yang menyoroti bahwa serangan tersebut terjadi saat anak-anak itu sedang mengantre dengan tenang—sebuah kejadian yang tak hanya menghancurkan nyawa, tetapi juga merobek nurani siapa pun yang menyaksikannya.

Kekejaman tersebut tak berhenti di sana. Media Republika juga mengangkat laporan serupa yang menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari pola kekerasan yang menyasar infrastruktur sipil secara sistematis (Republika.co.id, 11 Juli 2025).

Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa yang terjadi di Gaza bukan konflik bersenjata biasa, tetapi genosida politik yang terorganisir dan terstruktur.

Lebih memprihatinkan lagi, Gaza disebut oleh banyak analis sebagai ladang eksperimen militer Israel. Senjata-senjata baru, seperti drone bersenjata, peluru berpemandu, hingga bom termobarik dikabarkan diuji langsung terhadap populasi sipil.

Gazamedia.net bahkan melaporkan bahwa keberadaan teknologi-teknologi ini bukan sekadar pertahanan, melainkan bagian dari sistematisasi pembunuhan massal.
Tragedi ini menjadi lebih parah dengan keterlibatan kekuatan-kekuatan besar dunia. 

Amerika Serikat, misalnya, tidak hanya memberi dana bantuan militer kepada Israel, tetapi juga menunjukkan tindakan represif terhadap siapa pun yang berani mengungkap kejahatan ini. 

Francesca Albanese, Pelapor Khusus PBB untuk wilayah pendudukan Palestina, menjadi contoh nyata. Setelah dengan berani menyuarakan bahwa yang terjadi di Gaza adalah bentuk genosida dan mengkritik perusahaan raksasa seperti Amazon, Google, dan Microsoft, ia justru dikenai sanksi oleh pemerintah AS (Liputan6.com, 13 Juli 2025).

Sementara itu, para pemimpin dunia Islam justru memilih diam. Beberapa bahkan telah menjalin kerja sama terbuka dengan Israel, baik dalam bidang ekonomi, politik, maupun militer. Mereka tidak hanya gagal menunaikan amanah sebagai pelindung umat, tetapi juga terlibat dalam normalisasi hubungan dengan penjajah, yang pada akhirnya menguntungkan entitas Zionis.

Upaya diplomasi internasional selama ini melalui konferensi perdamaian, resolusi PBB, hingga seruan pembentukan dua negara, terbukti tidak menghasilkan solusi yang nyata. Justru pendekatan ini kerap dijadikan alat untuk menenangkan opini publik sambil membiarkan kezaliman terus berlangsung.

Sistem demokrasi internasional juga menunjukkan bias yang mendalam. Saat Hamas menang dalam pemilu Palestina tahun 2006, hasil tersebut justru ditolak oleh negara-negara Barat dengan dalih keamanan dan stabilitas.

Solusi Islam

Semua ini mengindikasikan bahwa umat Islam tidak bisa terus berharap pada solusi yang ditawarkan oleh sistem sekuler global. Solusi sejati harus datang dari paradigma yang berbeda yakni Islam kaffah, yang tidak hanya menjadi panduan spiritual, tetapi juga sistem hidup menyeluruh yang mampu mengatur urusan umat secara komprehensif.

Islam memiliki sejarah panjang dalam menghadirkan keadilan dan pembebasan, seperti yang dicontohkan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi saat membebaskan Al-Quds tanpa negosiasi yang melelahkan, melainkan melalui kekuatan iman dan strategi militer Islam.

Islam kaffah bukan sekadar wacana historis, melainkan sistem nyata yang pernah menguasai dunia selama lebih dari 13 abad. Dalam sistem khilafah, kekuatan umat disatukan di bawah satu kepemimpinan yang adil, dan jihad bukan tindakan anarkis, melainkan mekanisme resmi negara untuk membela umat dari penjajahan. 

Tanpa institusi khilafah, umat Islam hanya menjadi sekumpulan negara kecil yang mudah dipecah belah dan dikuasai oleh kepentingan asing.

Namun, untuk menegakkan khilafah dan jihad sebagai pilar pembebasan, langkah pertama yang harus diambil adalah membangun kesadaran umat melalui dakwah ideologis. Dakwah ini harus mengakar pada metode perjuangan Rasulullah saw, yakni membangun opini umum di tengah masyarakat hingga mayoritas umat memiliki kesadaran politik dan keberanian untuk memperjuangkan perubahan sistemik.

Dakwah ini bukan sekadar retorika, tetapi misi suci untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam yang telah lama terkubur.
Kini, kita menghadapi pilihan sejarah: terus bertahan dalam sistem buatan penjajah yang telah gagal membela Gaza, atau bergerak menuju solusi ideologis yang bersumber dari Islam itu sendiri.

Perjuangan untuk membebaskan Palestina tidak akan berhasil tanpa perubahan sistemik. Maka, mari kita kuatkan barisan perjuangan, satukan suara dakwah, dan wujudkan kembali Islam kaffah sebagai solusi hakiki bagi seluruh umat manusia.

Allah telah menjanjikan kemenangan bagi mereka yang menegakkan agama-Nya sepenuhnya. Maka yakinlah, kemenangan itu pasti datang kepada mereka yang istiqamah di jalan-Nya.[]

Oleh: Ummu Khawlah
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update