Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Krisis Gen Z Bermula Ketika Materi Menjadi Tujuan Hidup

Rabu, 09 September 2026 | 18:10 WIB Last Updated 2026-09-09T11:10:41Z

TintaSiyasi.id -- Aktivis Muslimah Malaysia Norhafizah Abdul Rahman ketika menjelaskan penyebab krisis tujuan hidup di kalangan Gen Z menyatakan bahwa hal itu muncul ketika pendidikan, karier, gaji, harta, dan gaya hidup yang seharusnya menjadi sarana kehidupan berubah menjadi tujuan hidup serta ukuran keberhasilan dan kebahagiaan.

 

“Sejak kecil kita sudah disuruh rajin belajar, untuk apa? Supaya mendapat pekerjaan yang bagus, supaya mendapat gaji yang tinggi, bisa membeli rumah, bisa memiliki mobil, bisa memiliki gaya hidup yang baik. Jadi, semua itu akhirnya dirangkum dalam satu kata, yaitu bahagia,” tuturnya.

 

“Pendidikan, karier, gaji, harta, lifestyle, itulah bahagia, itulah goal-nya. Masalahnya ketika semua itu berubah dari sarana kehidupan menjadi tujuan hidup, di situlah masalahnya,” tegasnya dalam program Open Circle Muslimah bertajuk Kemelut Gen Z dan Solusi Islam pada Ahad (06/09/2026).

 

Norhafizah mengatakan, permasalahan Gen Z tidak hanya berkaitan dengan tekanan ekonomi, tetapi juga mencakup budaya yang membentuk keinginan serta cara berpikir yang menentukan makna kebahagiaan, sehingga memerlukan penyelesaian yang lebih menyeluruh.

 

“Islam juga memberikan pandangan hidup, memberikan aturan kehidupan, dan membentuk lingkungan masyarakat. Jadi, dari sinilah kita harus memulai dari perkara yang paling mendasar terlebih dahulu, yaitu Islam membenahi titik awal,” ujarnya saat menyarankan solusi.

 

Ia kemudian merujuk Surah Az-Zariyat ayat 56 untuk menjelaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk mengejar kekayaan, karier, atau kesenangan semata, bahkan bukan hanya untuk mengejar kebahagiaan di dunia.

 

“Tetapi, manusia diciptakan sebagai hamba Allah untuk menuju akhirat. Dunia ini adalah jalan bagi kita untuk menikmati apa yang telah Allah berikan kepada kita, sebagai jalan bagi kita untuk menambah pahala menuju akhirat, bukan sebagai tujuan hidup kita,” katanya.

 

Dalam membenahi paradigma kehidupan, Norhafizah mengatakan seorang Muslim tidak seharusnya menjadikan perasaan bahagia sebagai penentu tertinggi, sebaliknya perlu mempertanyakan apakah sesuatu yang ingin dicapai mendapat rida Allah.

 

“Bukan berarti Islam tidak memedulikan kebahagiaan, tetapi Islam menempatkan rida Allah lebih tinggi daripada keinginan manusia,” tegasnya.

 

Menurut pendidik tersebut, di antara cara berpikir yang perlu dibebaskan dari Gen Z adalah materialisme yang menjadikan harta sebagai ukuran keberhasilan, serta hedonisme yang menjadikan kesenangan sebagai jalan utama mencari kebahagiaan.

 

Selain itu, ia juga menyoroti bahaya sekularisme yang memisahkan ukuran kehidupan dari pandangan Islam.

 

“Islam datang untuk menempatkan seluruh kehidupan manusia di bawah petunjuk Allah. Pembebasan yang sebenarnya bermula ketika Islam kembali menjadi panduan dalam menentukan tujuan, keberhasilan, dan juga kebahagiaan hidup,” lanjutnya.

 

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu cepat mempertanyakan mengapa Gen Z menjadi seperti sekarang, tetapi mengubah pertanyaan itu dengan melihat seperti apa dunia tempat generasi tersebut dibesarkan.

 

“Karena Gen Z ini, ataupun generasi apa pun, tidak membentuk diri mereka dalam ruang yang kosong. Selalu ada sistem yang mengatur kehidupan mereka, selalu ada budaya yang membentuk keinginan mereka, dan akan selalu ada media yang setiap hari memberi tahu mereka seperti apa rupa kebahagiaan,” pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz

 

  


Opini

×
Berita Terbaru Update