TintaSiyasi.id -- Pengasuh BKI Ma’had Wakaf Syaraful Haramain Nyai Hj. Siti Rofida mengatakan bahwa hasad atau dengki merupakan penyakit hati yang dapat merusak ukhuah sesama umat Islam. "Hasad ini sangat mengganggu ukhuah islamiah," ujarnya dalam tayangan YouTube Sultan Channel pada program Tazkiyatun Nafs Cahaya Muslimah, Senin (27/07/2026).
Ia menambahkan, Rasulullah saw.
telah mengingatkan bahaya hasad karena sifat tersebut dapat memicu permusuhan
dan merusak persaudaraan di antara sesama muslim.
"Nabi saw. menghubungkan
larangan hasad dengan ukhuah islamiah karena sifat ini memang mengganggu
hubungan sesama Muslim. Kalau kita berteman dengan orang yang memiliki penyakit
hati seperti ini, kita sendiri tidak akan merasa nyaman," katanya.
Ia menjelaskan bahwa rasa iri
pada awalnya hanya berupa perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh
nikmat, tanpa disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang.
"Sebenarnya iri itu belum
sampai menginginkan nikmat orang lain hilang. Orang lain mendapat nikmat,
sementara saya tidak, itulah yang disebut iri," ujarnya.
Namun, menurutnya, jika perasaan
iri tersebut tidak dikelola dengan baik, maka dapat berkembang menjadi hasad
atau dengki, yaitu berharap nikmat yang dimiliki orang lain hilang.
"Ketika sudah naik kelas,
iri itu menjadi hasad atau dengki. Apa yang terjadi? Seseorang mulai berharap
nikmat yang dimiliki orang lain hilang," katanya.
Selain itu, ia mengatakan bahwa
persaingan dan sikap individualistis dalam sistem kapitalisme turut
mempengaruhi cara manusia memandang nikmat yang dimiliki orang lain.
Menurutnya, manusia menjadi
semakin mudah membandingkan diri, mengejar kelebihan materi, dan menjadikan
keberhasilan orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan serta kesejahteraan
hidup.
"Kita sudah terlanjur hidup
dalam sistem kapitalis. Di dalamnya ada sikap individualistis dan materialistis
yang mendominasi. Media sosial juga sangat mengganggu. Ketika melihat kehidupan
orang lain, muncul perasaan, 'Enak sekali hidupnya.' Lalu rasa iri itu semakin
bertambah," katanya.
Ia juga menekankan pentingnya
setiap pendakwah membersihkan hati dari sifat hasad karena penyakit hati
tersebut dapat melemahkan kekuatan dan persatuan dalam perjuangan dakwah.
"Meskipun seseorang sudah
memahami Islam atau memiliki akidah yang kuat, tetap saja dia manusia. Sifat
hasad bisa menghinggapi siapa pun," ujarnya.
Menurutnya, dakwah akan semakin
kokoh apabila para pelakunya bergaul dengan penuh keikhlasan, husnuzan, saling
mendoakan, serta terus bermuhasabah, dan mengendalikan perasaan negatif.
"Berkumpullah dengan
orang-orang yang bersih hatinya. Orang yang bersih akan terhubung dengan
orang-orang yang juga bersih. Dari situlah dakwah akan menjadi lebih mudah dan ukhuah
islamiah semakin kuat," pesannya.
Menutup penyampaiannya, ia
membagikan cara mengendalikan rasa hasad agar tidak merusak hubungan sesama
muslim maupun melemahkan kekuatan umat Islam.
Menurutnya, seseorang perlu terus
memperkuat keimanan, mengelola rasa iri ketika muncul, serta mendoakan kebaikan
bagi orang lain.