Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ustadz AI dan Tantangan Membentuk Kepribadian Islam di Era Digital

Jumat, 17 Juli 2026 | 07:37 WIB Last Updated 2026-07-17T00:37:33Z

TintaSiyasi.id -- Direktur Penerangan Agama Islam Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Muchlis M Hanafi mengatakan, anak muda yang terbiasa memperoleh informasi secara cepat dan instan melalui berbagai platform digital merupakan generasi digital.

Ia menambahkan bahwa karena AI sangat mudah diakses dan selalu siap kapan saja, teknologi ini bisa memberikan solusi atas segala kebutuhan dengan waktu yang sangat singkat. Muchlis M Hanafi juga mengingatkan generasi muda saat ini perlu memiliki literasi digital agar dapat memilih informasi keagamaan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan

Perkembangan teknologi AI memang membuka akses jangkauan yang lebih luas terhadap informasi keagamaan. Kemudahan tersebut juga tidak boleh membuat masyarakat menjadikan AI sumber dalam memahami ajaran Islam. Dikutip dari khazanah.republika.co.id (2/7/2026) 

Munculnya fenomena ustadz atau ustadzah AI yang sedang viral di kalangan generasi digital membawa pergeseran yang cukup signifikan dalam lanskap kehidupan beragama. Tentu hal ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat terutama di kalangan generasi yang melek digital.

Bagi masyarakat perkotaan yang memiliki ritme hidup serba cepat, AI menjadi solusi yang sangat praktis untuk menjawab fikih harian yang sederhana secara cepat. Misalnya tata cara sholat di atas kendaraan atau batas waktu sholat Dzuhur ke Ashar. Sifat AI yang tidak menghakimi dan interaktif membuat sebagian masyarakat yang mungkin merasa sungkan, malu atau takut di nilai agamis menjadi lebih berani mengeksplorasi hukum dasar agama.

AI dilatih berdasarkan data apa yang ada di Internet. Jika data yang diserap mengandung kekeliruan atau paham yang ekstrem, AI bisa menghasilkan jawaban yang keliru namun terdengar seperti meyakinkan. Hal ini beresiko memicu perpecahan atau salah paham di masyarakat. Ajaran agama sangat terikat dengan asbabun nuzul atau konteks sosial dan budaya. AI cenderung menjawab secara tekstual dan kaku, sehingga sering kali gagal memahami realitas budaya lokal masyarakat setempat

Dalam Islam, belajar agama bukan sekedar mentransfer data, melainkan mempelajari Islam dari akarnya hingga daun. Karena Islam bukan hanya ibadah spiritual semata tapi Islam juga yang mengatur manusia dari bangun tidur sampai bangun sebuah negara. AI tidak memiliki jiwa, rasa empati, maupun kebijaksanaan spiritual. Padahal, belajar Islam pada hakikatnya bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam yang utuh. Kepribadian ini tidak hanya menuntut kecerdasan pola pikir dalam memahai teks, tetapi juga pola sikap dalam adab dan amal. 

Penting untuk digarisbawahi bahwa konteks belajar Islam bukan sekedar melahirkan orang yang ‘tahu agama’. Melainkan membentuk kepribadian Islam. Kepribadian ini ada dua pilar yaitu Aqliyah (pola berfikir) dan Nafsiyah (pola sikap). Hanya dalam sekejap, AI mampu menyuguhkan jutaan teks serta dalil hukum yang dibutuhkan. Namun, AI tidak bisa membentuk Nafsiyah yang menyentuh hati serta menumbuhkan rasa takut kepada Allah.

Jika generasi digital sangat bergantung pada AI terlalu tinggi, posisi ulama, Kiai, Ustadz dan Ustadzah sebagai figure akan terancam oleh teks kaku hasil algoritma. AI bisa digunakan untuk memperluas jangkauan informasi dan mempercepat pencarian data keagamaan, namun otoritas keilmuan, penentuan hukum-hukum, dan bimbingan spiritual tetap berada di tangan ulama

Oleh karena itu, Islam tidak melarang pemanfaatan kecerdasan buatan, melainkan menuntut manusia untuk mendudukkan teknologi ini secara proposional berdasarkan kaidah fikih dan akhlak. Pertama, menjadikan AI sebagai wasilah. AI harus diposisikan murni sebagai wasilah untuk mempercepat pencarian indeks data, memetakan refrensi awal, atau melacak letak ayat dan hadist. Karena tidak memiliki kapasitas dan hak untuk memberlakukan hukum, AI tidak boleh dianggap sebagai otoritas tertinggi dalam pengambilan fatwa.

Kedua, Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk melakukan verifikasi atas setiap informasi yang diterima. Dalam konteks digital, setiap jawaban atau kutipan keagamaan yang ditampilkan oleh algoritma AI wajib dicrosscheck kembali ke sumber aslinya, baik melalui kitab-kitab muktabar maupun dengan bertanya langsung kepada ulama yang berkompeten

Ketiga, Islam sangat menjaga sanad. Belajar agama memerlukan keteladanan dan transfer ilmu keislaman yang hanya bisa didapat melalui metode belajar langsung bertatap muka dengan guru. Generasi digital harus menyadari bahwa AI bisa memberi informasi, tetapi hanya ulama rahimahullah yang mampu memberikan keberkahan dan kebijaksanaan

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb


Oleh : Yuni Aldina
Aktivis Dakwah

Opini

×
Berita Terbaru Update