“Bagaimana menjadi individu yang
merdeka? Yaitu dengan mengabdikan diri kepada Allah semata. Allah menciptakan
jin dan manusia hanya untuk mengabdi kepada Allah, bukan berbuat sesuka hati.
Kita memiliki tugas, tanggung jawab, dan kewajiban yang harus dilaksanakan,
baik laki-laki maupun perempuan,” katanya.
Ketika mengemukakan ciri-ciri
individu yang merdeka, Farisha membedakan aspek ideologi yang menurutnya
seharusnya menjadi pegangan umat dengan sistem asing yang membentuk kehidupan
mereka.
“Ideologi Islam itulah yang
seharusnya kita anut sekarang, tetapi kita telah dipaksa untuk berada dalam
sistem atau menganut ideologi asing. Apa itu? Ideologi kapitalisme,” jelas
Ia mengaitkan berbagai masalah
yang timbul dari sistem ciptaan manusia dengan keterbatasan pengetahuan manusia
terhadap kehidupan.
“Kita tidak akan tahu apa yang
akan terjadi pada masa mendatang. Tidak perlu jauh-jauh ke masa mendatang,
sebentar lagi pun kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita. Namun, Allah
memiliki pengetahuan yang Maha Mendalam,” katanya.
Bagi Farisha, pengakuan seseorang
sebagai seorang Muslim membawa konsekuensi berupa tuntutan terhadap cara
seorang Muslim menjalani kehidupan sehari-harinya.
“Maka dia harus memastikan
dirinya terikat dengan syariat Islam. Itulah syarat untuk menjadi individu yang
merdeka,” ujarnya.
Ia turut memasukkan kebebasan
menyebarkan Islam tanpa hambatan sebagai salah satu kondisi yang melengkapi
nikmat kemerdekaan.
“Di tempat lain, mereka sangat
sulit melaksanakan kewajiban Islam karena terdapat berbagai hambatan. Islam
dapat disebarkan dengan sangat mudah ketika tidak ada hambatan,” jelasnya.
Setelah itu, Farisha turut
menegaskan bahwa kemerdekaan individu memerlukan penerapan Islam secara kaffah,
yakni secara menyeluruh dan sempurna. “Pendekatan tersebut menjadi benteng dan
kekuatan bagi umat untuk menyaring atau menghalangi pengaruh yang datang dari
kekufuran atau Barat,” lugasnya.
“Selama kita tidak mengambil
Islam secara keseluruhan, hanya memilih-milih, yang mudah diambil sedangkan
yang sulit tidak mau dilakukan dan ditinggalkan, kita akan senantiasa
terbelenggu oleh kungkungan Barat,” katanya mengingatkan.
Farisha selanjutnya menekankan
perubahan pemikiran sebagai bagian dari cara memerdekakan diri, dengan akidah
dan syariat menjadi dasar bagi pemikiran serta aturan kehidupan.
“Islam adalah sebuah ideologi
yang lengkap dan sempurna, yang membentuk pemikiran dan aturan kehidupan. Jadi,
pemikiran Islam, sistemnya, atau aturan kehidupannya juga harus mengikuti
Islam,” ujarnya.
Dalam menentukan tujuan hidup, ia
menempatkan akhirat sebagai tujuan utama tanpa bermaksud meninggalkan urusan
dunia.
Ia mengingatkan, “Kita tidak
meninggalkan dunia. Kita menggunakan dunia untuk mencari akhirat dan menjadikan
akhirat sebagai tujuan utama melebihi dunia. Tempat kita yang kekal dan abadi
adalah akhirat, bukan dunia. Dunia hanya tempat persinggahan sementara.”
Untuk memastikan tindakan
seseorang tidak bertentangan dengan syariat, Farisha turut menekankan
pentingnya menuntut ilmu agar dapat membedakan perkara yang benar dan salah.
Di penghujung penyampaiannya, ia
mengaitkan pentingnya kemerdekaan individu dengan kesadaran bahwa setiap
perbuatan di dunia akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.
“Perbuatan kita hari ini adalah
penentu hari esok. Bukan hari esok dalam arti hari Minggu, tetapi hari esok
menuju akhirat. Jadi, kita harus senantiasa memperhatikan dan memastikan setiap
perbuatan kita tidak menyalahi syariat Allah, dan tentunya segala perintah
Allah wajib kita laksanakan,” simpulnya.[] Aliya Ab Aziz