“‘Kalian adalah umat yang terbaik
di antara manusia’ maknanya harus ada tanggung jawab yang dipikul, yaitu
menyeru kepada kebaikan dan juga mencegah kemungkaran. Bersatu itu bukan hanya
sekadar dari segi jumlah, bukan sekadar dari segi ekonomi, tetapi ada hal yang
lebih mendalam lagi yang perlu kita telusuri,” katanya dalam program talk
show Being an Amazing Ummah Today yang berlangsung di Perak,
Malaysia, Senin (24/08/2026).
Tiga Landasan
Nazirah menyatakan, salah satu
dasar untuk membentuk masyarakat Islam yang ideal adalah memastikan pemikiran
umat berlandaskan ajaran Islam, meskipun setiap individu memiliki pandangan
yang berbeda.
“Kalau kita menanamkan bahwa
akidah Islam itulah yang seharusnya menjadi landasan dalam segala perbuatan
kita, dan apa yang kita lakukan semuanya berlandaskan Islam, kita melakukannya
berdasarkan perintah Allah, bukan karena manusia, bukan untuk mengejar pujian
manusia,” jelasnya.
Ia mengatakan, ukuran dalam
menentukan suatu perbuatan juga harus dikembalikan kepada hukum syarak, bukan
dengan mendahulukan pandangan pribadi, emosi, atau pertimbangan akal semata.
“Kadang-kadang ketika kita
melakukan sesuatu, kita mengesampingkan hukum syarak terlebih dahulu, kita
mendahulukan emosi, mendahulukan pemikiran dan akal kita. Padahal, untuk
melahirkan khairu ummah, ajaran Islam itu sendiri, pemikiran yang berlandaskan
Islam itu sendiri, yang perlu dijadikan sebagai pijakan dalam diri kita,”
katanya.
Selain keselarasan pemikiran dan
perbuatan, Nazirah menekankan rasa tanggung jawab terhadap saudara seakidah
sebagai landasan penting untuk melahirkan amazing ummah.
“Kalau kita melihat di luar sana
ada kemaksiatan, ada kerusakan yang terjadi, jangan sampai kita bersikap, ‘dia
ya dia, aku ya aku’. Kita harus memiliki rasa tanggung jawab terhadap
saudara-saudara kita yang lain,” jelasnya.
Ia turut mengingatkan agar umat
tidak bersikap selfish atau egois sehingga kebaikan hanya terbatas pada diri
sendiri atau kelompok terdekat.
“Kalau tidak, nantinya hanya diri
kita saja yang baik, hanya teman-teman kita saja yang baik. Tetapi, bagaimana
dengan masyarakat?” katanya.
Umat Islam Bersatu
Pada saat yang sama, Nazirah
menyerukan umat Islam agar membangun kesatuan hati dan perasaan sehingga
kesulitan yang dialami Muslim lain turut dirasakan sebagai masalah bersama.
“Umat Islam itu ibarat satu
tubuh. Kalau ada rasa sakit di sebelah kanan, maka sebelah kiri tentu akan
turut merasakan sakitnya. Harus ada perasaan seperti itu,” jelasnya.
Menurutnya, kesatuan tersebut
penting karena pembentukan amazing ummah tidak hanya mencakup individu,
tetapi juga melibatkan kepedulian terhadap kondisi umat Islam lainnya.
Selain itu, ketiadaan kesatuan
juga dipandang sebagai salah satu faktor yang melemahkan umat, termasuk ketika
kesepakatan sulit dicapai meskipun dalam komunitas sendiri.
“Hari ini kalau kita melihat umat
Islam agak lemah, karena apa? Karena tidak adanya kesatuan di antara kita. Kita
tidak perlu melihat jauh-jauh, kita lihat komunitas kita sendiri terlebih
dahulu. Sesama anggota komunitas kita pun mungkin tidak bersatu, sulit untuk
mencapai kesepakatan,” katanya.
Dakwah
Nazirah turut mengingatkan bahwa
usaha dakwah serta amar makruf nahi mungkar tidak boleh diletakkan sebagai
tanggung jawab kalangan agamawan saja karena setiap Muslim dapat memainkan
peran dalam mengubah masyarakat.
“Kita ini bisa menjadi agen untuk
mengubah masyarakat. Jangan tunggu menjadi ustazah terlebih dahulu,
sampaikanlah terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia menambahkan, hal ini karena
setiap manusia memiliki potensi yang berbeda-beda dan potensi tersebut perlu
dimanfaatkan untuk saling melengkapi dalam usaha membentuk umat yang amazing.
Bukan Sekadar Baik
Nazirah menyimpulkan bahwa
pembentukan umat perlu dimulai dengan perubahan individu melalui pembinaan
kepribadian Islam, penguatan ilmu, dan peningkatan ketakwaan.
“Hari ini banyak orang baik,
tetapi kita harus belajar bagaimana menjadi orang yang taat. Seseorang bisa
saja baik, tetapi belum tentu taat. Namun, kalau dia taat, maka Insyaallah
dia adalah orang yang baik,” tegasnya.[] Aliya Ab Aziz