TintaSiyasi.id -- Ada yang menarik dari ramainya kontroversi mindfulness ala Maudy Ayunda vs. berita buruk.
Persoalannya bukan soal influencer cerdas lulusan luar negeri penerima LPDP. Juga bukan soal boleh tidaknya kita baca berita buruk.
Persoalan yang lebih besar adalah: mengapa cara berpikir seperti itu terasa masuk akal bagi banyak orang hari ini?
Ketika berita perang, kemiskinan, bencana, kekerasan, pengangguran, korupsi, dan ketidakadilan memenuhi layar ponsel, kita selalu diajak kembali ke satu pertanyaan:
"Bagaimana aku menjaga kesehatan mentalku?"
Aku overwhelmed, capek, butuh healing. Harus jaga energi, harus digital detoks, harus batasi berita negatif.
Enggak salah sih.
Tapi jangan-jangan tanpa sadar, kita mengubah penderitaan sosial menjadi sekadar persoalan kesehatan mental pribadi.
Coba perhatikan pergeseran pertanyaannya:
Melihat kemiskinan, kita bertanya: "Bagaimana supaya aku tidak sedih?"
Melihat perang: "Bagaimana agar aku nggak terpicu?"
Melihat kekerasan: "Bagaimana biar aku nggak overwhelmed?"
Melihat ketidakadilan: "Bagaimana supaya aku tetap bisa berpikir positif?"
Pusat persoalan akhirnya berpindah. Dari "Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" menjadi "Apa yang terjadi pada diriku karena melihat semua ini?"
Masalah masyarakat berubah jadi masalah pribadi.
Ketidakadilan jadi sumber stres. Kemiskinan jadi konten yang mengganggu mood.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Apakah ketenangan pribadi boleh menjadi tujuan terakhir kita sebagai manusia?
Sistem Kapitalis Melahirkan Individualisme
Kita hidup dalam sistem kapitalis yang sangat kuat mendorong individualisasi.
Kita sibuk mengurus "aku": karierku, kesehatan mentalku, kebahagiaanku, healing-ku, boundaries-ku.
Sampai lupa bertanya: "Bagaimana dengan kita?"
Hidup jadi sibuk mengurus diri sendiri. Pokoknya Aku. Peduli orang lain: perlu, tapi bukan segalanya.
Jangan sampai jadi hitam-putih. Seolah kalau peduli umat, kita tidak boleh jaga kesehatan mental. Islam tidak begitu.
Islam Tidak Menyuruh Mengabaikan Diri, Juga Tidak Mengajarkan Mati Rasa
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita mengabaikan diri atas nama kebaikan.
Ketika Abu Darda' berlebihan dalam ibadah hingga mengabaikan hak tubuh dan keluarganya, Salman mengingatkannya: "Sesungguhnya Rabbmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, dan keluargamu punya hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang berhak akan haknya." Rasulullah ﷺ pun membenarkan, "Salman benar." (HR. Bukhari)
Maka self-care itu oke. Tapi jangan sampai merawat diri membuat kita abai pada orang lain.
Karena memang ada ketidakadilan yang harus membuat kita gelisah.
Ada penderitaan yang harus mengetuk hati kita.
Islam tidak hanya mengajarkan "yang penting aku khusyuk dan tenang." Islam juga mengajarkan ukhuwah, ta'awun, dan amar ma'ruf nahi munkar.
Rasulullah ﷺ menggambarkan kaum Muslimin seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan sakitnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka saat melihat bencana, pertanyaannya bukan hanya "Apakah aku masih sehat secara mental melihat berita ini?" Tapi "Apa yang bisa aku lakukan?"
Lalu Siapa Yang Tanggung Jawab?
Di sinilah Islam membawa kita keluar dari jebakan individualisme.
Tidak semua masalah bisa diselesaikan individu.
Kemiskinan struktural tidak cukup dijawab dengan "syukur aja lah, toh masih bisa hidup."
Pengangguran tidak selesai dengan "makanya upgrade skill."
Pendidikan tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke orang tua.
Keamanan juga tidak bisa dengan pesan "jaga diri masing-masing."
Ada persoalan yang butuh negara turun tangan membuat kebijakan dan mengelola sumber daya.
Dalam Islam, negara bukan sekadar penjaga agar tidak kacau seperti konsep kapitalis. Negara memegang amanah untuk mengurus kepentingan rakyat.
"Imam adalah pemelihara dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka ketika masyarakat mengalami persoalan besar, tanggung jawab tidak boleh dilempar semua ke individu.
Jangan sampai saat negara gagal, individu disuruh lebih resilien.
Saat sistem kapitalis menghasilkan tekanan, umat disuruh lebih kuat.
Saat rakyat menghadapi ketidakadilan, individu disuruh mengelola emosinya.
Tugas negara adalah mencari akar masalah dan menyelesaikannya.
Jadi jangan berhenti pada pertanyaan: bagaimana agar kita tidak terganggu oleh buruknya keadaan?
Pertanyaan yang lebih jauh: mengapa keadaan buruk ini terus berulang? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab? Dan sistem seperti apa yang seharusnya mengurus hidup manusia?
Selama berita buruk yang muncul tanpa henti adalah produk dari sistem kapitalis yang rusak, solusinya hanyalah kembali pada sistem Islam, dengan negara khilafah yang menyelesaikan masalah kehidupan dengan merujuk pada wahyu.
Hingga berita yang muncul menghadirkan ketenangan dan keberkahan, bukan merusak kesehatan mental. []
Oleh. Dini Sumaryanti (Family Coach, Founder Komunitas Ibu Hebat, Praktisi Mental Health)