Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Kebangkitan Umat Tidak Lahir dari Keluhan, tetapi…

Senin, 03 Agustus 2026 | 16:48 WIB Last Updated 2026-08-03T09:48:48Z

TintaSiyasi.id -- Kebangkitan umat dinyatakan oleh Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) tidak akan lahir dari keluhan dan harapan kosong semata, melainkan dari keberanian menjalankan amar makruf nahi mungkar serta kesungguhan menghilangkan sebab-sebab kerusakan yang melahirkan penjajahan, korupsi, dan kebodohan.

 

“Kebangkitan umat tidak akan lahir dari keluhan dan harapan kosong semata, melainkan dari keberanian menjalankan amar makruf nahi mungkar serta kesungguhan menghilangkan sebab-sebab kerusakan yang melahirkan penjajahan, korupsi, dan kebodohan,” lugas HILMI dalam Letter to Intellectuals No. 005.

 

HILMI memandang, salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah ketika masyarakat hanya mempertanyakan mengapa doa belum dikabulkan, tetapi enggan mengoreksi dirinya sendiri.

 

“Pertanyaan yang tepat bukan hanya ‘Apakah Tuhan mendengar?’, tetapi juga ‘Apakah kita telah mendengar perintah Tuhan?’,” sorotnya dalam dokumen bertema Ketika Doa Belum Ijabah: Iman, Ikhtiar, dan Tanggung Jawab Mengubah.

 

Dalam dokumen yang dirilis kepada TintaSiyasi.ID pada Senin (20/07/2026) tersebut dijelaskan bahwa Rasulullah saw. telah memperingatkan bahaya membiarkan kemungkaran tumbuh menjadi sistem.

 

“Jika kemungkaran dibiarkan, korupsi dinormalisasi, kebodohan dipelihara, dan orang-orang yang mampu memilih diam, maka doa kolektif dapat kehilangan bobot moralnya,” bebernya.

 

HILMI kemudian menyoroti isu Palestina sebagai contoh bahwa penjajahan tidak cukup dilawan dengan retorika.

 

“Penjajahan adalah persoalan politik, militer, ekonomi, teknologi, hukum, diplomasi, dan media,” paparnya.

 

Karena itu, ia menyerukan pembangunan solidaritas, bantuan kemanusiaan, penguatan diplomasi, penguasaan teknologi, kemandirian ekonomi, serta penghentian segala bentuk dukungan terhadap penjajahan.

 

“Pertanyaan mengapa Allah belum menolong Palestina harus dilengkapi dengan pertanyaan mengapa manusia yang memiliki kemampuan untuk menolong belum menunaikan kewajibannya,” ujarnya.

 

Selain Palestina, HILMI menyoroti persoalan korupsi yang terus menjadi penyakit kronis di Indonesia.

 

Indonesia disebut sering berdoa agar terbebas dari korupsi, tetapi pada saat yang sama sebagian masyarakat masih membiarkan praktik politik uang, nepotisme, manipulasi laporan, dan berbagai bentuk ketidakjujuran dalam kehidupan sehari-hari.

 

“Doa antikorupsi harus diwujudkan melalui reformasi pembiayaan politik, transparansi anggaran, penegakan hukum yang independen, perlindungan pelapor, pendidikan integritas, dan keteladanan pemimpin,” tegasnya.

 

HILMI juga mengingatkan bahwa kebodohan tidak selalu identik dengan rendahnya tingkat pendidikan formal.

 

Kebodohan dapat hidup di tengah masyarakat yang penuh ijazah melalui rendahnya literasi, budaya antikritik, penyebaran hoaks, fanatisme buta, manipulasi data, serta kebijakan yang tidak berbasis ilmu pengetahuan.

 

“Memohon ilmu sambil mengabaikan proses belajar adalah kontradiksi,” tandasnya.

 

HILMI turut menyinggung fenomena sebagian orang yang kehilangan keimanan akibat menyaksikan penderitaan dan kezaliman yang berkepanjangan. “Mereka tidak selalu membutuhkan bantahan logis semata, tetapi juga empati terhadap luka yang mereka rasakan,” serunya.

 

Dalam perspektif Islam, ia menyebut akhirat menjadi penyempurna keadilan yang tidak selalu hadir secara sempurna di dunia.

 

Janganlah sekali-kali engkau mengira Allah lengah terhadap apa yang dilakukan orang-orang zalim,” kutipnya dari QS Ibrahim ayat 42.

 

Karena itu, HILMI menegaskan bahwa Islam memadukan keyakinan kepada keadilan Allah dengan kewajiban memperjuangkan perubahan di dunia.

 

“Mungkin sebagian doa yang selama ini kita tunggu jawabannya sedang menunggu satu hal: kesediaan kita sendiri untuk menjadi bagian dari jalan datangnya jawaban tersebut,” pungkasnya.[] Rere

Opini

×
Berita Terbaru Update