TintaSiyasi.id -- Mantan Pengusaha Early Childhood Education Puan Siti Zaidah Mohammad berpendapat bahwa rapuhnya rumah tangga dan dangkalnya pendidikan Islam di tengah masyarakat bermula dari masuknya ideologi-ideologi asing.
"Pada dasarnya, kapitalisme
berakar pada sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari.
Paham ini menyusup secara halus ke dalam pola pikir, hingga akhirnya membuat
kita memandang agama sekadar sebagai urusan ritual belaka," ujarnya dalam Talkshow
‘Be an Amazing Ummah' di Putrajaya, Sabtu (04/07/2026).
"Akibatnya adalah kekacauan
identitas—atau krisis identitas. Inilah yang justru sedang dialami oleh banyak
perempuan muda saat ini, karena sebagian besar dari mereka terjebak dalam pola
pikir Barat," tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa perempuan
masa kini diajarkan untuk mengukur martabat atau harga diri mereka berdasarkan
faktor-faktor eksternal.
“Bagi perempuan yang bekerja,
memegang jabatan atau posisi yang lebih tinggi dibandingkan orang lain dianggap
sebagai tanda keunggulan. Demikian pula, memiliki rumah yang besar atau mewah
dipandang lebih baik daripada apa yang dimiliki orang lain,” jelasnya.
Ia lebih lanjut menjelaskan bahwa
pola pikir itu membuat perempuan memandang peran sejati mereka—yaitu sebagai ummu
wa rabbatul bait (ibu dan pengelola rumah tangga)—sebagai hal yang kurang
penting.
“Kita melihat bahwa peran ini
kini dianggap sebagai peran kelas dua, padahal ini adalah peran yang paling
mulia di mata Allah Swt.,” tegasnya.
Ia mengibaratkan masyarakat yang
rapuh—yang minim pendidikan agama—seperti sebuah rumah dengan batu bata yang
retak.
“Jika kita mengabaikan
retakan-retakan halus pada batu bata tersebut, pada akhirnya rumah itu akan
roboh dan hancur,” ujarnya.
Dengan demikian, ia berpendapat
bahwa masyarakat Islam yang ideal harus dibangun di atas satu landasan, yaitu
akidah Islam.
"Jika kita ingin membentuk
masyarakat Islam yang ideal—masyarakat Muslim—maka segala sesuatunya harus
didasarkan pada satu hal yaitu akidah Islam," ujarnya.
Ia juga mengutip perkataan Syeikh
Taqiyuddin An-Nabhani, seraya menegaskan bahwa masyarakat bukanlah sekadar
ruang hampa atau kumpulan individu yang terisolasi; melainkan para anggotanya
terikat satu sama lain oleh tiga unsur.