Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Surat Al-Mulk dan Keutamaannya

Kamis, 23 Juli 2026 | 22:20 WIB Last Updated 2026-07-23T15:20:18Z
TintaSiyasi.id -- Keagungan Kekuasaan Allah dan Bukti Keesaan-Nya

Hikmah dan Penjelasan Beberapa Tafsir QS. Al-Mulk Ayat 1–5
"Maha Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Mulk: 1)

Pendahuluan
Surat Al-Mulk merupakan surat ke-67 dalam Al-Qur'an yang terdiri atas 30 ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah. Nama Al-Mulk berarti Kerajaan atau Kekuasaan, diambil dari ayat pertamanya yang menegaskan bahwa seluruh kekuasaan mutlak berada di tangan Allah SWT.

Surat ini bukan hanya mengajarkan tentang keimanan, tetapi juga membangun cara pandang seorang mukmin terhadap kehidupan. Seluruh alam semesta, kehidupan, kematian, rezeki, hukum-hukum alam, hingga perjalanan manusia menuju akhirat berada di bawah pengaturan Allah Yang Maha Bijaksana.

Rasulullah ﷺ memberikan perhatian yang sangat besar terhadap surat ini. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa Surat Al-Mulk menjadi syafaat bagi pembacanya hingga diampuni dosanya serta menjadi pelindung dari azab kubur, selama hadis-hadis tersebut dipahami sesuai penjelasan para ulama mengenai derajat dan maknanya.

Tema Pertama
Keagungan Allah dan Kekuasaan-Nya Menghidupkan serta Mematikan
(QS. Al-Mulk Ayat 1–2)
تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ 

"Maha Suci Allah yang menguasai seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 1-2)

1. Seluruh Kekuasaan Mutlak Milik Allah
Menurut Tafsir Ath-Thabari, kata Al-Mulk menunjukkan bahwa seluruh kerajaan di langit dan bumi adalah milik Allah secara mutlak. Tidak ada seorang raja, pemimpin, pengusaha, ataupun kekuatan dunia yang memiliki kekuasaan hakiki.
Manusia hanya menerima amanah sementara.
Jabatan hanyalah titipan.
Harta hanyalah pinjaman.
Kekuasaan hanyalah ujian.
Semua akan kembali kepada Pemilik Kerajaan Yang Sesungguhnya.
Karena itu Al-Qur'an mengajarkan agar manusia tidak tertipu oleh kekuatan dunia yang bersifat sementara.

2. Allah Menghidupkan dan Mematikan
Dalam Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa kehidupan dan kematian bukanlah kejadian yang terjadi secara kebetulan, tetapi berada sepenuhnya dalam kehendak Allah.
Menariknya, ayat ini mendahulukan kata "kematian" sebelum "kehidupan."
Beberapa mufasir menjelaskan hikmah susunan tersebut:
• Kematian mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia memiliki batas.
• Kesadaran akan kematian mendorong manusia mempersiapkan kehidupan akhirat.
• Dunia bukan tujuan akhir, melainkan tempat ujian menuju kehidupan yang kekal.
3. Hidup adalah Ujian Amal
Allah tidak menyebut:
"Siapa yang paling banyak amalnya."
Tetapi:
"Siapa yang paling baik amalnya."
Menurut Imam Al-Ghazali, amal yang terbaik memiliki beberapa ciri:
• Ikhlas karena Allah.
• Sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ.
• Memberikan manfaat bagi sesama.
• Dilaksanakan secara istiqamah.
Dengan demikian, kualitas amal lebih utama daripada kuantitasnya.

Hikmah Kehidupan
Surat Al-Mulk mengubah cara pandang seorang mukmin.
Kesuksesan tidak diukur oleh jabatan.
Bukan pula oleh kekayaan.
Bukan pula oleh popularitas.
Tetapi oleh kualitas amal yang diterima Allah.
Orang yang mengenal hakikat kehidupan akan lebih sibuk memperbaiki amal daripada mempercantik citra dirinya.

Tema Kedua
Bukti Ke-Esaan Allah melalui Kesempurnaan Penciptaan
(QS. Al-Mulk Ayat 3–5)
الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَّهُوَ حَسِيْرٌ وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ 
3.  (Dia juga) yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih ketidakseimbangan sedikit pun. Maka, lihatlah sekali lagi! Adakah kamu melihat suatu cela?
4.  Kemudian, lihatlah sekali lagi (dan) sekali lagi (untuk mencari cela dalam ciptaan Allah), niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dengan kecewa dan dalam keadaan letih (karena tidak menemukannya).
5.  Sungguh, Kami benar-benar telah menghiasi langit dunia dengan bintang-bintang, menjadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat pelempar terhadap setan, dan menyediakan bagi mereka (setan-setan itu) azab (neraka) Sa‘ir (yang menyala-nyala).
( QS. Al-Mulk : 3 – 5 )

Allah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak ada sedikit pun ketidakseimbangan dalam ciptaan-Nya. Allah menantang manusia agar memperhatikan langit berulang kali; niscaya pandangan itu akan kembali dalam keadaan lelah karena tidak menemukan cacat. Langit dunia dihiasi dengan bintang-bintang yang indah.

1. Kesempurnaan Sistem Alam Semesta
Menurut Tafsir Al-Qurthubi, ayat ini merupakan dalil rasional mengenai keesaan Allah.
Seluruh alam berjalan dengan hukum yang sangat teratur:
• Peredaran matahari.
• Perputaran bumi.
• Orbit planet.
• Pergantian siang dan malam.
• Siklus air.
• Pergantian musim.
• Struktur tubuh manusia.
Semua menunjukkan adanya satu Pengatur Yang Maha Bijaksana.
Seandainya terdapat lebih dari satu Tuhan dengan kehendak yang saling bertentangan, niscaya alam semesta akan mengalami kekacauan. Keteraturan kosmos menjadi salah satu dalil tentang keesaan Allah.

2. Tantangan Berpikir
Allah berfirman:
"Lihatlah sekali lagi..."
Ini menunjukkan bahwa Islam mendorong penggunaan akal.
Dalam Tafsir Fakhruddin Ar-Razi, ayat ini menjadi dorongan agar manusia menggabungkan pengamatan, akal, dan iman. Semakin dalam seseorang meneliti ciptaan Allah, semakin tampak kesempurnaan hukum-hukum-Nya.
Karena itu, ilmu pengetahuan yang jujur tidak bertentangan dengan wahyu, melainkan dapat memperlihatkan keteraturan ciptaan yang mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta.

3. Keindahan Langit sebagai Ayat Allah
Allah menghiasi langit dengan bintang-bintang.
Keindahan alam bukan sekadar objek wisata.
Ia adalah media tafakkur.
Setiap bintang mengingatkan manusia bahwa alam ini memiliki Pencipta Yang Maha Agung.
Dalam perspektif tasawuf, alam semesta adalah ayat-ayat kauniyah, yaitu tanda-tanda kekuasaan Allah yang mengajak hati untuk mengenal-Nya.

Perspektif Imam Al-Ghazali
Dalam karya-karyanya seperti Ihya' Ulumiddin dan Jawahir al-Qur'an, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tujuan utama merenungi alam bukan sekadar memperoleh pengetahuan, melainkan membangkitkan ma'rifatullah (pengenalan kepada Allah). Ilmu yang tidak mengantarkan hati kepada pengagungan Allah dapat menjadi pengetahuan yang kering, sedangkan ilmu yang disertai tafakkur melahirkan rasa syukur, ketundukan, dan kecintaan kepada-Nya.

Pelajaran Dakwah Ideologis-Sufistik

Surat Al-Mulk membangun fondasi kepribadian seorang mukmin.
Pertama, menanamkan keyakinan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak. Tidak ada makhluk yang layak ditakuti melebihi rasa takut kepada Allah.
Kedua, mengingatkan bahwa kehidupan adalah amanah dan ujian. Nilai manusia di sisi Allah ditentukan oleh kualitas iman dan amal salehnya.

Ketiga, mengajak umat Islam menjadikan alam sebagai sarana tafakkur. Kemajuan ilmu pengetahuan seharusnya semakin memperkuat tauhid, bukan menjauhkan manusia dari Penciptanya.
Keempat, menumbuhkan sikap tawaduk. Di hadapan keluasan langit dan keteraturan alam semesta, manusia menyadari betapa kecil dirinya sehingga terdorong untuk bergantung kepada Allah semata.

Penutup

Surat Al-Mulk merupakan deklarasi agung tentang kekuasaan Allah dan keesaan-Nya. Ayat-ayat pembukanya mengajarkan bahwa hidup dan mati berada dalam genggaman Allah, sedangkan keteraturan langit dan bumi menjadi bukti nyata kebijaksanaan dan keesaan-Nya.
Bagi seorang mukmin, membaca dan mentadabburi Surat Al-Mulk bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi membentuk cara pandang yang benar: melihat kehidupan sebagai ladang amal, memandang alam sebagai tanda kebesaran Allah, serta menyadari bahwa seluruh kekuasaan, kemuliaan, dan kerajaan pada akhirnya hanya milik Allah SWT. Dengan demikian, surat ini menjadi sumber penguatan tauhid, dorongan untuk memperbaiki amal, dan jalan menuju hati yang semakin dekat kepada Rabb semesta alam.

Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum  Spirit)

Opini

×
Berita Terbaru Update