Qana’ah, Tawakal, dan Keyakinan kepada Rezeki Allah
Perspektif Dakwah Ideologis-Sufistik Al-Ghazali dan Ibnu Athaillah.
Pendahuluan: Ketika Dunia Terasa Semakin Mahal
Dalam keadaan seperti itu, persoalan ekonomi mudah berubah menjadi persoalan spiritual. Hati mulai gelisah. Tidur menjadi tidak tenang. Doa terasa seperti belum dijawab. Kita mulai membandingkan kehidupan kita dengan orang lain. Melihat orang lain sukses membuat hati bertanya, “Mengapa rezeki mereka begitu luas, sedangkan rezekiku terasa sempit?”
Di sinilah Islam tidak hanya menawarkan solusi ekonomi, tetapi juga solusi terhadap cara manusia memandang kehidupan, harta, rezeki, dan dirinya sendiri.
Islam tidak mengajarkan manusia untuk pasrah terhadap kemiskinan. Islam juga tidak mengajarkan manusia menjadi budak materi. Islam mengajarkan ikhtiar dengan tangan dan tawakal dengan hati.
Inilah titik temu antara dimensi ideologis dan sufistik: Syariat mengajarkan bagaimana kita mencari rezeki secara halal. Hakikat mengajarkan kepada siapa hati kita bersandar setelah melakukan ikhtiar.
Maka seorang Muslim boleh bekerja keras mengejar kehidupan yang lebih baik, tetapi ia tidak boleh menjadikan harta sebagai Tuhan baru dalam kehidupannya.
I. REZEKI BUKAN SEKADAR ANGKA
Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah menyempitkan makna rezeki menjadi uang. Padahal rezeki Allah jauh lebih luas. Uang adalah rezeki. Tetapi kesehatan juga rezeki. Keluarga yang harmonis adalah rezeki. Ilmu adalah rezeki. Teman yang baik adalah rezeki. Kesempatan bertaubat adalah rezeki. Hati yang lembut menerima nasihat adalah rezeki. Kemampuan bersujud dengan khusyuk adalah rezeki. Bahkan kemampuan untuk mengenali kesalahan diri dan kembali kepada Allah adalah rezeki yang luar biasa. Karena itu, seseorang dapat memiliki banyak uang tetapi miskin dalam keberkahan. Sebaliknya, seseorang dapat memiliki harta yang sederhana tetapi hidupnya dipenuhi ketenteraman.
Allah berfirman:
۞ وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
“Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.1) Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz)."
1) Menurut sebagian mufasir, yang dimaksud dengan tempat kediaman adalah dunia dan tempat penyimpanan adalah akhirat. Menurut mufasir lain, maksud tempat kediaman adalah rahim dan tempat penyimpanan adalah tulang sulbi.
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” (QS. Hud: 6)
Ayat ini tidak berarti manusia boleh meninggalkan usaha. Justru manusia diperintahkan mengambil sebab. Tetapi ayat ini mendidik aqidah kita agar tidak menganggap sebab sebagai Tuhan. Pekerjaan bukan pemberi rezeki. Perusahaan bukan pemberi rezeki. Pelanggan bukan pemberi rezeki. Pasar bukan pemberi rezeki. Manusia hanyalah sebab. Ar-Razzaq adalah Allah. Inilah fondasi ketenangan.
II. AL-GHAZALI: MASALAH TERBESAR BUKAN SEDIKITNYA HARTA, TETAPI TAMAKNYA HATI
Imam Al-Ghazali memberikan perhatian besar terhadap penyakit hati yang berkaitan dengan dunia. Menurut pendekatan pendidikan jiwa Al-Ghazali, manusia tidak cukup hanya mengatur hartanya. Ia harus mengatur keinginannya terhadap harta. Sebab ada perbedaan besar antara:
memiliki harta dan dimiliki oleh harta. Orang pertama menggunakan harta. Orang kedua diperbudak harta. Orang pertama berkata: “Harta ini adalah amanah Allah.” Orang kedua berkata dalam hatinya: “Tanpa harta ini aku tidak berarti.” Di sinilah kemiskinan spiritual mulai terjadi. Seseorang mungkin memiliki rekening besar tetapi hatinya selalu merasa kurang. Ia terus mengejar. Terus membandingkan. Terus takut kehilangan. Terus mencemaskan masa depan. Akhirnya, semakin banyak yang dimiliki justru semakin banyak yang ditakuti.
Al-Ghazali mengajarkan pentingnya qana'ah, yaitu kemampuan hati untuk merasa cukup terhadap apa yang Allah berikan, tanpa berarti meninggalkan usaha untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Qana'ah bukan kemalasan. Qana'ah bukan anti-kemajuan. Qana'ah bukan alasan untuk berhenti bekerja. Qana'ah adalah kemerdekaan jiwa dari kerakusan.
III. QANA'AH BUKAN BERARTI PUAS DENGAN KEMISKINAN
Ini harus dipahami secara tepat. Ketika seorang Muslim berkata: “Saya qana'ah.” Bukan berarti: “Saya tidak perlu bekerja.” Bukan pula: “Saya tidak boleh kaya.” Dan bukan: “Kemiskinan harus diterima tanpa usaha.”
Qana'ah berarti: Aku berusaha memperbaiki kehidupanku, tetapi aku tidak menjadikan banyaknya harta sebagai ukuran kemuliaanku di hadapan Allah.
Seorang pedagang tetap boleh mengembangkan bisnisnya. Seorang dosen tetap boleh meningkatkan pendapatannya. Seorang pekerja tetap boleh mencari pekerjaan yang lebih baik. Seorang pengusaha tetap boleh membangun perusahaan besar. Tetapi hatinya tidak boleh berkata: “Aku akan bahagia jika sudah kaya.”
Karena kebahagiaan yang digantungkan kepada jumlah harta tidak akan pernah selesai. Hari ini ingin sepuluh juta. Besok ingin lima puluh juta. Setelah itu seratus juta. Kemudian satu miliar. Nafsu tidak mengenal kata selesai. Karena itu, yang harus dididik bukan hanya penghasilan, tetapi keinginan.
IV. IBNU ATHAILLAH: JANGAN BIARKAN TERLAMBATNYA PEMBERIAN MEMBUATMU BERPUTUS ASA
Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam memberikan salah satu nasihat yang sangat dalam: “Janganlah keterlambatan pemberian Allah kepadamu, padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, menyebabkanmu berputus asa.”
Ini adalah pendidikan tauhid yang sangat halus. Manusia sering mengukur cinta Allah berdasarkan kecepatan terkabulnya permintaan.Ketika doa segera dikabulkan, kita merasa Allah dekat. Ketika doa belum terwujud, kita mulai bertanya: “Mengapa Allah belum memberikan?” Padahal keterlambatan bukan berarti penolakan. Kadang Allah menunda karena waktunya belum tepat. Kadang Allah memberikan dalam bentuk yang berbeda. Kadang Allah mengubah keadaan kita terlebih dahulu sebelum memberikan apa yang kita minta. Kadang Allah tidak memberikan sesuatu karena Dia mengetahui bahwa sesuatu itu justru akan merusak kita. Maka seorang salik harus belajar: Tidak semua yang kita inginkan adalah kebaikan. Dan: Tidak semua yang kita anggap terlambat benar-benar terlambat menurut Allah. Allah mengetahui apa yang kita tidak ketahui.
V. KETIKA REZEKI SEDIKIT, JANGAN SEGERA MENUDUH ALLAH
Ini penyakit yang sangat halus. Ketika ekonomi sulit, seseorang bisa mulai berkata: “Allah tidak adil.”
“Mengapa hidupku selalu susah?” “Mengapa orang lain mudah mendapatkan semuanya?”
Kalimat-kalimat semacam itu menunjukkan bahwa masalah ekonomi telah masuk ke wilayah aqidah dan hati. Seorang Muslim harus berhati-hati. Kesulitan ekonomi boleh membuat kita menangis. Tetapi jangan sampai membuat kita buruk sangka kepada Allah. Allah berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Kita hanya melihat potongan kecil dari kehidupan. Allah melihat keseluruhan perjalanan. Kita melihat hari ini. Allah mengetahui hari esok. Kita melihat kehilangan. Allah mengetahui hikmah. Kita melihat sedikit. Allah mengetahui apa yang sebenarnya cukup bagi kita.
VI. TENANG BUKAN KARENA REZEKI BANYAK, TETAPI KARENA HATI BERSANDAR KEPADA ALLAH
Ada orang yang penghasilannya besar tetapi hidupnya penuh kecemasan. Takut bisnis turun. Takut kehilangan jabatan. Takut investasi gagal. Takut hartanya berkurang. Takut masa depan. Ada pula orang yang penghasilannya sederhana, tetapi wajahnya tenang. Mengapa?
Karena ketenangan tidak selalu mengikuti jumlah harta. Ketenangan mengikuti tempat bersandarnya hati. Jika hati bersandar kepada uang, ketika uang berkurang ia akan gelisah. Jika hati bersandar kepada manusia, ketika manusia pergi ia akan hancur. Jika hati bersandar kepada jabatan, ketika jabatan hilang ia merasa tidak berharga. Tetapi jika hati bersandar kepada Allah, maka dunia boleh naik dan turun, sementara tauhidnya tetap berdiri. Inilah makna tawakal.
Tawakal bukan: “Saya tidak melakukan apa-apa.”
Tawakal adalah: “Saya melakukan seluruh ikhtiar yang dibenarkan syariat, kemudian saya menyerahkan hasilnya kepada Allah.”
VII. IKHTIAR ADALAH SYARIAT, TAWAKAL ADALAH KEADAAN HATI
Inilah keseimbangan penting.
Jika seseorang berkata: “Saya tawakal kepada Allah.”
Tetapi dia malas bekerja, tidak mau belajar, tidak mau memperbaiki keterampilan, tidak mau mencari peluang, dan tidak mau mengembangkan usaha, maka ia harus mengevaluasi apakah itu benar-benar tawakal atau justru kemalasan yang diberi nama spiritual.
Sebaliknya, jika seseorang bekerja siang malam tetapi seluruh ketenangannya bergantung kepada omzet, gaji, pelanggan, jabatan, atau pasar, maka ia perlu memperbaiki tawakalnya.
Islam mengajarkan: Bekerjalah seolah-olah engkau harus melakukan ikhtiar terbaik.
Dan: Bersandarlah kepada Allah seolah-olah engkau tahu bahwa hasil akhir berada di tangan-Nya.
Inilah keseimbangan antara usaha dan ubudiyah.
VIII. DAKWAH IDEOLOGIS: JANGAN BIARKAN KRISIS EKONOMI MENGUBAH AQIDAH DAN MORAL
Ekonomi sulit bukan hanya persoalan individu.
Ia juga dapat menjadi persoalan masyarakat.
Ketika kebutuhan hidup semakin berat, manusia bisa tergoda:
• mengambil keuntungan secara zalim,
• melakukan penipuan,
• korupsi,
• riba,
• manipulasi,
• mengurangi timbangan,
• menjual barang dengan cara yang tidak jujur,
• atau mencari jalan pintas yang haram.
Karena itu, dakwah Islam tidak cukup mengatakan:
“Sabar saja.”
Islam juga harus membangun kesadaran bahwa kehidupan ekonomi harus diatur dengan prinsip-prinsip syariat.
Islam memerintahkan kejujuran dalam perdagangan.
Islam melarang riba.
Islam melarang penipuan.
Islam melarang memakan harta manusia dengan cara batil.
Islam mewajibkan zakat.
Islam mendorong sedekah.
Islam menjaga kepemilikan.
Islam mengatur transaksi.
Islam memerintahkan negara untuk menjaga kemaslahatan rakyat.
Dengan demikian, dakwah ideologis tidak memisahkan antara spiritualitas dan kehidupan sosial.
Hati harus bertauhid, tangan harus bekerja, transaksi harus halal, masyarakat harus adil, dan kehidupan harus diarahkan kepada ketaatan kepada Allah.
IX. JANGAN MENJADIKAN QANA'AH SEBAGAI ALAT MEMBENARKAN KETIDAKADILAN
Ini juga penting.
Qana'ah adalah pendidikan hati.
Tetapi qana'ah tidak boleh dipakai untuk membenarkan kezaliman.
Ketika seseorang dizalimi, Islam tidak menyuruhnya mengatakan:
“Saya harus qana'ah dengan kezaliman.”
Tidak.
Ketika hak seseorang dirampas, Islam mengajarkan perjuangan memperoleh hak dengan cara yang benar.
Ketika masyarakat mengalami kesulitan karena sistem ekonomi yang buruk, umat harus melakukan perbaikan.
Ketika ada kemiskinan struktural, diperlukan kebijakan dan tata kelola yang adil.
Maka ada dua pekerjaan yang harus berjalan bersama:
memperbaiki sistem kehidupan dan memperbaiki hati manusia.
Sistem tanpa manusia yang bertakwa dapat disalahgunakan.
Manusia yang baik dalam sistem yang buruk juga dapat mengalami kesulitan.
Karena itu Islam menghadirkan keduanya:
syariat untuk mengatur kehidupan dan tazkiyah untuk membersihkan manusia.
X. BAGAIMANA MENERIMA REZEKI YANG SEDIKIT DENGAN SYUKUR?
Ada sebuah latihan sederhana.
Ketika mendapatkan rezeki yang menurut kita sedikit, jangan langsung berkata:
“Hanya segini?”
Ubahlah menjadi:
“Alhamdulillah, Allah masih memberiku ini.”
Kemudian tanyakan:
1. Apakah rezeki ini halal?
2. Apakah rezeki ini cukup untuk kebutuhan paling penting?
3. Bagaimana menggunakannya secara bijaksana?
4. Siapa yang dapat saya bantu meskipun sedikit?
5. Bagaimana agar rezeki ini menjadi sebab ketaatan?
Dengan demikian, kita mengubah orientasi:
dari kuantitas menuju keberkahan.
Sebab harta yang banyak tetapi tidak membawa seseorang dekat kepada Allah bisa menjadi fitnah.
Sedangkan harta yang sedikit tetapi halal, cukup, dan digunakan dalam kebaikan dapat menjadi keberkahan.
XI. BELAJAR BERSYUKUR SEBELUM MENJADI KAYA
Banyak orang berkata:
“Kalau saya kaya nanti saya akan bersedekah.”
“Kalau bisnis saya besar nanti saya akan membantu orang.”
“Kalau penghasilan saya meningkat nanti saya akan banyak beribadah.”
Padahal pendidikan spiritual justru dimulai dari apa yang ada sekarang.
Jika sedikit tidak disyukuri, banyak belum tentu disyukuri.
Jika seratus ribu tidak digunakan dengan amanah, satu miliar belum tentu digunakan dengan amanah.
Jika sekarang kita tidak mampu berbagi sedikit, belum tentu kelak kita mampu berbagi ketika memiliki banyak.
Maka jangan menunggu kaya untuk menjadi dermawan.
Jangan menunggu lapang untuk bersyukur.
Jangan menunggu sukses untuk dekat kepada Allah.
Dekatilah Allah dalam keadaan sempit, agar ketika kelapangan datang, kita tidak lupa kepada-Nya.
XII. RAHASIA BAROKAH: SEDIKIT YANG MENCUKUPI LEBIH BAIK DARIPADA BANYAK YANG MENGHANCURKAN
Barakah bukan sekadar banyak.
Barakah adalah ketika sesuatu memberikan kebaikan yang melampaui ukuran lahiriahnya.
Seribu rupiah yang halal dapat lebih bernilai daripada jutaan rupiah yang haram.
Rumah sederhana yang dipenuhi sakinah dapat lebih membahagiakan daripada istana yang penuh pertengkaran.
Makanan sederhana yang halal dapat lebih menenteramkan daripada hidangan mewah yang diperoleh dengan kezaliman.
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya berdoa:
“Ya Allah, banyakkan rezekiku.”
Tetapi juga:
“Ya Allah, berkahilah rezekiku.”
Sebab yang kita perlukan bukan sekadar banyak, tetapi cukup dan berkah.
XIII. JANGAN MEMBANDINGKAN TAKDIRMU DENGAN TAKDIR ORANG LAIN
Salah satu sumber kegelisahan terbesar adalah perbandingan.
Kita melihat:
“Temanku sudah punya rumah.”
“Orang lain sudah punya mobil.”
“Dia sudah menjadi pengusaha.”
“Anaknya kuliah di tempat bagus.”
“Bisnisnya berkembang pesat.”
Sedangkan kita merasa tertinggal.
Padahal manusia memiliki jalan hidup yang berbeda.
Allah tidak menciptakan semua orang dengan ujian yang sama.
Ada yang diuji dengan kemiskinan.
Ada yang diuji dengan kekayaan.
Ada yang diuji dengan kesuksesan.
Ada yang diuji dengan kegagalan.
Ada yang diuji dengan popularitas.
Ada yang diuji dengan keterasingan.
Jangan mengira orang yang tampak mendapatkan lebih banyak berarti lebih dicintai Allah.
Harta adalah ujian sebagaimana kekurangan adalah ujian.
Kekayaan menuntut syukur.
Kemiskinan menuntut sabar.
Keduanya menuntut ketakwaan.
XIV. EMPAT KALIMAT YANG PERLU DITANAMKAN DALAM HATI
Ketika ekonomi sedang sulit, latih hati dengan empat kalimat berikut:
1. “Allah tidak pernah lupa kepadaku.”
Mungkin manusia lupa.
Pelanggan bisa pergi.
Perusahaan bisa berubah.
Peluang bisa tertutup.
Tetapi Allah tidak pernah lupa terhadap hamba-Nya.
2. “Rezekiku tidak akan tertukar.”
Apa yang Allah tetapkan untukmu tidak akan menjadi milik orang lain.
Maka jangan iri terhadap rezeki orang lain.
3. “Tugasku adalah ikhtiar, bukan mengendalikan hasil.”
Kita tidak menguasai seluruh variabel kehidupan.
Yang dapat kita lakukan adalah memperbaiki usaha, memperbaiki doa, memperbaiki keterampilan, memperbaiki hubungan, dan memperbaiki ketakwaan.
4. “Sedikit tetapi halal dan berkah lebih baik daripada banyak tetapi menjauhkan dari Allah.”
Inilah prinsip yang menjaga seorang Muslim tetap waras ketika dunia sedang berubah.
XV. KETIKA DOA BELUM TERKABUL
Ibnu Athaillah mengajarkan kita agar tidak mengukur kedekatan Allah dengan cepat atau lambatnya pemberian.
Ada doa yang dikabulkan dengan pemberian.
Ada doa yang dikabulkan dengan dijauhkan dari keburukan.
Ada doa yang menjadi sebab perubahan jiwa.
Ada doa yang pahalanya menjadi simpanan di akhirat.
Maka jangan pernah berpikir:
“Aku sudah berdoa, tetapi Allah tidak menjawab.”
Bisa jadi kita belum memahami bentuk jawaban-Nya.
Seorang hamba hanya melihat permintaan.
Allah melihat keselamatan.
Kita meminta sesuatu karena menganggapnya baik.
Allah mengetahui apakah sesuatu itu benar-benar baik bagi agama, kehidupan, dan akhirat kita.
Karena itu, doa seorang arif bukan hanya:
“Ya Allah, berikan apa yang aku inginkan.”
Tetapi:
“Ya Allah, berikan kepadaku apa yang terbaik menurut ilmu-Mu, dan jadikan hatiku ridha terhadap pilihan-Mu.”
XVI. SABAR BUKAN PASIF, SYUKUR BUKAN SEKADAR UCAPAN
Dalam keadaan sulit, kita membutuhkan dua sayap:
Sayap pertama: Sabar
Sabar berarti tetap berada dalam ketaatan meskipun keadaan berat.
Tetap shalat.
Tetap halal.
Tetap jujur.
Tetap bekerja.
Tetap berdoa.
Tetap berharap.
Sayap kedua: Syukur
Syukur berarti menyadari bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya dalam ketaatan.
Sabar menjaga kita ketika kehilangan.
Syukur menjaga kita ketika mendapatkan.
Jika keduanya berjalan bersama, jiwa menjadi kokoh.
XVII. DOA UNTUK REZEKI YANG HALAL, CUKUP, DAN BERKAH
Jangan hanya meminta:
“Ya Allah, jadikan aku kaya.”
Mintalah sesuatu yang lebih dalam:
“Ya Allah, berikan aku rezeki yang halal, luas jika kelapangan itu baik bagiku, cukup jika kecukupan itu lebih baik bagiku, berkah dalam penggunaannya, dan jangan jadikan harta sebagai hijab antara aku dengan-Mu.”
Mintalah pula:
“Ya Allah, jangan jadikan kemiskinan membuatku hina, dan jangan jadikan kekayaan membuatku sombong.”
Sebab tujuan akhir seorang mukmin bukan sekadar memiliki harta, tetapi menjadi hamba Allah yang baik ketika memiliki maupun ketika tidak memiliki.
XVIII. PUNCAKNYA ADALAH RIDHA
Qana'ah adalah menerima kecukupan.
Tawakal adalah bersandar kepada Allah.
Syukur adalah melihat nikmat di balik pemberian.
Sabar adalah tetap teguh ketika pemberian terasa sedikit.
Ridha adalah ketenteraman hati terhadap ketetapan Allah setelah seorang hamba menjalankan kewajibannya.
Ridha tidak berarti seseorang tidak boleh berusaha mengubah keadaan.
Ridha berarti:
Aku tidak memusuhi Allah karena keadaan yang sedang Dia tetapkan untukku.
Aku tetap berusaha.
Aku tetap meminta.
Aku tetap memperbaiki keadaan.
Tetapi hatiku tidak memberontak kepada Rabb-ku.
Inilah kedalaman spiritual yang diajarkan para ulama tasawuf.
XIX. DAKWAH IDEOLOGIS-SUFISTIK: MEMBEBASKAN MANUSIA DARI PERBUDAKAN MATERI
Islam datang bukan hanya untuk membuat manusia memiliki ekonomi yang lebih baik.
Islam datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.
Ketika manusia menjadikan uang sebagai tujuan tertinggi, ia dapat diperbudak uang.
Ketika manusia menjadikan pasar sebagai penentu nilai dirinya, ia diperbudak pasar.
Ketika manusia menjadikan status sosial sebagai ukuran kemuliaan, ia diperbudak penilaian manusia.
Tetapi ketika manusia mengucapkan:
“Laa ilaaha illallah.”
Ia sedang mendeklarasikan bahwa tidak ada yang berhak menjadi sesembahan, tujuan penghambaan, dan tempat ketundukan mutlak kecuali Allah.
Maka seorang Muslim boleh kaya.
Boleh sukses.
Boleh memiliki bisnis besar.
Boleh memiliki rumah bagus.
Boleh memiliki jabatan.
Boleh memiliki kekuatan ekonomi.
Tetapi semuanya harus berada di tangan, bukan di hati.
Harta di tangan dapat menjadi alat kebaikan.
Harta di hati dapat menjadi berhala.
XX. PENUTUP: JANGAN TAKUT PADA SEMPITNYA REZEKI, TAKUTLAH PADA JAUHNYA HATI DARI ALLAH
Barangkali hari ini rezekimu belum sebanyak yang engkau harapkan.
Barangkali usaha sedang sepi.
Barangkali gaji terasa tidak mencukupi.
Barangkali ada kebutuhan yang belum mampu engkau penuhi.
Barangkali engkau sedang berada pada fase kehidupan yang sangat berat.
Jangan menyerah.
Jangan putus asa.
Jangan mencari jalan haram.
Jangan iri kepada rezeki orang lain.
Jangan menyalahkan Allah.
Perbaiki ikhtiarmu.
Perbanyak doamu.
Evaluasi usahamu.
Belajar lebih keras.
Perbaiki keterampilan.
Jaga kehalalan penghasilan.
Dan pada saat yang sama, rawat hatimu agar tetap dekat kepada Allah.
Ingatlah:
Rezeki yang sedikit bukan kehinaan jika ia halal dan berkah.
Kekayaan yang banyak bukan kemuliaan jika ia menjauhkan dari Allah.
Kemiskinan bukan alasan untuk berputus asa.
Kekayaan bukan alasan untuk sombong.
Yang menentukan kemuliaan kita bukan berapa banyak yang masuk ke rekening, tetapi seberapa benar kita menjadi hamba Allah dalam menggunakan apa yang Dia titipkan.
Maka ketika dunia berkata:
“Kamu tidak punya cukup.”
Hati seorang mukmin menjawab:
“Allah cukup bagiku.”
Ketika keadaan berkata:
“Masa depanmu tidak pasti.”
Hati menjawab:
“Aku memang tidak mengetahui masa depan, tetapi aku mengetahui siapa Rabb yang menguasainya.”
Dan ketika rezeki datang sedikit, jangan hina pemberian itu.
Tataplah dengan mata syukur dan katakan:
“Alhamdulillah. Ini pemberian Rabb-ku. Aku akan menerimanya dengan syukur, menggunakannya dengan amanah, dan tetap berikhtiar mengetuk pintu-pintu rezeki yang halal.”
Inilah ketenangan yang sesungguhnya:
bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena hati telah menemukan tempat bersandar yang tidak pernah runtuh.
Allah.
RENUNGAN AKHIR
Jika rezekimu sedikit, jangan kecilkan Allah.
Jika rezekimu tertunda, jangan putus asa kepada Allah.
Jika rezekimu luas, jangan lupakan Allah.
Jika rezekimu berubah, jangan kehilangan Allah.
Sebab harta bisa datang dan pergi.
Pekerjaan bisa datang dan pergi.
Jabatan bisa datang dan pergi.
Peluang bisa datang dan pergi.
Manusia bisa datang dan pergi.
Tetapi Allah tetap ada.
Dan siapa yang menemukan Allah dalam kesempitan, ia tidak akan benar-benar miskin.
Siapa yang kehilangan Allah di tengah kekayaan, ia tidak akan benar-benar kaya.
Maka carilah rezeki dengan tanganmu, tetapi carilah ketenangan dengan hatimu kepada Allah.
Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, berdoalah dengan penuh harap, hiduplah dengan qana'ah, dan bersandarlah kepada Ar-Razzaq.
Karena pada akhirnya:
Yang membuat rezeki terasa cukup bukan selalu banyaknya pemberian, tetapi luasnya hati yang menerima pemberian itu sebagai karunia Allah.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa
