Nasihat Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari dalam Tāj al-‘Arūs
Ungkapan yang dinisbatkan kepada beliau: “Allah mengumpulkan seluruh kebaikan dalam sebuah rumah. Kunci rumah itu adalah mengikuti Nabi Muhammad ﷺ.”
Pesan ini mengandung makna yang sangat luas. Kebaikan bukan sekadar mengetahui apa yang baik, tetapi menempuh jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah ﷺ.
1. Rasulullah ﷺ adalah Teladan dalam Seluruh Kebaikan
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ bukan hanya teladan dalam ibadah ritual.
Beliau adalah teladan dalam:
• keimanan,
• ibadah,
• akhlak,
• kesabaran,
• keluarga,
• pendidikan,
• kepemimpinan,
• muamalah,
• perjuangan,
• kasih sayang,
• keberanian,
• keadilan,
• dan pengabdian kepada umat.
Karena itu, mengikuti Rasulullah ﷺ berarti berusaha menjadikan kehidupan beliau sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan.
2. Mengikuti Rasulullah ﷺ Adalah Bukti Cinta kepada Allah
Allah SWT memberikan ukuran yang sangat jelas tentang cinta kepada-Nya:
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
(QS. Ali ‘Imran: 31)
Perhatikan urutannya.
Cinta kepada Allah → mengikuti Rasulullah ﷺ → mendapatkan cinta Allah.
Ini luar biasa.
Seseorang mungkin berkata, “Saya mencintai Allah.” Tetapi cinta itu harus dibuktikan dengan ittibā’ kepada Rasulullah ﷺ.
Sebab cinta yang sejati bukan hanya perasaan di dalam hati. Cinta melahirkan kepatuhan.
Orang yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ akan berusaha mencintai apa yang beliau cintai, menjalankan apa yang beliau ajarkan, meninggalkan apa yang beliau larang, dan menghiasi dirinya dengan akhlak beliau.
3. Mengapa Mengikuti Rasulullah ﷺ Menjadi “Kunci Rumah Kebaikan”?
Rumah adalah tempat berkumpulnya berbagai hal.
Demikian pula “rumah kebaikan” secara maknawi merupakan tempat berkumpulnya berbagai bentuk kebajikan.
Di dalamnya ada:
iman, ilmu, ibadah, ikhlas, sabar, syukur, tawakal, zuhud, kasih sayang, kejujuran, amanah, keadilan dan akhlak mulia.
Tetapi rumah itu membutuhkan kunci.
Dan kuncinya adalah:
Ittibā’ Rasulullah ﷺ.
Mengapa?
Karena Rasulullah ﷺ telah menunjukkan bagaimana semua nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Beliau mengajarkan bagaimana beribadah tanpa kehilangan akhlak; bekerja tanpa kehilangan akhirat; memiliki harta tanpa menjadi budaknya; berkuasa tanpa menjadi zalim; dan mencintai manusia tanpa melupakan Allah.
4. Jangan Mencari Jalan Spiritual di Luar Jalan Rasulullah ﷺ
Inilah salah satu pelajaran penting dalam tradisi tasawuf yang sehat.
Hakikat tidak boleh dipisahkan dari syariat.
Semakin seseorang ingin dekat kepada Allah, seharusnya semakin kuat pula kepatuhannya kepada Rasulullah ﷺ.
Semakin tinggi maqam spiritual seseorang, seharusnya semakin rendah hati, semakin banyak mengikuti sunnah, semakin baik akhlaknya, dan semakin jauh dari kesombongan.
Bukan sebaliknya.
Jika seseorang mengaku telah mencapai kedekatan kepada Allah tetapi meremehkan syariat, maka klaim spiritual tersebut perlu dipertanyakan.
Sebab Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mengenal Allah, tetapi beliau justru merupakan manusia yang paling sempurna dalam ketaatan.
5. Mengikuti Rasulullah ﷺ Bukan Sekadar Penampilan
Ittibā’ bukan hanya persoalan simbol lahiriah.
Ia mencakup lahir dan batin.
Mengikuti Rasulullah ﷺ dalam lahir berarti mengikuti petunjuk beliau dalam ibadah dan muamalah.
Mengikuti Rasulullah ﷺ dalam batin berarti berusaha meneladani:
• keikhlasan beliau,
• kasih sayang beliau,
• kesabaran beliau,
• tawakal beliau,
• keberanian beliau,
• ketawadhuan beliau,
• kemurahan hati beliau,
• dan keteguhan beliau dalam kebenaran.
Karena itu, jangan sampai seseorang sibuk memperindah penampilan tetapi melupakan akhlak.
Sunnah bukan sekadar sesuatu yang dikenakan. Sunnah juga sesuatu yang dihidupkan.
6. Mengikuti Rasulullah ﷺ dalam Keluarga
Rasulullah ﷺ adalah teladan dalam kehidupan rumah tangga.
Beliau menunjukkan bahwa kekuatan seorang pemimpin keluarga bukan terletak pada kerasnya suara, tetapi pada kasih sayang, tanggung jawab, keteladanan dan kesabaran.
Maka seorang ayah yang ingin mengikuti Rasulullah ﷺ hendaknya bertanya:
“Apakah keluargaku merasakan kasih sayang dariku?”
Seorang ibu bertanya:
“Apakah rumahku menjadi tempat tumbuhnya iman dan akhlak?”
Suami bertanya:
“Apakah aku memperlakukan istriku dengan baik?”
Istri bertanya:
“Apakah aku membantu keluargaku mendekat kepada Allah?”
Mengikuti Rasulullah ﷺ menjadikan rumah bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat tumbuhnya keberkahan.
7. Mengikuti Rasulullah ﷺ dalam Mencari Rezeki
Rasulullah ﷺ juga mengajarkan etika dalam kehidupan ekonomi.
Islam tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia. Islam mengajarkan agar dunia berada di tangan, bukan di hati.
Mencari rezeki boleh.
Menjadi kaya boleh.
Menjadi pengusaha boleh.
Memiliki jabatan boleh.
Tetapi semuanya harus berada dalam bingkai amanah.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya bertanya:
“Apakah cara saya mendapatkan harta diridhai Allah?”
Bukan hanya:
“Berapa banyak harta yang saya dapatkan?”
Sebab rezeki yang sedikit tetapi halal dan berkah jauh lebih berharga daripada harta melimpah tetapi membawa seseorang semakin jauh dari Allah.
8. Mengikuti Rasulullah ﷺ dalam Menghadapi Ujian
Rasulullah ﷺ mengalami ujian yang sangat berat.
Beliau ditolak, dihina, disakiti, kehilangan orang-orang yang dicintai, menghadapi peperangan, dan memikul amanah dakwah yang sangat besar.
Namun beliau tidak berhenti.
Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Beliau tetap sabar.
Tetap berdakwah.
Tetap berharap kepada Allah.
Inilah pelajaran besar bagi kita:
Mengikuti Rasulullah ﷺ bukan berarti hidup tanpa masalah. Tetapi mengikuti beliau memberi kita cara yang benar untuk menghadapi masalah.
Ketika gagal → bersabar.
Ketika berhasil → bersyukur.
Ketika dizalimi → tidak melampaui batas.
Ketika diuji → kembali kepada Allah.
Ketika diberi kekuasaan → tetap amanah.
Ketika mendapatkan nikmat → tidak sombong.
9. Ittibā’ Mengubah Ilmu Menjadi Amal
Banyak orang mengetahui kebaikan.
Tetapi mengetahui kebaikan belum tentu melakukan kebaikan.
Seseorang dapat mengetahui tentang sabar, tetapi belum tentu sabar.
Dapat mengetahui tentang ikhlas, tetapi belum tentu ikhlas.
Dapat mengetahui tentang tawakal, tetapi belum tentu bertawakal.
Dapat mengetahui tentang zuhud, tetapi belum tentu hatinya tidak diperbudak dunia.
Maka Rasulullah ﷺ datang bukan hanya membawa pengetahuan tentang kebaikan, tetapi memberikan contoh nyata bagaimana kebaikan itu dijalankan.
Inilah keindahan ittibā’.
Ilmu menjadi amal.
Amal menjadi akhlak.
Akhlak menjadi karakter.
Karakter melahirkan kehidupan yang penuh keberkahan.
10. Ukuran Keberhasilan Bukan Sekadar Banyaknya Amal
Dalam perspektif spiritual, pertanyaan penting bukan hanya:
“Berapa banyak amal saya?”
Tetapi:
“Apakah amal saya sesuai dengan petunjuk Rasulullah ﷺ dan dilakukan dengan ikhlas karena Allah?”
Sebab amal membutuhkan dua hal penting:
Benar caranya dan benar niatnya.
Benar caranya berarti sesuai petunjuk syariat.
Benar niatnya berarti dilakukan karena Allah.
Di sinilah bertemu syariat dan hakikat.
Syariat membimbing tindakan.
Ikhlas membersihkan hati.
Ittibā’ membenarkan jalan.
11. Tanda Seseorang Benar-Benar Mengikuti Rasulullah ﷺ
Ada beberapa tanda yang dapat menjadi bahan introspeksi:
Pertama, semakin mengikuti Rasulullah ﷺ, semakin baik akhlaknya.
Kedua, semakin mengenal sunnah, semakin rendah hati.
Ketiga, semakin dekat kepada Allah, semakin takut berbuat maksiat.
Keempat, semakin banyak ilmu, semakin sedikit kesombongan.
Kelima, semakin kuat ibadah, semakin besar kasih sayangnya kepada manusia.
Keenam, ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur.
Ketujuh, ketika mendapatkan ujian, ia bersabar.
Kedelapan, ketika memiliki kekuasaan, ia amanah.
Kesembilan, ketika memiliki harta, ia dermawan.
Kesepuluh, ketika disakiti, ia berusaha mengendalikan dirinya dan menyerahkan urusan kepada Allah.
Itulah buah dari mengikuti manusia paling mulia, Rasulullah Muhammad ﷺ.
12. Dari Mengagumi Rasulullah ﷺ Menuju Mengikuti Rasulullah ﷺ
Ada perbedaan antara mengagumi dan mengikuti.
Mengagumi Rasulullah ﷺ membuat kita senang mendengar kisah beliau.
Mengikuti Rasulullah ﷺ membuat kita berusaha mengubah diri berdasarkan teladan beliau.
Mengagumi membuat kita berkata:
“Betapa mulianya akhlak Rasulullah.”
Mengikuti membuat kita bertanya:
“Bagaimana aku bisa memiliki akhlak seperti itu?”
Mengagumi membuat hati terharu.
Ittibā’ membuat kehidupan berubah.
13. Jalan Menuju Allah Bukan Jalan yang Kita Ciptakan Sendiri
Manusia sering ingin mencari jalan tercepat menuju kebahagiaan.
Ada yang mengejar kekayaan.
Ada yang mengejar popularitas.
Ada yang mengejar jabatan.
Ada yang mengejar pengalaman spiritual.
Tetapi Islam mengajarkan bahwa jalan menuju Allah telah ditunjukkan.
Allah berfirman:
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
“ Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-An‘am: 153)
Maka jangan mencari keselamatan dengan mengikuti hawa nafsu.
Jangan mencari kedekatan kepada Allah dengan meninggalkan petunjuk Rasulullah ﷺ.
Jalan keselamatan adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah ﷺ.
14. Pesan Sufistik Ibnu ‘Athaillah
Nasehat Ibnu ‘Athaillah ini sebenarnya mengandung pendidikan jiwa yang sangat dalam.
Ia mengajarkan bahwa seorang salik—orang yang berjalan menuju Allah—tidak boleh hanya sibuk mengejar pengalaman spiritual.
Ia harus memperhatikan adab, syariat, sunnah, akhlak dan keikhlasan.
Sebab kedekatan kepada Allah bukan diukur dari seberapa banyak seseorang berbicara tentang maqam spiritual, tetapi dari seberapa jauh dirinya dibentuk oleh ketaatan kepada Allah dan keteladanan Rasulullah ﷺ.
Maka semakin tinggi seseorang dalam perjalanan spiritualnya, seharusnya semakin kuat ittibā’-nya kepada Rasulullah ﷺ.
Penutup: Bukalah Rumah Kebaikan Itu
Bayangkan di hadapan kita ada sebuah rumah.
Di dalamnya terdapat:
ketenangan, keberkahan, ilmu, iman, akhlak, kesabaran, keikhlasan, cinta kepada Allah, kebahagiaan dunia dan keselamatan akhirat.
Rumah itu bukan tidak ada.
Rumah itu telah disediakan.
Tetapi kita membutuhkan kunci.
Dan kunci itu adalah:
Mengikuti Rasulullah Muhammad ﷺ.
Maka jangan hanya mencintai nama beliau.
Ikutilah jalannya.
Jangan hanya memperbanyak shalawat di lisan.
Hidupkanlah sunnah beliau dalam kehidupan.
Jangan hanya menangisi kisah perjuangan beliau.
Lanjutkanlah perjuangan kebaikan dengan kemampuan yang kita miliki.
Jangan hanya mengagumi akhlak beliau.
Jadikan akhlak beliau sebagai cermin untuk memperbaiki diri.
Sebab pada akhirnya, cinta yang benar akan melahirkan ittibā’, dan ittibā’ yang benar akan melahirkan kebaikan.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, istiqamah di jalan beliau, dan dikumpulkan bersama beliau di dalam rahmat Allah SWT.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
“Ya Allah, jadikanlah kami bukan hanya orang yang mengenal Rasul-Mu, tetapi orang yang mencintai, mengikuti, meneladani dan istiqamah di atas jalan beliau.”
Dr Nasrul Syarif M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa.
