TintaSiyasi.id -- Menanggapi kabar sebanyak 12.940 warga negara Indonesia (WNI) eks jaringan penipuan daring yang meminta bantuan untuk kembali ke Indonesia dari Kamboja sepanjang 1 Januari hingga 15 September 2026, Jurnalis Joko Prasetyo mengingatkan adanya ironi di Indonesia yang sulit diabaikan, yakni janji politik penciptaan 19 juta lapangan kerja.
"Hampir 13.000 WNI eks jaringan penipuan daring di Kamboja meminta pulang. Pemerintah memang wajib menyelamatkan mereka. Namun, ada ironi yang sulit diabaikan: di negeri yang pernah menjanjikan 19 juta lapangan kerja, ribuan rakyat justru mencari pekerjaan ke negeri orang hingga terjebak jaringan penipuan," tuturnya kepada Tintasiyasi.id, Ahad (20/9/2026).
Om Joy, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa janji politik tentu mudah diucapkan, tetapi realitas rakyatlah yang menjadi ukurannya. "Jika lapangan kerja benar-benar tersedia dalam jumlah yang dijanjikan, mengapa rakyat masih harus mempertaruhkan keselamatan untuk mendapatkan pekerjaan di luar negeri? Di mana 19 juta lapangan kerja itu ketika ribuan WNI justru menjadi korban?" tanyanya.
Ia menilai, jika negara benar-benar mengelola kekayaan negeri dengan prinsip Islam, lapangan kerja dan kebutuhan dasar rakyat semestinya menjadi tanggung jawab negara. Ia mengatakan, rakyat tidak semestinya dipaksa keadaan mengejar pekerjaan ke luar negeri, lalu ketika menjadi korban, negara sibuk memulangkannya.
"Islam tidak hanya memerintahkan negara menyelamatkan korban setelah kejahatan terjadi. Negara juga wajib mengurus rakyat, menjaga harta dan kehormatan mereka, serta mencegah mereka jatuh ke dalam bahaya," tegasnya.
Ia juga menegaskan, memulangkan 13.000 WNI adalah kewajiban. Namun, lanjutnya, memastikan rakyat dapat hidup layak tanpa harus mempertaruhkan nasib di negeri orang, itulah tanggung jawab negara yang semestinya dibuktikan, bukan sekadar dijanjikan.
"Namun, apa yang bisa diharapkan dari penguasa yang menyebut QS Al-Baqarah ayat 191 sebagai "hadis", seraya menyebut pakar yang mengkritiknya sebagai “goblok”?" pungkasnya.[] Saptaningtyas