“Kita bukan sekadar seorang ibu,
kita bukan sekadar seorang istri, dan kita juga bukan sekadar seorang anak,
tetapi kita juga adalah bagian dari umat. Dan karena kita adalah bagian dari
umat, maka apa yang terjadi kepada umat ini juga merupakan urusan kita,”
katanya dalam program talk show Being an Amazing Ummah Today yang
berlangsung di Perak, Malaysia, Senin (24/08/2026).
Ia mengatakan, keadaan pemikiran
masyarakat yang semakin materialistis dan individualistis, menuntut Muslimah agar tidak menganggap
politik serta persoalan umat sebagai perkara yang berada di luar ruang tanggung
jawab mereka.
“Untuk kita peduli, mau tidak mau
memang kita harus tahu apa yang sedang terjadi agar kita dapat memainkan peran
dalam menyelesaikan masalah,” jelasnya.
Norfaizah turut membedakan antara
sekadar mengetahui suatu isu dan benar-benar memahaminya, termasuk mengingatkan
masyarakat agar tidak hanya bergantung pada judul berita karena hal itu dapat
menimbulkan kesalahpahaman.
“Itu berita yang menceritakan tentang botol
minuman ada narkoba, mengandung narkoba, langsung disampaikan kepada orang, ‘Jangan
minum air ini, air ini ada narkoba’. Padahal, sebenarnya polisi ingin
menceritakan tentang penyitaan narkoba yang ada di dalam botol minuman,
disembunyikan di dalam botol minuman, bukan airnya,” ujarnya mencontohkan.
Relevansinya dengan konteks
kesadaran geopolitik, ia menjelaskan, umat memerlukan pemahaman dan kesadaran
geopolitik yang benar.
“Geopolitik adalah bagaimana
kedudukan sebuah negara, sumber kekayaan, kekuatan, dan kepentingannya
memengaruhi tindakan serta hubungan politik antarnegara. Jadi, bila kita
menyebut politik, janganlah dalam kepala kita itu ada rasa berat,” jelasnya.
“Kita sekarang sebenarnya berada
pada zaman yang beruntung karena kita memiliki banyak sumber untuk kita
dapatkan. Ada banyak hal yang bisa kita dapatkan kalau kita menggunakan
teknologi itu dengan benar,” sambungnya.
Kesadaran geopolitik, menurutnya,
perlu bergerak lebih jauh daripada sekadar mengetahui apa yang terjadi, yakni
dengan mulai mempertanyakan penyebab suatu peristiwa, pihak yang mempunyai
kepentingan, serta bagaimana Islam memandang persoalan tersebut.
“Jadi, kita bergerak dari sekadar
membaca berita kepada membaca apa yang berada di balik berita, menggali lagi
cerita yang terjadi di balik layar, bukannya pada judulnya ataupun pada
permukaannya saja,” jelasnya lagi.
“Kita harus membawa kesadaran itu
masuk ke dalam keluarga, berbicara dengan anak-anak tentang umat,” tandasnya.
Norfaizah menegaskan bahwa
membawa kesadaran ke dalam keluarga bukan berarti mengabaikan masyarakat
setempat, melainkan memperluas kepedulian agar turut mencakup keadaan umat
Islam di luar lingkungan sendiri.
“Kita tidak ingin anak kita itu
tumbuh menjadi seseorang yang hanya pandai menjawab soal ujian saja. Kita ingin
anak kita juga pandai bertanya tentang dunia,” ujarnya.
Dalam mengembangkan kesadaran
kepada masyarakat, ia mengatakan, apa yang telah dipahami dapat disampaikan
melalui percakapan, penulisan, program keilmuan, serta usaha amar makruf nahi
mungkar.
“Orang-orang yang beriman,
laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang
lain, mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar,”
katanya membacakan arti Surah At-Taubah ayat 71 sebagai pengingat bahwa
tanggung jawab terhadap masyarakat tidak dikhususkan kepada laki-laki,
melainkan turut dipikul oleh perempuan yang beriman.
Sebagai penutup, ia menitipkan
pesan agar para hadirin pulang dengan perubahan cara berpikir bahwa penggerak
umat tidak lahir dari Muslimah yang hanya sibuk dengan diri sendiri, melainkan
mereka yang turut memikirkan keadaan umat.