Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Apa Hakikat Dunia?

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 18:09 WIB Last Updated 2026-08-29T11:09:52Z


TintaSiyasi.id -- Seorang laki-laki berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Amirul Mukminin, gambarkanlah kepada kami hakikat dunia!” Beliau menjawab: “Bagaimana aku menggambarkan sebuah tempat yang permulaannya penuh kepayahan, akhirnya adalah kebinasaan (kematian), di dalam perkara halalnya terdapat pertanggungjawaban, sedangkan dalam perkara haramnya terdapat hukuman. Barang siapa merasa berkecukupan di dalamnya, ia dapat tertimpa fitnah; dan barang siapa hidup dalam kekurangan di dalamnya, ia akan bersedih.”

مَا هِيَ الدُّنْيَا؟

قَالَ رَجُلٌ لِعَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ:

صِفْ لَنَا الدُّنْيَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ؟ فَقَالَ:

 مَا أَصِفُ مِنْ دَارٍ أَوَّلُهَا عَنَاءٌ، وَآخِرُهَا فَنَاءٌ، فِي حَلَالِهَا حِسَابٌ، وَفِي حَرَامِهَا عِقَابٌ، مَنْ اسْتَغْنَى فِيهَا فُتِنَ، وَمَنْ افْتَقَرَ فِيهَا حَزِنَ.

Seorang laki-laki berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu: “Wahai Amirul Mukminin, gambarkanlah kepada kami hakikat dunia!”

Beliau menjawab: “Bagaimana aku menggambarkan sebuah tempat yang permulaannya penuh kepayahan, akhirnya adalah kebinasaan (kematian), di dalam perkara halalnya terdapat pertanggungjawaban, sedangkan dalam perkara haramnya terdapat hukuman. Barang siapa merasa berkecukupan di dalamnya, ia dapat tertimpa fitnah; dan barang siapa hidup dalam kekurangan di dalamnya, ia akan bersedih.”

DUNIA: TEMPAT SINGGAH, BUKAN TEMPAT TINGGAL

Dunia sering membuat manusia lupa bahwa ia sedang berjalan menuju akhirat.

Kita bekerja mengejar rezeki.
Membangun rumah.
Mengumpulkan harta.
Mengejar jabatan.
Mencari popularitas.
Mengejar pengakuan manusia.

Semua itu tidak salah.

Yang menjadi persoalan adalah ketika dunia berada di tangan, tetapi masuk terlalu dalam ke dalam hati.

Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia. Islam mengajarkan agar dunia tidak menjadi tujuan akhir kehidupan.

Allah SWT berfirman:

 وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Dunia boleh kita miliki, tetapi jangan sampai dunia memiliki kita.

1. “أَوَّلُهَا عَنَاءٌ” — Awalnya Penuh Kepayahan

Sejak manusia dilahirkan, hidup bukanlah perjalanan tanpa ujian.

Ada perjuangan, pendidikan, pekerjaan, sakit, kegagalan, kehilangan, konflik, dan berbagai persoalan kehidupan.

Bahkan mendapatkan sesuatu yang kita inginkan pun sering membutuhkan perjuangan.

Maka jangan heran jika kehidupan terasa berat.

Dunia memang bukan tempat untuk mencari kesempurnaan. Dunia adalah tempat untuk mencari bekal.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”
(QS. Al-Balad: 4)

Jangan terlalu kecewa ketika hidup tidak selalu mudah.

Bisa jadi kesulitan itulah yang sedang mendidik jiwa kita agar semakin dekat kepada Allah.

2. “وَآخِرُهَا فَنَاءٌ” — Ujungnya Adalah Kematian

Sehebat apa pun manusia, akhirnya akan meninggalkan dunia.

Orang kaya mati.
Orang miskin mati.
Pejabat mati.
Rakyat biasa mati.
Orang terkenal mati.
Orang yang tidak dikenal pun mati.

Tidak ada yang bisa membawa rumahnya ke dalam kubur.

Tidak ada yang bisa membawa rekening banknya.

Tidak ada yang bisa membawa jabatan.

Yang ikut bersama kita hanyalah amal.

Allah SWT mengingatkan:

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)

Karena itu, pertanyaan terpenting bukan:

“Berapa banyak yang telah saya miliki?”

Tetapi:

“Berapa banyak amal yang telah saya siapkan untuk menghadap Allah?”

3. “فِي حَلَالِهَا حِسَابٌ” — Yang Halal Pun Akan Dipertanggungjawabkan

Ini bagian yang sangat dalam.

Islam tidak mengatakan bahwa memiliki harta adalah dosa.

Harta yang halal adalah nikmat.

Tetapi nikmat tersebut akan menjadi amanah yang dipertanggungjawabkan.

Dari mana harta diperoleh?

Untuk apa dibelanjakan?

Apakah ada hak orang lain di dalamnya?

Apakah kita bersyukur atau justru menjadi sombong?

Maka jangan hanya bertanya:

“Apakah rezeki saya halal?”

Tambahkan pertanyaan:

“Apakah rezeki yang halal itu saya gunakan untuk sesuatu yang diridhai Allah?”

4. “وَفِي حَرَامِهَا عِقَابٌ” — Yang Haram Mengandung Hukuman

Ada manusia yang mengejar kekayaan dengan menghalalkan segala cara.

Korupsi.
Menipu.
Memakan hak orang lain.
Mengurangi timbangan.
Memanfaatkan amanah untuk kepentingan pribadi.

Secara lahiriah mungkin tampak sukses.

Tetapi kesuksesan yang dibangun di atas keharaman bukanlah keberkahan.

Sedikit tetapi halal dan berkah jauh lebih mulia daripada banyak tetapi mengandung dosa.

Sebab rezeki bukan hanya soal jumlah, tetapi juga soal keberkahan.

5. “مَنْ اسْتَغْنَى فِيهَا فُتِنَ” — Kekayaan Pun Bisa Menjadi Ujian

Kekayaan adalah nikmat.

Tetapi kekayaan juga fitnah, dalam arti ujian.

Ketika seseorang memiliki banyak uang, apakah ia semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh?

Ketika memiliki jabatan, apakah ia semakin rendah hati atau semakin sombong?

Ketika memiliki popularitas, apakah ia semakin bersyukur atau semakin haus pujian?

Jangan sampai nikmat yang seharusnya menjadi jalan menuju Allah justru menjadi hijab yang menjauhkan kita dari-Nya.

6. “وَمَنْ افْتَقَرَ فِيهَا حَزِنَ” — Kekurangan Bisa Mengundang Kesedihan

Sebaliknya, kemiskinan dan kekurangan juga merupakan ujian.

Orang yang tidak memiliki banyak harta bisa merasa rendah diri, kecewa, bahkan putus asa.

Padahal harga manusia di hadapan Allah tidak ditentukan oleh saldo rekeningnya.

Kemuliaan manusia ditentukan oleh ketakwaannya.

Allah SWT berfirman:

 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Maka jangan merasa hina karena sedikit harta.

Dan jangan merasa mulia hanya karena banyak harta.

Kaya jangan sombong. Miskin jangan putus asa.

Keduanya sama-sama sedang diuji.

 PELAJARAN BESAR: JADIKAN DUNIA DI TANGAN, BUKAN DI HATI

Ada orang yang miskin tetapi hatinya sangat terikat kepada dunia.

Ada pula orang yang kaya tetapi hatinya sangat dekat kepada Allah.

Jadi persoalannya bukan sekadar:

“Berapa banyak dunia yang kita miliki?”

Tetapi:

“Seberapa besar dunia menguasai hati kita?”

Kita boleh memiliki rumah besar, tetapi jangan sampai rumah itu membuat kita lupa kepada Allah.

Kita boleh memiliki kendaraan bagus, tetapi jangan sampai kendaraan itu membuat kita sombong.

Kita boleh memiliki jabatan tinggi, tetapi jangan sampai jabatan membuat kita menindas.

Kita boleh memiliki uang banyak, tetapi jangan sampai uang membuat kita kehilangan kepedulian kepada sesama.

Itulah zuhud yang sebenarnya: bukan membenci dunia, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai Tuhan di dalam hati.

 Rumus Kehidupan Seorang Mukmin

Carilah dunia dengan cara yang halal.
Nikmati secukupnya dengan rasa syukur.
Gunakan untuk kebaikan.
Jangan diperbudak olehnya.
Dan jadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.

Sebab kita tidak akan hidup selamanya.

Dunia adalah ladang.
Akhirat adalah tempat panen.

Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita petik kelak.

Maka mulai hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

“Jika malam ini Allah memanggilku pulang, apakah aku sudah siap?”

Bukan untuk membuat kita takut kepada kehidupan, tetapi agar kita hidup dengan kesadaran.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
Berusahalah dengan maksimal.
Cari rezeki yang halal.
Bangun keluarga yang baik.
Berbagi kepada sesama.
Perbanyak sedekah.
Jaga shalat.
Perbanyak dzikir dan istighfar.

Karena pada akhirnya, yang kita bawa bukanlah apa yang kita kumpulkan, tetapi apa yang kita persembahkan kepada Allah.

Renungan Penutup

Jangan sampai kita sibuk memperindah rumah, tetapi lupa memperindah hati.
Jangan sampai kita sibuk mengumpulkan harta, tetapi lupa mengumpulkan pahala.
Jangan sampai kita mengejar dunia sampai kehilangan akhirat.

Dunia hanya sementara.
Kematian pasti tiba.
Akhirat selamanya.
Maka persiapkan bekal terbaik sebelum perjalanan benar-benar dimulai.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَارْزُقْنَا دُنْيَا صَالِحَةً وَآخِرَةً نَاجِحَةً.

Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami. Berikanlah kepada kami kehidupan dunia yang baik dan keselamatan serta keberhasilan di akhirat.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum  Doktor Muslim Peduli Bangs.

Opini

×
Berita Terbaru Update