Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Aktivis: Muslimah, Pedulilah Urusan Umat

Rabu, 09 September 2026 | 18:01 WIB Last Updated 2026-09-09T11:01:12Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia Norfaizah Abdul Rahman menegaskan bahwa sebagai bagian dari umat, peran seorang Muslimah tidak berhenti sebagai ibu, istri, atau anak saja, melainkan mencakup kepedulian terhadap urusan umat secara keseluruhan.

 

“Kita bukan sekadar seorang ibu, kita bukan sekadar seorang istri, dan kita juga bukan sekadar seorang anak, tetapi kita juga adalah bagian dari umat. Dan karena kita adalah bagian dari umat, maka apa yang terjadi kepada umat ini juga merupakan urusan kita,” katanya dalam program talk show Being an Amazing Ummah Today yang berlangsung di Perak, Malaysia, Senin (24/08/2026).

 

Ia mengatakan, keadaan pemikiran masyarakat yang semakin materialistis dan individualistis,  menuntut Muslimah agar tidak menganggap politik serta persoalan umat sebagai perkara yang berada di luar ruang tanggung jawab mereka.

 

“Untuk kita peduli, mau tidak mau memang kita harus tahu apa yang sedang terjadi agar kita dapat memainkan peran dalam menyelesaikan masalah,” jelasnya.

 

Norfaizah turut membedakan antara sekadar mengetahui suatu isu dan benar-benar memahaminya, termasuk mengingatkan masyarakat agar tidak hanya bergantung pada judul berita karena hal itu dapat menimbulkan kesalahpahaman.

 

“Itu berita yang menceritakan tentang botol minuman ada narkoba, mengandung narkoba, langsung disampaikan kepada orang, ‘Jangan minum air ini, air ini ada narkoba’. Padahal, sebenarnya polisi ingin menceritakan tentang penyitaan narkoba yang ada di dalam botol minuman, disembunyikan di dalam botol minuman, bukan airnya,” ujarnya mencontohkan.

 

Relevansinya dengan konteks kesadaran geopolitik, ia menjelaskan, umat memerlukan pemahaman dan kesadaran geopolitik yang benar.

 

“Geopolitik adalah bagaimana kedudukan sebuah negara, sumber kekayaan, kekuatan, dan kepentingannya memengaruhi tindakan serta hubungan politik antarnegara. Jadi, bila kita menyebut politik, janganlah dalam kepala kita itu ada rasa berat,” jelasnya.

 

“Kita sekarang sebenarnya berada pada zaman yang beruntung karena kita memiliki banyak sumber untuk kita dapatkan. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan kalau kita menggunakan teknologi itu dengan benar,” sambungnya.

 

Kesadaran geopolitik, menurutnya, perlu bergerak lebih jauh daripada sekadar mengetahui apa yang terjadi, yakni dengan mulai mempertanyakan penyebab suatu peristiwa, pihak yang mempunyai kepentingan, serta bagaimana Islam memandang persoalan tersebut.

 

“Jadi, kita bergerak dari sekadar membaca berita kepada membaca apa yang berada di balik berita, menggali lagi cerita yang terjadi di balik layar, bukannya pada judulnya ataupun pada permukaannya saja,” jelasnya lagi.

 

“Kita harus membawa kesadaran itu masuk ke dalam keluarga, berbicara dengan anak-anak tentang umat,” tandasnya.

 

Norfaizah menegaskan bahwa membawa kesadaran ke dalam keluarga bukan berarti mengabaikan masyarakat setempat, melainkan memperluas kepedulian agar turut mencakup keadaan umat Islam di luar lingkungan sendiri.

 

“Kita tidak ingin anak kita itu tumbuh menjadi seseorang yang hanya pandai menjawab soal ujian saja. Kita ingin anak kita juga pandai bertanya tentang dunia,” ujarnya.

 

Dalam mengembangkan kesadaran kepada masyarakat, ia mengatakan, apa yang telah dipahami dapat disampaikan melalui percakapan, penulisan, program keilmuan, serta usaha amar makruf nahi mungkar.

 

“Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar,” katanya membacakan arti Surah At-Taubah ayat 71 sebagai pengingat bahwa tanggung jawab terhadap masyarakat tidak dikhususkan kepada laki-laki, melainkan turut dipikul oleh perempuan yang beriman.

 

Sebagai penutup, ia menitipkan pesan agar para hadirin pulang dengan perubahan cara berpikir bahwa penggerak umat tidak lahir dari Muslimah yang hanya sibuk dengan diri sendiri, melainkan mereka yang turut memikirkan keadaan umat.

 

“Kita memang harus menjadi istri yang baik, harus menjadi ibu yang baik, orang yang taat kepada agama, dan sebagainya. Tetapi, jangan berhenti sampai di situ saja, karena di luar rumah, di luar diri kita ini, ada umat yang sedang menunggu perubahan. Ada umat yang memerlukan kita untuk kita pikirkan jalan keluarnya, bagaimana membebaskan mereka dari masalah-masalah,” tegasnya mengingatkan.[] Aliya Ab Aziz

Opini

×
Berita Terbaru Update