“Sebelum ingin membentuk
seseorang menjadi lebih baik, kita sendiri perlu membina diri kita agar menjadi
lebih baik dan berilmu. Jadi, penting bagi seorang Muslimah untuk memiliki ilmu
terlebih dahulu dan membentuk dirinya sendiri, barulah dia dapat membentuk anak
dan keluarganya,” katanya saat menjelaskan topik Muslimah Sebagai Penggerak
Umat dalam program talk show Being an Amazing Ummah Today yang
berlangsung di Perak, Malaysia, Senin (24/08/2026).
Menurutnya, beragam tantangan
yang dihadapi perempuan saat ini bukan berarti mereka harus melakukan segala
hal dalam upaya menjalankan perannya di masyarakat.
“Tetapi bagaimana perempuan
menjadi penggerak perubahan dengan iman, ilmu, dan juga hikmah,” jelasnya.
Ia melanjutkan, “Kalau kita lihat
sekarang, di zaman kapitalisme ini, manusia memang seolah ‘diciptakan’ agar
pandai melakukan semua hal. Kalau bisa, apa yang laki-laki bisa lakukan,
perempuan juga ingin melakukannya. Betul, kan? Tidak salah. Tetapi jangan
sampai kita melupakan hak dan tanggung jawab kita.”
Dalam membina diri seorang Muslimah,
ia menempatkan iman sebagai fondasi jati diri yang perlu ditanamkan dengan kuat
sejak kecil hingga tertanam dalam pemikiran seseorang.
“Jadi, ketika dia tumbuh dalam
lingkungan atau landasan keimanan serta pengajaran yang benar, dan dididik
sejak kecil hingga dewasa, maka apa pun yang datang, ujian maupun tantangan
dari luar, dia akan kuat untuk tetap berpegang teguh pada ajaran Islam,”
paparnya.
“Kalau kita ingin melakukan
sesuatu, terutama menjadi penggerak umat, iman itu harus tertanam dalam hati
kita untuk selamanya. Sebab, kalau keimanan kita kepada Allah kuat, 100 persen,
tidak akan ada keraguan. Apa saja yang Allah katakan boleh dilakukan, lakukan.
Tetapi kalau Allah mengatakan tidak boleh, maka tidak boleh dilakukan,”
sambungnya.
Setelah iman, aktivis yang
menetap di Mesir itu juga menyebut ilmu sebagai pedoman dan menyerukan kepada
para ibu serta calon istri untuk mencari kesempatan mengikuti berbagai kajian
agar memiliki pengetahuan yang cukup untuk membina diri dan mendidik keluarga.
“Kalau kita tidak memiliki ilmu,
bagaimana kita bisa memotivasi keluarga dan juga masyarakat? Jadi, kita harus
memiliki ilmu itu, kemudian kita perlu mempraktikkannya. Kita praktikkan
terlebih dahulu pada diri kita sendiri,” ujarnya.
Ia turut menyebut bahwa keluarga
sebagai tempat pertama dalam membangun umat karena rumah merupakan tempat awal
bagi anak untuk belajar melalui apa yang mereka lihat dan teladani dari kedua
orang tuanya.
“Bagaimana kita memperlakukan anak-anak
kita, mendidik mereka sesuai dengan cara pendidikan yang diajarkan Rasulullah
kepada anak-anak. Kalau ibunya selalu salat, ibu dan ayahnya selalu salat dan
pergi ke masjid, maka anak akan melihat dan mengikutinya,” jelasnya.
Dalam menghadapi perkembangan
zaman, Norafidah mengatakan bahwa Muslimah perlu menguasai pengetahuan terkait
teknologi agar mampu memahami persoalan anak-anak yang semakin terpapar media
sosial.
“Kalau anak kita sering melihat TikTok,
ibunya juga harus tahu bagaimana TikTok itu dan apa saja isinya. Kalau
anak-anak remaja kita melihat TikTok, apa yang mereka tonton dan tren apa yang
mereka ikuti. Hal-hal seperti itulah yang tidak kita inginkan,” katanya,
mengingatkan tentang tantangan konten di dunia media sosial saat ini.
Ia turut menekankan pentingnya
memilih lingkungan pertemanan. “Dengan siapa seseorang berteman dan bergaul
memainkan peran dalam menentukan arah serta tindakan seseorang, di mana pun ia
berada,” luganya.
Ia mencontohkan pengalamannya di
Al-Azhar, “Mereka juga merupakan penggerak umat dan para pendakwah. Mereka juga
memahami tanggung jawab sebagai seorang Muslimah yang perlu menjadi penggerak
umat, perlu berdakwah kepada masyarakat, dan terjun langsung ke tengah
masyarakat. Jadi, karena saya banyak berteman dengan mereka, saya pun ikut
terdorong untuk bangkit bersama-sama, bergerak, dan membangun masyarakat.”
Pada akhir penyampaiannya, ia
menegaskan bahwa Muslimah penggerak umat bukanlah perempuan yang sempurna,
melainkan mereka yang senantiasa memperbaiki diri.
“Saya beri contoh diri saya
sendiri. Dulu saya juga pernah mengajar, tetapi sampai sekarang, kalau ada
kelas saya tetap akan ikut. Dan saya akan menganggap diri saya benar-benar
mulai dari nol,” tuturnya.