Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

UIY: Trump Marah dengan BRICS karena Terusik Hegemoninya

Senin, 21 Juli 2025 | 21:57 WIB Last Updated 2025-07-21T14:57:25Z

Tintasiyasi.ID -- Cendekiawan Muslim Ustaz Ismail Yusanto menilai kemarahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada negara anggota BRICS lantaran mengganggu hegemoni AS dari segi politik, ekonomi, dan teknologi.

 

"Kemarahan Amerika harus dibaca sebagai kemarahan dari sebuah negara raksasa selama ini yang terusik hagemoninya. Semenjak beberapa waktu terakhir ini hegemoni Amerika mulai terkikis, secara ekonomi ada rival sangat tangguh yaitu China, secara politik ada Rusia, kemudian secara teknologi khususnya IT ada India," ucapnya di kanal YouTube UIY Official; BRICS dan Ancaman Tarif Trump, Indonesia Keok?, Jumat (18/07/2025).

 

Ia memandang bagaimana rasanya menjadi  AS menyaksikan negara-negara yang menjadi rival di dalam aspek tertentu,  namun bergabung. "BRICS ini akan menjadi sesuatu kekuatan yang luar biasa secara ekonomi, secara pasar, secara teknilogi, dan pada akhirnya mungkin juga secara politik," ujarnya.

 

Lebih lanjut, lantas kemarahan Trump kepada negara anggota BEICS diwujudkan dengan ancaman untuk membuat orang atau sebuah negara menjadi takluk. “Namun, ancaman tersebut tidak berpengaruh terhadap Cina,” tandasnya.

 

"Ancaman terhadap China misalnya itu kan diabaikan, malah China balas mengancam. Kata Jinping, Trump hanya menggoyang ember, sementara kami punya lautan. Itukan sebuah ungkapan yang gagah," terangnya.

 

"Artinya jika pun Trump mengganggu itu hanya seukuran ember, sementara lautan dijaga oleh dia," tambahnya.

 

Alhasil, UIY memandang Indonesia bukanlah negara layaknya China, Rusia, ataupun India. “Indonesia negara secara demografi cukup besar tetapi secara teknologi dan pasar masih bergantung kepada Amerika,” ucapnya menyayangkan.

 

"Saya kira itulah mengapa Presiden Prabowo mengutus Menko untuk melakukan negosiasi dan kita dengarkan ada satu imbal balik yang harus dibayar oleh Indonesia, di antaranya dengan menyerap minyak kemudian produk-produk dari Amerika," jelasnya.

 

"Artinya ini sebuah problem, Amerika juga problem. Yang terpenting itu bagaimana Indonesia memiliki bargaining power. Inikan saling menunggu. Contohnya China menunggu, tetapi kemudian melihat bahwa Amerika tidak sekuat yang dia perkirakan ketika dia berhadapan dengan China,"  pungkasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update