Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengapa Harus Terbit ‘Islam Ala Prabowo’?

Minggu, 13 September 2026 | 18:00 WIB Last Updated 2026-09-13T11:00:38Z

Tintasiyasi.id.com -- Beberapa pekan terakhir, jagat maya dibuat ramai oleh pemberitaan terkait buku ‘Islam ala Prabowo.’ Buku yang terbit tahun 2025 tersebut menjadi pembicaraan pada September 2026 setelah resmi diluncurkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). 

Buku dengan judul ‘Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam’ ini mengulas sisi keislaman Prabowo Subianto, mulai dari kehidupan pribadi, karir militernya, hingga kiprahnya sebagai Presiden RI. 

Buku setebal hamper 400 halaman tersebut juga memuat kesaksian serta pandangan sejumlah tokoh mengenai Prabowo dalam mengamalkan ajaran Islam (@Trenggaleknowdaily/6/9/2026)

Jika kita mengikuti isi buku yang banyak dibahas dalam laman media online, maka akan terlihat bagaimana orang-orang yang berkobtribusi dalam penyusunan dan penerbitan buku tersebut sedang hendak membangun narasi cantik tentang kehidupan Prabowo. 

Seakan Prabowo adalah sosok spesial yang mencerminkan pengamalan Islam dalam kehidupannya. Meskipun faktanya, antara isi buku dengan realitas kehidupan Prabowo sungguh sangat jauh di’relate’kan. Secara realitas, halayak telah melihat bagaimana sosok Prabowo yang jauh dari kata ‘agamis’ apalagi mengamalkan Islam dalam kehidupannya.

Tak hanya itu, melihat sisi judul saja, kita telah diajak untuk membangun mindset bahwa Islam harus diberi label ‘ala siapa’. Padahal sejak Islam diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Muhammad Shallaahu ‘alaihi wasallam, tidak ada label Islam ala Muhammad. 

Meskipun Rasulullah adalah orang nomor 1 di dunia yang menjadi ‘Uswatun Hasanah’ bagi pengamalan Islam itu sendiri. Yang ada adalah sumber hukum Islam yang wajib menjadi rujukan bagi setiap umatnya dalam beramal yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah. 

Artinya, dari judul bukunya saja, Islam ala Prabowo jelas telah merusak dan menyesatkan ‘mindset’ kita sebagai muslim terkait Islam sebagai agama dan aturan hidup yang tidak pernah disematkan label apapun. Karena Islam itu hanya ada satu, yaitu Islam saja. Tanpa label apapun.

Lalu, mengapa harus terbit buku Islam ala Prabowo ini?, jelas ini telah mendiskreditkan Islam. Islam justru diberi cap berdasarkan siapa yang yang sedang berkuasa. Padahal, sepanjang sejarah peradaban Islam, meskipun Khulafa ar Rasyidin adalah sosok-sosok pemimpin yang paling baik dalam mengikuti Rasul-Nya. Tetapi, tidak ada yang melabeli Islam dengan nama-nama mereka. Misalnya, Islam ala Abu Bakar, atau Islam ala Umar. 

Maka, jangan sampai agama malah dijadikan sebagai alat politik demi kepentingan ‘busuk’ yang diberi label Islam. Karena seharusnya, Islam bukan menjadi alat, tetapi Islamlah yang menjadi dasar bagi sistem kepemimpinan yang ada. 

Islam hadir sebagai Kompas bagi berjalannya pemerintahan, bukan sebaliknya. Islam justru diputar, diplintir, dijadikan alat legitimasi sikap pemimpin yang jelas realitasnya penuh dengan kezaliman dan anti ktirik

Oleh karena itulah, wajar jika muncul banyak kritik dan polemik dari para tokoh agama, termasuk tokoh yang dimasukkan namanya di dalam buku tersebut. Dan sikap kita sebagai muslim yang hidup di negeri ini, jelas memiliki kewajiban untuk mambangun opini Islam sebagai agama sekaligus aturan hidup yang sempurna. 

Di mana Islam secara definisi adalah agama yang Allah turunkan kepada Rasulullah Muhammad melalui malaikat Jibril As dalam rangka mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya di antara manusia yang lain. (kitab ‘Nizam al-Islam’, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani)

Maka sudah saatnya para tokoh tidak hanya sibuk berdebat dan berpolemik terkait buku ‘Islam ala Prabowo’ ini. Namun, sibuklah membangun dan menyadarkan umat Islam tentang agamanya. 

Berhentilah mencari pengakuan dari para penguasa yang sedang berkuasa hingga tidak ‘jijik’ menjilatnya demi dunia. Bersatulah para tokoh agama untuk mengembalikan Islam sebagai landasan politik bukan hanya berhenti dalam ruang spiritual saja. 

Karena Islam adalah agama sempurna, dengan penerapannya secara sempurna jugalah, akan lahir para pemimpin yang mengikuti jejak kepemimpinan Rasul-Nya. Bukan malah terbalik, Islam yang harus mengikuti keinginan para pemimpin yang sedang berkuasa. Wallahua’lam bishshowwab.[]

Oleh: Yulida Hasanah
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update