Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pengungsi Rohingya di Malaysia, Dr. Mohammad: Negeri Muslim Sedang Mengidap Islamofobia

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:53 WIB Last Updated 2026-08-04T21:53:11Z

TintaSiyasi.id -- Suatu perdebatan yang mengkhwatiran sedang berkembang pesat di Malaysia terkait keberadaan pengungsi Rohingya. Muncul berbagai kritik yang tajam terhadap komunitas pengungsi tersebut, dan banyak komentar menyebar di sosial media dengan retorika Islamofobia sama seperti yang terjadi di Eropa dan Amerika.

 

Para kelompok pengungsi dianggap sebagai kriminal, memperburuk ekonomi, sampai menjadi ancaman sosial, semu hal tersebut menjadi alasan kekhawatiran yang dinilai legal karena dirasakan sama oleh masyarakat Malaysia.

 

Menanggapi isu tersebut, Intelektual Muslim Malaysia Dr. Mohammad menyatakan bahwa kemungkinan yang paling menganggu dalam aspek debat tentang pengungsi Rohingya bukanlah tentang kritiknya, tetapi lebih kepada bahasa atau narasi yang digunakan.

 

Selama beberapa dekade, umat Islam dihadapakan dengan penyakit islamophobia, baik yang menimpa para politisi dan juga media-media di Eropa dan Amerika, menuduh kaum Muslim dengan sebutan kriminal, ekstremis, dan merusak tatanan sosial.

 

"Jelas kita menolak narasi demikian. Karena mereka (Eropa dan Amerika) telah menuduh keseluruhan tanpa terkecuali dari yang sedikit saja. Hasilnya, kaum Muslim hari ini ikut-ikutan juga menuduh etnis Rohingya dengan narasi yang sama," ujarnya tertulis di laman resmi Partai Pembebasan ideologis, Selasa (30/06/2026).

 

Istilah Berubah, Alasan Tetap Sama

 

Ia meluruskan, bukan berarti perhatian publik Malaysia harus diabaikan begitu saja dengan keresahan hadirnya para pengungsi termasuk warga Rohingya. Karena setiap negara tentu memiliki kebijakan dan tanggung jawab untuk menjaga keamanan, menegakkan hukum, dan melindungi seluruh warga.

 

Menurutnya , kekhwatiran publik terhadap para pengungsi tidak lebih dari sikap atau perilaku kriminal.

 

"Perilaku kriminal yang dilakukan oleh siapa pun, termasuk para pengungsi, tetaplah sebuah kejahatan. Islam tidak membenarkan kejahatan dengan begitu mudah terjadi, meskipun hanya kecil. Karena satu kejahatan kecil bisa berimbas kepada suatu komunitas," jelasnya.

 

Di samping itu, Islam juga mengajarkan umat Islam untuk bisa membedakan dan memisahkan antara perbuatan individu semata dengan kelompok. Dan lebih penting lagi menurutnya adalah banyak dari permasalahan asosiasi dengan komunitas pengungsi hanyalah bentuk gejala daripada masalah utamanya sendiri.

 

Mohammad menegaskan bahwa warga Rohingya tentu saja tidak memilih menjadi kelompok stateless. Mereka mengalami persekusi, dijebak dengan alasan yang tidak jelas, tidak diizinkan kembali ke rumah, serta tidak mampu membangun kehidupan yang stabil di manapun mereka berada.

 

"Bertahun-tahun tanpa adanya status legal, pendidikan, atau pekerjaan yang menetap dan layak menjadi pintu terciptanya masalah sosial. Menilai para pengungsi tanpa semua realitas yang telah dipaparkan, akan menimbulkan kesalahan dalam mendiagnosa akibatnya," imbuhnya lanjut.

 

Karenanya kata Mohammad, Islam menawarkan sebuah perspektif yang berbeda untuk menyelesaikan kasus pengungsi warga Rohingya.

 

"Allah Swt. telah memuliakan semua anak Adam dari penjelasan Rasulullah saw. yang menyatakan bahwa orang-orang beriman laksana satu tubuh.  Saling berbagi rasa sakit. Ini bukan sekadar pembentukan moral yang ideal, tetapi menjadi prinsip kuat dalam masyarakat dan pemerintah," bebernya lagi.

 

Sejarah telah menunjukkan hal demikian dengan jelas ketika terjadi Perang Salib, umat Islam kehilangan tempat tinggal oleh peperangan dan ditemukan banyak pengungsi ke luar dari tanah mereka sendiri.

 

Seperti peristiwa kejatuhan Granada, Khilafah Utsmaniyah menampung Muslim Andalusia, memberikan perlindungan, dan membaurkannya dengan masyarakat setempat. Meskipun istilahnya disebut sebagai pengungsi, tetapi dalam Islam, mereka tidak dipandang sebagai beban permanen. Akan tetapi mereka adalah umat yang sama dan secara politik harus dipertanggungjawabkan kesejahteraannya oleh penguasa Muslim. 

 

Dalam realitas sekarang, tuturnya, pemerintah seharusnya membuat kebijakan yang lebih jelas dalam dokumentasi masalah para pengungsi,  pekerja,  pendidikan,  dan kesehatan dengan undang-undang yang tegas demi mengurangi ketegangan dan kesenjangan sosial. 

 

Krisis pengungsi yang terus berulang dengan demikian menyingkap penyakit politik yang lebih mendalam. Selama umat Islam masih terpecah menjadi negara-bangsa yang saling bersaing, tragedi kemanusiaan akan terus terjadi, dan diskusi yang muncul hanya akan berkutat pada upaya mengelola akibatnya.

 

"Solusi jangka panjang terletak pada pemulihan persatuan politik ummah di bawah Khilafah 'ala Minhaj an-Nubuwwah (khilafah dengan metode kenabian). Sejarah Islam menunjukkan bahwa kepemimpinan semacam itu tidak hanya memberikan bantuan kemanusiaan setelah krisis terjadi, tetapi juga punya kewenangan dan kekuatan politik untuk melindungi negeri-negeri Muslim, menjaga ummah, dan mencegah generasi-generasi Muslim menjadi pengungsi," tandasnya.

 

Oleh karena itu, Mohammad menegaskan bahwa persoalan Rohingya lebih dari sekadar masalah pengungsi. Persoalan itu merupakan cermin yang merefleksikan kondisi umat saat ini.

 

Selama kaum Muslim merasa cukup dengan membahas cara pengungsi harus diperlakukan, tetapi tidak membahas mengapa umat Islam terus menjadi pengungsi, maka hal demikian kata Mohammad, hanya akan mengobati gejala tanpa menyentuh akar persoalan sebenarnya.[] M.Siregar

Opini

×
Berita Terbaru Update