Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Doa Tanpa Ikhtiar, HILMI: Pelarian dari Tanggung Jawab Perubahan

Senin, 03 Agustus 2026 | 16:48 WIB Last Updated 2026-08-03T09:48:45Z

TintaSiyasi.id -- Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan bahwa doa tidak boleh dipisahkan dari ikhtiar, sebab permohonan kepada Allah tanpa kesediaan memperbaiki sebab-sebab kerusakan hanya akan menjadikan doa sebagai pelarian dari tanggung jawab perubahan.

 

“Doa tidak boleh dipisahkan dari ikhtiar, sebab permohonan kepada Allah tanpa kesediaan memperbaiki sebab-sebab kerusakan hanya akan menjadikan doa sebagai pelarian dari tanggung jawab perubahan,” tegas HILMI dalam Letter to Intellectuals No. 005 bertajuk Ketika Doa Belum Ijabah: Iman, Ikhtiar, dan Tanggung Jawab Mengubah.

 

HILMI menjelaskan, selama bertahun-tahun umat Islam memanjatkan doa agar Palestina dibebaskan dari penjajahan, sementara masyarakat Indonesia berdoa agar negeri ini terbebas dari korupsi, kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. “Namun kenyataan di lapangan kerap belum menunjukkan perubahan yang diharapkan,” sebutnya.

 

“Pertanyaan ‘Apakah Tuhan mendengar doa-doa itu?’ sering muncul bukan karena kebencian terhadap agama, tetapi karena kelelahan moral ketika menyaksikan penderitaan dan kezaliman yang terus berlangsung,” ulasnya kepada TintaSiyasi.ID pada Senin (20/07/2026).

 

Menurut HILMI, persoalan tersebut tidak cukup dijawab dengan dalih takdir. “Islam memandang dunia bukan sebagai tempat keadilan final, melainkan arena ujian bagi manusia,” tegasnya.

 

“Allah SWT berfirman, ‘Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.’,” kutipnya QS Al-Mulk ayat 2.

 

Karena itu, lanjut HILMI, keberadaan penjajahan, korupsi, pembunuhan, dan berbagai bentuk kemungkaran bukan bukti bahwa Allah merestuinya. “Semua itu dapat terjadi akibat pilihan manusia, struktur kekuasaan, dan hukum sebab-akibat yang berjalan di tengah masyarakat,” bebernya.

 

Ia juga mengingatkan bahwa doa bukan mesin otomatis yang memaksa Allah mengikuti jadwal manusia.

 

“Doa adalah ibadah, pengakuan kelemahan, dan bentuk hubungan seorang hamba dengan Penciptanya,” jelasnya.

 

Dalam pandangan HILMI, ijabah tidak selalu berarti seluruh permintaan diwujudkan saat itu juga. “Sebuah doa bisa dikabulkan dengan cara yang berbeda, ditunda, diganti dengan kebaikan lain, dijauhkan dari bahaya, atau disimpan sebagai pahala di akhirat,” tuturnya.

 

Meski demikian, HILMI menolak pemahaman yang menjadikan qada dan qadar sebagai alasan untuk pasif.

 

“Manusia tidak diperintahkan menunggu takdir, tetapi diperintahkan berikhtiar,” tandasnya.

 

Ia mencontohkan petani yang tetap menanam meski tidak mengetahui hasil panennya, pasien yang tetap berobat meski belum mengetahui kesembuhannya, dan sebuah bangsa yang tetap wajib membangun ilmu, ekonomi, persatuan, serta kekuatan meskipun belum mengetahui kapan penjajahan akan berakhir.

 

HILMI menilai persoalan doa juga berkaitan dengan kewajiban amar makruf nahi mungkar yang sering diabaikan oleh masyarakat.

 

Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar. Jika tidak, Allah akan menimpakan kepada kalian suatu hukuman dari-Nya, lalu kalian berdoa kepada-Nya, tetapi doa kalian tidak dikabulkan,” sitatnya dari hadis riwayat Al-Tirmidzi.

 

Menurut HILMI, hadis tersebut menjadi peringatan bahwa masyarakat tidak cukup hanya meminta hilangnya akibat, sementara sebab-sebab kemungkaran terus dipelihara.

 

“Korupsi yang dinormalisasi, kebodohan yang dibiarkan, serta sikap diam terhadap kemungkaran dapat menghilangkan bobot moral doa kolektif sebuah masyarakat,” urainya.

 

Karena itu, HILMI menegaskan bahwa doa untuk Palestina harus diiringi upaya nyata berupa solidaritas, bantuan kemanusiaan, penguatan diplomasi, pengembangan teknologi, dan pembangunan kemandirian ekonomi umat.

 

“Begitu pula doa agar Indonesia terbebas dari korupsi harus dibarengi reformasi politik, transparansi anggaran, penegakan hukum yang independen, perlindungan pelapor, dan pendidikan integritas,” ujarnya.

 

“Doa tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi pelarian. Ikhtiar tanpa doa dapat berubah menjadi kesombongan. Islam menyatukan keduanya,” simpulnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update