Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan adanya kesepakatan terkait pelucutan senjata Hamas di Gaza. Kebijakan ini disebutnya sebagai langkah penting dalam upaya mewujudkan perdamaian di kawasan tersebut.
Dilansir dari Detik News yang mengutip kantor berita AFP (31/7/2026), Trump menyampaikan bahwa Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian telah berhasil mencapai kesepakatan untuk melakukan pelucutan senjata, tidak hanya terhadap Hamas, tetapi juga kelompok-kelompok bersenjata lainnya yang berada di Gaza.
Skema ini semakin jelas ketika pelucutan senjata dikaitkan dengan kehadiran pasukan stabilitas internasional dan restrukturisasi keamanan di Gaza. Alih-alih membebaskan, kehadiran pihak asing justru berpotensi mengunci Palestina dalam kendali kekuatan global. Inilah bentuk nyata dari Balance of Power (BoP) yang selama ini dipromosikan Barat: menciptakan keseimbangan semu dengan cara melemahkan pihak yang tertindas, sementara penjajah tetap bebas melanjutkan agresinya. Lebih ironis lagi, narasi pembangunan seperti proyek “New Gaza” digulirkan dengan dalih kemanusiaan, seolah-olah penjajahan yang telah berlangsung puluhan tahun dapat dihapus dengan proyek kosmetik.
Umat Islam perlu menyadari bahwa menerima skema ini sama saja menyerahkan Gaza ke dalam “mulut harimau.” Ketika kelompok perlawanan dilucuti, sementara Zionis Israel tetap bersenjata dan agresif, maka yang terjadi bukan perdamaian, melainkan penaklukan total. Sayangnya, kesadaran untuk menolak konsep BoP hari ini mulai memudar. Banyak yang terjebak pada ilusi diplomasi global tanpa melihat fakta bahwa sistem internasional justru berpihak pada kepentingan negara adidaya.
Lebih dari itu, keterlibatan sejumlah pemimpin negeri Muslim dalam skema ini menunjukkan adanya krisis kepemimpinan. Alih-alih membela Palestina, sebagian justru bersekutu dengan kekuatan yang nyata-nyata menindas. Sikap ini bukan hanya bentuk kelemahan, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanah umat. Oleh karena itu, kritik dan koreksi terhadap para pemimpin tersebut menjadi sebuah keniscayaan.
Pada akhirnya, pembebasan Palestina tidak akan pernah terwujud melalui skema buatan Barat. Sejarah telah membuktikan bahwa penjajahan tidak akan berhenti hanya dengan negosiasi yang timpang. Solusi hakiki terletak pada persatuan umat Islam dalam satu kepemimpinan yang kuat, yaitu Khilafah Islam. Di bawah kepemimpinan inilah, kekuatan umat dapat disatukan untuk melindungi kaum Muslimin dan mengakhiri penjajahan secara nyata.
Keyakinan ini bukan sekadar retorika, tetapi berangkat dari fakta sejarah bahwa hanya dengan kekuatan politik dan militer yang independen, umat Islam mampu menjaga wilayahnya dari agresi musuh. Dengan demikian, harapan pembebasan Palestina sejatinya bergantung pada kesadaran umat untuk kembali bersatu dan mengambil peran dalam perjuangan yang hakiki, bukan terjebak dalam skenario perdamaian semu yang justru menguntungkan penjajah.
Wawlahua'lam Bishowabb.
Oleh. Salma Rafida (Aktivis Muslimah)
