TintaSiyasi.id -- Dalam perspektif tasawuf, tidak semua keinginan yang muncul dalam hati layak diikuti. Ada keinginan yang tampak baik secara lahiriah, tetapi jika ia mendorong seorang hamba untuk menyelisihi ketentuan Allah Swt., maka sesungguhnya ia sedang mengikuti dorongan hawa nafsunya.
Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam mengingatkan tentang bahaya keinginan yang tidak tunduk kepada kehendak Allah. Inti hikmahnya adalah bahwa hawa nafsu tidak selalu hadir dalam bentuk dosa yang jelas; ia juga dapat bersembunyi di balik keinginan yang menurut kita baik, tetapi bertentangan dengan syariat dan ketentuan Allah.
Allah Swt. berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”
(QS. Al-Ahzab: 36).
Ayat ini mengajarkan sebuah adab spiritual yang sangat tinggi: ketika ketentuan Allah telah jelas, seorang mukmin tidak menempatkan keinginannya sebagai hakim di atas wahyu. Keinginan harus tunduk kepada syariat, bukan syariat yang dipaksa mengikuti keinginan.
1. Syahwat tidak selalu berbentuk kenikmatan dunia
Ketika mendengar kata syahwat, kita sering membayangkan harta, makanan, kedudukan, popularitas atau kenikmatan jasmani.
Padahal, ada bentuk syahwat yang jauh lebih halus: keinginan agar sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak diri, meskipun Allah tidak menetapkannya demikian.
Misalnya:
• ingin memperoleh sesuatu dengan cara yang diharamkan
• ingin mempertahankan hubungan yang sebenarnya harus ditinggalkan
• ingin mendapatkan kedudukan dengan mengorbankan prinsip agama
• ingin dipuji dan diakui dalam amal
• ingin menang dalam perdebatan meskipun harus merendahkan orang lain
• ingin mengikuti pendapat pribadi meskipun bertentangan dengan dalil yang telah jelas.
Secara lahiriah mungkin tampak sebagai "keinginan biasa". Tetapi secara batin, ia dapat menjadi perlawanan halus terhadap ketundukan kepada Allah.
2. Ukuran seorang hamba bukan "apa yang saya inginkan?"
Pertanyaan seorang hamba bukan hanya:
"Apa yang saya inginkan?"
Tetapi lebih tinggi:
"Apa yang Allah kehendaki dari saya?"
Di sinilah letak perbedaan antara orang yang mengikuti hawa nafsu dan orang yang sedang menempuh jalan menuju Allah.
Hawa nafsu berkata:
Saya ingin ini, maka saya akan mencarinya.
Keimanan berkata:
Apabila ini halal dan diridai Allah, saya akan mengambilnya. Jika Allah melarangnya, saya akan meninggalkannya meskipun hati saya menginginkannya.
Inilah hakikat 'ubudiyyah: menjadikan Allah sebagai tujuan dan syariat-Nya sebagai pedoman.
3. Tidak semua yang kita inginkan baik bagi kita
Allah Swt. berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216).
Ayat ini mendidik hati agar tidak menjadikan perasaan pribadi sebagai ukuran mutlak kebenaran.
Apa yang kita sukai belum tentu baik.
Apa yang kita benci belum tentu buruk.
Apa yang kita inginkan belum tentu harus kita dapatkan.
Dan apa yang Allah takdirkan tidak selalu langsung kita pahami hikmahnya.
Karena itu, seorang hamba belajar mengatakan:
"Ya Allah, aku mungkin menginginkan sesuatu, tetapi Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik bagiku."
4. Mujahadah terbesar adalah menundukkan keinginan
Membersihkan hati bukan berarti manusia tidak boleh memiliki keinginan. Islam tidak memerintahkan manusia untuk menghilangkan seluruh keinginan duniawi.
Yang harus dilakukan adalah menundukkan keinginan kepada iman dan syariat.
Keinginan menjadi bernilai ibadah ketika diarahkan kepada sesuatu yang halal dan diridai Allah. Sebaliknya, keinginan dapat menjadi hijab ketika ia membuat seseorang
lebih mencintai keinginannya daripada ketaatan kepada Allah.
Karena itu, mujahadah an-nafs bukan sekadar melawan dosa yang tampak. Ia juga berarti mendidik hati agar mampu berkata "tidak" kepada diri sendiri ketika "ya" kepada diri sendiri berarti "tidak" kepada Allah.
5. Tanda hati mulai matang secara spiritual
Salah satu tanda kematangan ruhani adalah ketika seseorang tidak lagi menjadikan tercapainya keinginan sebagai ukuran kebahagiaan.
Ia berusaha, berdoa, dan berharap.
Namun, setelah itu ia menyerahkan hasil kepada Allah.
Jika mendapatkan apa yang diinginkan, ia bersyukur.
Jika tidak mendapatkannya, ia tetap percaya kepada Allah.
Jika harus menunggu, ia bersabar.
Jika harus melepaskan, ia belajar ridha.
Jika ternyata keinginannya bertentangan dengan syariat, ia meninggalkannya demi Allah.
Inilah kemenangan yang sebenarnya: bukan selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi mampu menginginkan apa yang Allah ridhai.
6. Muhasabah hati
Sebelum mengikuti sebuah keinginan, tanyakan kepada diri sendiri:
1. Apakah keinginan ini halal?
2. Apakah cara mendapatkannya dibenarkan syariat?
3. Apakah keinginan ini mendekatkan saya kepada Allah atau menjauhkan saya dari-Nya?
4. Apakah saya menginginkannya karena Allah atau karena ego dan gengsi?
5. Jika Allah tidak memberikannya, apakah saya tetap ridha kepada-Nya?
6. Jika keinginan ini harus saya tinggalkan demi ketaatan, apakah saya mampu melepaskannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi cermin untuk melihat syahwat yang tersembunyi di dalam hati.
Penutup
Jalan menuju Allah bukan jalan untuk mendapatkan seluruh yang kita inginkan. Jalan menuju Allah adalah perjalanan mengubah keinginan kita sehingga semakin sesuai dengan apa yang Allah cintai dan ridhai.
Hati yang masih dikuasai hawa nafsu berkata:
"Aku ingin, maka harus terjadi."
Hati yang mulai mengenal Allah berkata:
"Aku ingin, tetapi aku tunduk kepada-Mu."
Dan hati yang semakin matang berkata:
"Ya Allah, berikan kepadaku bukan sekadar apa yang kuinginkan, tetapi apa yang Engkau ridhai. Jadikan keinginanku mengikuti petunjuk-Mu, bukan petunjuk-Mu mengikuti keinginanku."
Itulah salah satu makna terdalam dari perjalanan tazkiyatun nafs: bukan mematikan keinginan manusia, tetapi menundukkan keinginan kepada Allah hingga hawa nafsu tidak lagi menjadi tuan, melainkan menjadi sesuatu yang dididik oleh iman dan syariat.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Pengasuh Pesantren Digital dan Entrepreneurship Fikrul Mustanir