Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Meniti Jalan Sunnah: Cahaya Ideologi Islam dan Kedalaman Tasawuf dalam Menghidupkan Hati

Rabu, 22 Juli 2026 | 08:22 WIB Last Updated 2026-07-22T01:23:08Z
TintaSiyasi.id -- "Barang siapa menghidupkan sunnah, sesungguhnya ia telah menghidupkan cahaya. Barang siapa meninggalkannya karena mengikuti hawa nafsu, maka ia sedang menjauh dari cahaya menuju kegelapan."

Dalam kitab Fiqhun Nafs karya Dr.Yahya bin Ibrahim terdapat beberapa petikan yang sangat mendalam dari para ulama salaf, di antaranya Umar bin Abdul Aziz, Makhul, Ibnu Sirin, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Kesemuanya mengandung satu pesan besar: Kemuliaan seorang Muslim terletak pada kesungguhannya mengikuti Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah Saw. 

Dalam kehidupan modern, banyak orang mengaku mencintai Islam, tetapi lebih mencintai budaya, tren, opini manusia, bahkan hawa nafsunya daripada tuntunan Rasulullah Saw. Di sinilah dakwah ideologis-sufistik menemukan relevansinya: Membangkitkan kesadaran bahwa Islam bukan sekadar identitas, melainkan jalan hidup yang membentuk akidah, akhlak, peradaban, dan perjalanan ruh menuju Allah.

Sunnah Adalah Jalan Peradaban

Allah berfirman:
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7).

Ayat ini menegaskan bahwa Sunnah bukan sekadar pelengkap Al-Qur'an, melainkan sumber petunjuk dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz menegaskan bahwa Rasulullah Saw., telah menjelaskan agama ini dengan sempurna. Barang siapa mengikuti Sunnah, ia memperoleh petunjuk. Barang siapa menyelisihinya, ia sedang memilih jalan selain jalan orang-orang beriman.

Inilah hakikat ideologi Islam. Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga membimbing ekonomi, pendidikan, keluarga, kepemimpinan, hingga etika sosial. Sunnah membangun peradaban yang adil, penuh kasih sayang, dan berorientasi kepada ridha Allah.

Penyakit Terbesar adalah Mengikuti Hawa Nafsu

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa ketika seseorang memenuhi kebutuhannya dengan cara yang tidak disyariatkan, maka kecintaannya terhadap cara yang disyariatkan akan semakin berkurang.

Ini adalah penyakit hati yang sangat halus.

Awalnya seseorang meninggalkan satu sunnah kecil.

Lalu ia merasa biasa.

Kemudian muncul rasa berat menjalankan sunnah lainnya.

Lama-kelamaan, hatinya kehilangan kenikmatan beribadah.

Akhirnya ia lebih menikmati hiburan daripada Al-Qur'an, lebih semangat mengejar dunia daripada menghadiri majelis ilmu.

Tasawuf menyebut kondisi ini sebagai hijab hati, yaitu ketika hati tertutup oleh syahwat sehingga cahaya Allah sulit masuk.

Sunnah Membersihkan Cermin Hati

Para ulama sufi menggambarkan hati seperti cermin.

Dosa adalah debu.

Maksiat adalah karat.

Sedangkan Sunnah Rasulullah Saw., adalah air yang membersihkan cermin tersebut.

Semakin seseorang meneladani Rasulullah Saw., semakin bening hatinya.

Ia menjadi lebih mudah menangis karena takut kepada Allah.

Lebih mudah memaafkan.

Lebih mudah bersyukur.

Lebih ringan bersedekah.

Lebih lembut kepada keluarga.

Lebih sabar menghadapi ujian.

Itulah buah tasawuf yang benar: bukan sekadar pengalaman spiritual, tetapi perubahan akhlak menuju akhlak Rasulullah Saw. 

Menghidupkan Sunnah di Tengah Zaman Fitnah

Kita hidup pada zaman ketika ukuran kebenaran sering ditentukan oleh jumlah pengikut, viralitas media sosial atau kepentingan ekonomi.

Padahal, ukuran kebenaran tetap sama sejak zaman Rasulullah Saw: Al-Qur'an dan Sunnah.

Menghidupkan Sunnah hari ini berarti:

Menjaga shalat berjamaah.

Membiasakan dzikir pagi dan petang.

Memuliakan orang tua.

Jujur dalam berdagang.

Amanah dalam jabatan.

Menuntut ilmu syar'i.

Berdakwah dengan hikmah.

Menebarkan kasih sayang kepada sesama.

Sunnah bukan hanya soal penampilan lahiriah, tetapi juga kejujuran, amanah, keadilan, dan kasih sayang.

Dakwah Ideologis yang Menyejukkan

Dakwah ideologis bukan berarti keras atau penuh permusuhan.

Dakwah ideologis yang lahir dari hati yang bersih justru menghadirkan rahmat.

Ia tegas terhadap prinsip, tetapi lembut terhadap manusia.

Ia kokoh mempertahankan akidah, tetapi santun dalam berdialog.

Ia mengajak manusia kembali kepada Allah, bukan mengajak manusia mengagungkan dirinya.

Inilah keseimbangan antara syariat dan tasawuf.

Jalan Menuju Ma'rifat

Para arif billah mengatakan bahwa ma'rifat kepada Allah tidak mungkin dicapai dengan meninggalkan Sunnah.

Semakin dekat seseorang kepada Rasulullah Saw., semakin dekat pula ia kepada Allah. Sebaliknya, setiap jalan spiritual yang tidak berpijak pada Sunnah hanyalah ilusi ruhani. Oleh krena itu, para ulama salaf selalu menggabungkan tiga hal:

Akidah yang lurus.

Syariat yang benar.

Tasawuf yang menyucikan hati.

Inilah fondasi lahirnya pribadi mukmin yang utuh.

Refleksi

Setiap hari, kita dihadapkan pada dua pilihan.
Mengikuti petunjuk Allah atau mengikuti hawa nafsu. Menghidupkan Sunnah atau membiarkannya mati dalam diri kita. Mencari ridha Allah atau mencari tepuk tangan manusia. Pilihan-pilihan kecil itu akan menentukan arah kehidupan dan akhir perjalanan kita.

Marilah menjadikan Rasulullah Saw., sebagai teladan dalam berpikir, bekerja, memimpin, mendidik, berdakwah, dan bermuamalah. Sebab mengikuti Sunnah bukan sekadar meniru perilaku beliau, melainkan menyerap cahaya akhlaknya hingga hati menjadi hidup.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang istikamah di atas Al-Qur'an dan Sunnah, membersihkan hati dengan cahaya dzikir, menghiasi jiwa dengan akhlak Rasulullah Saw., serta mengumpulkan kita bersama beliau di surga Firdaus.

"Ya Allah, hidupkan hati kami dengan cahaya Al-Qur'an, kokohkan langkah kami di atas Sunnah Nabi-Mu Muhammad Saw, bersihkan jiwa kami dari hawa nafsu, dan jadikan kami pejuang dakwah yang menghadirkan rahmat, hikmah, dan cahaya bagi umat hingga akhir hayat. Aamiin."

Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa

Opini

×
Berita Terbaru Update