Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

HILMI: Takwa Menjadi Fondasi Lahirnya Ekosistem Ilmu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 14:58 WIB Last Updated 2026-08-11T07:58:58Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa lahirnya tradisi keilmuan tidak hanya bertumpu pada kecerdasan seorang ilmuwan, tetapi membutuhkan ekosistem yang dibangun dengan integritas, kedermawanan, pendidikan, dan kesungguhan menggunakan harta untuk menuntut ilmu.

 

“Lahirnya ilmu tidak pernah sepenuhnya merupakan pekerjaan individual. Di dalamnya ada kejujuran, kesabaran, amanah, kedermawanan, dan kesungguhan seorang penuntut ilmu mengubah harta menjadi kertas, perjalanan, dan pengetahuan,” tegas HILMI kepada TintaSiyasi.ID.

 

Penegasan tersebut termuat dalam Letter to Intellectuals No. 009 bertajuk Ketakwaan sebagai Landasan Ekosistem Ilmu: Kisah Kejujuran Abū Ghiyāṡ & Perjalanan Intelektual al-Ṭabarī yang dikeluarkan pada Senin (03/08/2026).

 

Dokumen itu mengangkat kisah Abū Ghiyāṡ al-Makkī, seorang lelaki miskin di Makkah, yang menemukan kantong berisi seribu dinar milik seorang saudagar dari Khurasan. Alih-alih mengambil harta tersebut karena kebutuhan ekonomi, Abū Ghiyāṡ berusaha mengembalikannya kepada pemiliknya.

 

Bahkan, dalam kondisi keluarganya yang hidup dalam kemiskinan, ia tetap menolak menggunakan harta tersebut. Al-Ṭabarī yang mengikuti Abū Ghiyāṡ sampai ke rumahnya mengetahui bahwa lelaki itu hidup bersama istri, empat anak perempuan, dua saudara perempuan, dan ibu mertuanya dalam kondisi serba kekurangan.

 

“Setelah menjaga kehormatan dan kejujurannya selama 86 tahun, ia tidak akan membakar amal hidupnya dengan mengambil harta yang bukan miliknya. Kemiskinan tidak dijadikannya alasan untuk berkhianat,” nukil HILMI dari kisah tersebut.

 

Kejujuran itu kemudian berbuah di luar dugaan. Setelah menerima kembali seribu dinarnya secara utuh, saudagar Khurasan tersebut mengetahui kondisi Abū Ghiyāṡ. Ia lalu memberikan seribu dinar yang memang telah dibawanya dari Khurasan untuk disedekahkan kepada orang yang dinilai paling berhak.

 

Seribu dinar itu kemudian dibagi rata oleh Abū Ghiyāṡ kepada sepuluh orang, termasuk al-Ṭabarī. Masing-masing memperoleh seratus dinar. Namun, bagi al-Ṭabarī, nilai pemberian tersebut bukan terletak pada uangnya, melainkan pada kesempatan yang lahir darinya untuk menuntut ilmu.

 

“Dengan uang itu aku menulis atau mempelajari ilmu selama dua tahun. Aku membiayai hidup darinya, membeli kertas, melakukan perjalanan, dan membayar upah,” ungkap al-Ṭabarī sebagaimana dikutip dalam dokumen tersebut.

 

HILMI menjelaskan, pada masa sebelum mesin cetak, biaya kertas, perjalanan, penyalinan kitab, makanan, dan kebutuhan belajar merupakan bagian penting dalam perjalanan seorang penuntut ilmu. Karena itu, seratus dinar tersebut pada hakikatnya telah membeli waktu dan kesempatan bagi al-Ṭabarī untuk belajar.

 

Dari sinilah terlihat bahwa ilmu tidak lahir dari usaha individual semata. Ada mata rantai amanah yang saling menopang: seseorang menjaga harta, seseorang menunaikan wasiat, keluarga bersedia berbagi, dan seorang penuntut ilmu mengubah bantuan tersebut menjadi pengetahuan.

 

“Abū Ghiyāṡ mengajarkan bahwa kemiskinan tidak membenarkan pengkhianatan. Saudagar Khurasan mengajarkan bahwa kekayaan menemukan maknanya ketika diberikan kepada orang yang tepat. Al-Ṭabarī mengajarkan bahwa bantuan sekecil apa pun dapat menjadi sangat besar apabila digunakan untuk ilmu,” paparnya.

 

Dalam perspektif HILMI, ekosistem semacam itu juga tidak lahir dalam satu malam. Dokumen tersebut mengaitkannya dengan peran Daulah Islam selama berabad-abad sejak hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah dalam menyediakan pendidikan dasar serta membentuk generasi yang bertakwa.

 

Al-Ṭabarī kemudian menghasilkan karya yang dibaca lintas generasi. Tafsirnya menjadi rujukan dalam memahami riwayat-riwayat penafsiran generasi awal, sedangkan karya sejarahnya menjadi salah satu sumber penting dalam merekonstruksi sejarah Islam klasik.

 

HILMI pun menempatkan kisah seratus dinar tersebut sebagai gambaran investasi pendidikan. Harta yang dikonsumsi akan habis, sementara harta yang diubah menjadi ilmu dapat melahirkan manfaat yang melampaui ruang dan waktu.

 

“Seratus dinar di tangan al-Ṭabarī berubah menjadi dua tahun kehidupan ilmiah, dan dua tahun itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang kelak menghasilkan warisan intelektual berusia lebih dari seribu tahun,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update