“Sejak kecil kita sudah disuruh
rajin belajar, untuk apa? Supaya mendapat pekerjaan yang bagus, supaya mendapat
gaji yang tinggi, bisa membeli rumah, bisa memiliki mobil, bisa memiliki gaya
hidup yang baik. Jadi, semua itu akhirnya dirangkum dalam satu kata, yaitu
bahagia,” tuturnya.
“Pendidikan, karier, gaji, harta,
lifestyle, itulah bahagia, itulah goal-nya. Masalahnya ketika
semua itu berubah dari sarana kehidupan menjadi tujuan hidup, di situlah
masalahnya,” tegasnya dalam program Open Circle Muslimah bertajuk Kemelut
Gen Z dan Solusi Islam pada Ahad (06/09/2026).
Norhafizah mengatakan,
permasalahan Gen Z tidak hanya berkaitan dengan tekanan ekonomi, tetapi juga
mencakup budaya yang membentuk keinginan serta cara berpikir yang menentukan
makna kebahagiaan, sehingga memerlukan penyelesaian yang lebih menyeluruh.
“Islam juga memberikan pandangan
hidup, memberikan aturan kehidupan, dan membentuk lingkungan masyarakat. Jadi,
dari sinilah kita harus memulai dari perkara yang paling mendasar terlebih
dahulu, yaitu Islam membenahi titik awal,” ujarnya saat menyarankan solusi.
Ia kemudian merujuk Surah
Az-Zariyat ayat 56 untuk menjelaskan bahwa manusia tidak diciptakan untuk
mengejar kekayaan, karier, atau kesenangan semata, bahkan bukan hanya untuk
mengejar kebahagiaan di dunia.
“Tetapi, manusia diciptakan
sebagai hamba Allah untuk menuju akhirat. Dunia ini adalah jalan bagi kita
untuk menikmati apa yang telah Allah berikan kepada kita, sebagai jalan bagi
kita untuk menambah pahala menuju akhirat, bukan sebagai tujuan hidup kita,”
katanya.
Dalam membenahi paradigma
kehidupan, Norhafizah mengatakan seorang Muslim tidak seharusnya menjadikan
perasaan bahagia sebagai penentu tertinggi, sebaliknya perlu mempertanyakan
apakah sesuatu yang ingin dicapai mendapat rida Allah.
“Bukan berarti Islam tidak
memedulikan kebahagiaan, tetapi Islam menempatkan rida Allah lebih tinggi
daripada keinginan manusia,” tegasnya.
Menurut pendidik tersebut, di
antara cara berpikir yang perlu dibebaskan dari Gen Z adalah materialisme yang
menjadikan harta sebagai ukuran keberhasilan, serta hedonisme yang menjadikan
kesenangan sebagai jalan utama mencari kebahagiaan.
Selain itu, ia juga menyoroti
bahaya sekularisme yang memisahkan ukuran kehidupan dari pandangan Islam.
“Islam datang untuk menempatkan
seluruh kehidupan manusia di bawah petunjuk Allah. Pembebasan yang sebenarnya
bermula ketika Islam kembali menjadi panduan dalam menentukan tujuan,
keberhasilan, dan juga kebahagiaan hidup,” lanjutnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar
tidak terlalu cepat mempertanyakan mengapa Gen Z menjadi seperti sekarang,
tetapi mengubah pertanyaan itu dengan melihat seperti apa dunia tempat generasi
tersebut dibesarkan.
“Karena Gen Z ini, ataupun
generasi apa pun, tidak membentuk diri mereka dalam ruang yang kosong. Selalu
ada sistem yang mengatur kehidupan mereka, selalu ada budaya yang membentuk
keinginan mereka, dan akan selalu ada media yang setiap hari memberi tahu
mereka seperti apa rupa kebahagiaan,” pungkasnya.[] Aliya Ab Aziz