Tintasiyasi.ID -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto menilai kemarahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada negara anggota BRICS lantaran mengganggu hegemoni AS dari segi politik, ekonomi, dan teknologi.
"Kemarahan Amerika harus dibaca sebagai kemarahan
dari sebuah negara raksasa selama ini yang terusik hagemoninya. Semenjak
beberapa waktu terakhir ini hegemoni Amerika mulai terkikis, secara ekonomi ada
rival sangat tangguh yaitu China, secara politik ada Rusia, kemudian secara
teknologi khususnya IT ada India," ucapnya di kanal YouTube UIY
Official; BRICS dan Ancaman Tarif Trump, Indonesia Keok?, Jumat (18/07/2025).
Ia memandang bagaimana rasanya menjadi AS menyaksikan negara-negara yang menjadi
rival di dalam aspek tertentu, namun
bergabung. "BRICS ini akan menjadi sesuatu kekuatan yang luar biasa secara
ekonomi, secara pasar, secara teknilogi, dan pada akhirnya mungkin juga secara
politik," ujarnya.
Lebih lanjut, lantas kemarahan Trump kepada negara
anggota BEICS diwujudkan dengan ancaman untuk membuat orang atau sebuah negara
menjadi takluk. “Namun, ancaman tersebut tidak berpengaruh terhadap Cina,”
tandasnya.
"Ancaman terhadap China misalnya itu kan
diabaikan, malah China balas mengancam. Kata Jinping, Trump hanya menggoyang
ember, sementara kami punya lautan. Itukan sebuah ungkapan yang gagah,"
terangnya.
"Artinya jika pun Trump mengganggu itu hanya
seukuran ember, sementara lautan dijaga oleh dia," tambahnya.
Alhasil, UIY memandang Indonesia bukanlah negara
layaknya China, Rusia, ataupun India. “Indonesia negara secara demografi cukup
besar tetapi secara teknologi dan pasar masih bergantung kepada Amerika,”
ucapnya menyayangkan.
"Saya kira itulah mengapa Presiden Prabowo
mengutus Menko untuk melakukan negosiasi dan kita dengarkan ada satu imbal
balik yang harus dibayar oleh Indonesia, di antaranya dengan menyerap minyak
kemudian produk-produk dari Amerika," jelasnya.
"Artinya ini sebuah problem, Amerika juga
problem. Yang terpenting itu bagaimana Indonesia memiliki bargaining power.
Inikan saling menunggu. Contohnya China menunggu, tetapi kemudian melihat bahwa
Amerika tidak sekuat yang dia perkirakan ketika dia berhadapan dengan
China," pungkasnya.[] Taufan