Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Direktur IMuNe: Zionis Itu Adalah Gerakan Politik Bukan Teologis

Jumat, 28 Agustus 2026 | 14:20 WIB Last Updated 2026-08-28T07:20:12Z

TintaSiyasi.id -- Direktur Institut Muslimah Negarawan (IMuNe) Dr. Fika Komara menyatakan bahwa zionis itu adalah gerakan politik, bukan teologis. “Kita perlu membedakan bahwa zionis itu adalah gerakan politik bukan teologis,” tandasnya.

 

“Jadi perbincangannya hari ini bukan lagi di level teologis yang memang yang kita tahu itu juga salah satu yang mewarnai wacana Perang Salib yang sudah berabad-abad sebelumnya terjadi,” ujarnya dalam kanal Youtube Live Muslimah Insight bertajuk Tepi Barat Membara, New Gaza Semakin Nyata, Ahad (09/08/2026).

 

Ia menjelaskan bahwa doktrin keagamaan zionisme telah wujud sejak sekian lama dalam tradisi Yahudi, manakala zionisme sebagai sebuah ideologi politik berkembang kemudian, khususnya pada abad ke-19.

 

Menurutnya, perubahan daripada doktrin teologis kepada ideologi mencakupi doktrin tanah yang dijanjikan untuk membenarkan penjajahan ke atas Baitul Maqdis.

 

“Saya sebutkan misalkan di sini contoh doktrin teologis mereka yang diideologisasi oleh kapitalis adalah tanah yang dijanjikan Israel. Ini kan kemudian diideologisasi oleh British dan Amerika untuk mereka akhirnya membenarkan mereka menduduki tanah Baitul Maqdis,” ungkapnya.

 

Ia menerangkan bagaimana doktrin zionisme disesuaikan dengan keadaan semasa untuk menguasai tanah, ekonomi dan politik, termasuk melalui kekuatan dan strategi ketenteraan.

 

“Zionisme ini selalu melakukan reproduksi dan berusaha selalu relevan dengan zaman dan doktrin mereka itukan menguasai tanah dan ekonomi,” serunya.

 

“Tentu ujungnya juga dengan ketenteraan. Kenapa sekarang penguasa terbelenggu dengan Board of Peace? Pasti ada, pasti mereka juga ada strategi di situ,” terangnya.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa setiap produk yang diusahakan jaringan zionisme mempunyai nilai yang dapat dilihat melalui kempen dan narasi mereka.

 

“Masyarakat perlu memahami nilai tersebut serta meningkatkan kesedaran bahwa doktrin zionisme telah berkembang dengan kepentingan kapitalisme.

 

“Dari campaign dan narasi mereka, di sinilah diperlukan kedalaman berpikir dan kesadaran ideologi Islam karena doktrin-doktrin teologis zionis ini telah menjelma terideologisasi bahkan terkapitalisasi,” katanya.

 

Ia mencontohkan, keadaan yang berlaku di Malaysia dengan  konsep network state yang diperkenalkan oleh tokoh teknologi Silicon Valley yang diinspirasikan daripada pembentukan negara Yahudi.

 

“Seperti contoh soal network state. Ternyata Balaji Srinivasan itu tokoh teknologis Silicon Valley yang mendirikan Network School di Forest City Malaysia itu menulis sebuah buku Network State negara jaringan, " bebernya.

 

Ia melanjutkan dengan persoalan, "Kenapa dia menulis itu? Padahal dia orang India keturunan India. Orang Amerika, keturunan India yang bekerja di Silicon Valley.”

 

“Terinspirasi dengan negara Yahudi. Kerana dulu Yahudi itu diaspora yang tersebar. Kemudian sekarang dengan tanah yang terjanjikan mereka ada di situ dan dia meniru dan mengembangkannya,” terangnya.

 

Ia menekankan perlunya edukasi untuk meningkatkan taraf pemikiran umat dalam memahami kedudukan Palestina.

 

“Walaupun pengaruh Amerika semakin menurun dari sudut geopolitik, jaringan zionisme masih berusaha mengekalkan pengaruhnya,” ujarnya.

 

“Harus ada edukasi yang diperlakukan untuk meningkatnya taraf berpikir dan di sisi lain secara geopolitik ini menunjukkan Amerika sebenarnya menurun secara kenegaraannya tetapi jaringan-jaringan zionis ini tetap berusaha mendapatkan tempatnya,” simpulnya.[] Rahmah

Opini

×
Berita Terbaru Update