Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Masuknya Ideologi Asing Berujung pada Rapuhnya Rumah Tangga dan Dangkalnya Pendidikan Islam

Rabu, 05 Agustus 2026 | 04:53 WIB Last Updated 2026-08-04T21:53:15Z

TintaSiyasi.id -- Mantan Pengusaha Early Childhood Education Puan Siti Zaidah Mohammad berpendapat bahwa rapuhnya rumah tangga dan dangkalnya pendidikan Islam di tengah masyarakat bermula dari masuknya ideologi-ideologi asing.

 

"Pada dasarnya, kapitalisme berakar pada sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari. Paham ini menyusup secara halus ke dalam pola pikir, hingga akhirnya membuat kita memandang agama sekadar sebagai urusan ritual belaka," ujarnya dalam TalkshowBe an Amazing Ummah' di Putrajaya, Sabtu (04/07/2026).

 

"Akibatnya adalah kekacauan identitas—atau krisis identitas. Inilah yang justru sedang dialami oleh banyak perempuan muda saat ini, karena sebagian besar dari mereka terjebak dalam pola pikir Barat," tambahnya.

 

Ia menjelaskan bahwa perempuan masa kini diajarkan untuk mengukur martabat atau harga diri mereka berdasarkan faktor-faktor eksternal.

 

“Bagi perempuan yang bekerja, memegang jabatan atau posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain dianggap sebagai tanda keunggulan. Demikian pula, memiliki rumah yang besar atau mewah dipandang lebih baik daripada apa yang dimiliki orang lain,” jelasnya.

 

Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa pola pikir itu membuat perempuan memandang peran sejati mereka—yaitu sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengelola rumah tangga)—sebagai hal yang kurang penting.

 

“Kita melihat bahwa peran ini kini dianggap sebagai peran kelas dua, padahal ini adalah peran yang paling mulia di mata Allah Swt.,” tegasnya.

 

Ia mengibaratkan masyarakat yang rapuh—yang minim pendidikan agama—seperti sebuah rumah dengan batu bata yang retak.

 

“Jika kita mengabaikan retakan-retakan halus pada batu bata tersebut, pada akhirnya rumah itu akan roboh dan hancur,” ujarnya.

 

Dengan demikian, ia berpendapat bahwa masyarakat Islam yang ideal harus dibangun di atas satu landasan, yaitu akidah Islam.

 

"Jika kita ingin membentuk masyarakat Islam yang ideal—masyarakat Muslim—maka segala sesuatunya harus didasarkan pada satu hal yaitu akidah Islam," ujarnya.

 

Ia juga mengutip perkataan Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seraya menegaskan bahwa masyarakat bukanlah sekadar ruang hampa atau kumpulan individu yang terisolasi; melainkan para anggotanya terikat satu sama lain oleh tiga unsur.

 

"Pertama, afkar, pemikiran bersama. Kedua, mashair, perasaan bersama. Ketiga, anzimah, sistem yang mengatur kita semua. Oleh karena itu, dalam masyarakat yang ideal, semua unsur ini harus dimiliki bersama," pungkasnya.[] Syamsiyah Jamil

Opini

×
Berita Terbaru Update