TintaSiyasi.id -- Bismillahirrahmanirrahim.
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
"Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir; pada setiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 261).
Sedekah Adalah Investasi yang Dijamin Allah
Manusia selalu mencari investasi yang memberikan keuntungan besar dengan risiko sekecil mungkin. Di dunia, tidak ada investasi yang memiliki kepastian seperti itu. Semua mengandung kemungkinan untung dan rugi.
Namun, Allah menawarkan sebuah investasi yang sama sekali berbeda. Investasi ini tidak dipengaruhi inflasi, krisis ekonomi, perubahan politik ataupun gejolak pasar. Investasi itu adalah bersedekah di jalan Allah.
Allah sendiri yang menjadi Penjaminnya.
Al-Qur'an menggambarkan sedekah seperti sebutir benih yang ditanam di tanah subur. Dari satu biji tumbuh tujuh bulir. Setiap bulir menghasilkan seratus biji. Artinya, satu amal dapat berkembang menjadi tujuh ratus kali lipat, bahkan lebih.
Angka tujuh ratus bukanlah batas maksimal. Allah menutup ayat tersebut dengan firman-Nya bahwa Dia melipatgandakan pahala kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Ini menunjukkan bahwa karunia Allah jauh melampaui hitungan manusia.
Hakikat Sedekah Menurut Para Ulama Tafsir
Dalam tafsir yang dinukil dari Qadhi Al-Baidhawi, dijelaskan bahwa yang berkembang bukanlah biji itu sendiri, tetapi Allah-lah yang menumbuhkannya. Biji hanyalah sebab.
Begitu pula dengan sedekah.
Harta yang kita keluarkan bukanlah penyebab utama datangnya keberkahan, tetapi yang menghadirkan keberkahan adalah Allah.
Banyak orang mengira sedekah mengurangi harta.
Padahal hakikatnya, sedekah memindahkan sebagian kekayaan dari rekening dunia menuju rekening akhirat yang keuntungannya tidak pernah berhenti.
Allah mengetahui:
• keikhlasan pemberinya
• beratnya pengorbanan
• kondisi ekonominya
• serta niat yang tersembunyi dalam hatinya.
Oleh karena itu, pahala setiap sedekah berbeda-beda, meskipun nominalnya sama.
Keteladanan Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf
Ayat ini berkaitan dengan semangat para sahabat ketika Rasulullah Saw., mengajak kaum Muslimin mempersiapkan ekspedisi Tabuk.
Abdurrahman bin Auf datang membawa empat ribu dirham. Beliau berkata bahwa ia memiliki delapan ribu dirham. Separuh disisakan untuk keluarga dan separuh lagi dipinjamkan kepada Allah melalui sedekah.
Rasulullah Saw., mendoakan:
"Semoga Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau infakkan."
Sementara itu Utsman bin Affan menyatakan kesiapannya membiayai perlengkapan pasukan yang tidak mampu.
Mereka memahami bahwa kekayaan hanyalah amanah. Nilai harta tidak diukur dari banyaknya yang disimpan, tetapi dari besarnya manfaat yang diberikan.
Ali bin Abi Thalib dan Keikhlasan yang Sempurna
Riwayat lain menyebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib hanya memiliki empat dirham.
Beliau tidak menunggu menjadi kaya untuk bersedekah.
Empat dirham itu dibagikan:
• satu pada malam hari
• satu pada siang hari
• satu secara sembunyi-sembunyi
• satu lagi secara terang-terangan.
Ini menunjukkan bahwa nilai sedekah bukan pada jumlahnya, tetapi pada hati yang ikhlas.
Sering kali satu sedekah kecil lebih besar nilainya daripada sedekah miliaran rupiah yang dipenuhi riya.
Sedekah Adalah Bukti Keimanan
Mengapa bersedekah terasa berat?
Karena harta adalah sesuatu yang paling dicintai manusia.
Allah berfirman:
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum kamu menginfakkan sebagian dari harta yang kamu cintai."
Orang yang mudah bersedekah berarti telah berhasil mengalahkan cinta dunia.
Sedekah adalah latihan melepaskan ketergantungan kepada materi.
Semakin ringan tangan memberi, semakin merdeka hati dari perbudakan harta.
Mengapa Allah Menyukai Sedekah yang Dirahasiakan?
Allah berfirman bahwa menyembunyikan sedekah kepada orang-orang fakir lebih baik bagi pemberinya.
Para ulama salaf menjaga sedekah mereka sedemikian rupa agar tidak diketahui manusia.
Di antara mereka ada yang:
• memberi kepada orang buta agar tidak dikenali
• meletakkan makanan di depan rumah fakir pada malam hari
• menyelipkan uang tanpa diketahui penerimanya.
Mereka lebih takut kehilangan keikhlasan daripada kehilangan harta.
Mereka sadar bahwa pujian manusia tidak dapat membeli pahala di sisi Allah.
Bahaya Mengungkit Sedekah
Allah memperingatkan agar jangan merusak pahala sedekah dengan mengungkit-ungkit pemberian atau menyakiti hati penerima.
Betapa banyak sedekah yang besar nilainya menjadi sia-sia hanya karena ucapan seperti:
• "Kalau bukan saya..."
• "Saya sudah banyak membantu."
• "Dia tidak tahu balas budi."
Ucapan seperti ini menghancurkan nilai keikhlasan.
Sedekah sejati adalah memberi, lalu melupakannya.
Memberi yang Terbaik
Allah tidak menghendaki sisa-sisa yang sudah tidak bernilai.
Yang dicintai Allah adalah memberikan sesuatu yang terbaik.
Memberi pakaian yang masih layak.
Memberi makanan yang kita sendiri senang memakannya.
Memberi waktu terbaik.
Memberi tenaga terbaik.
Memberi ilmu terbaik.
Memberi perhatian terbaik.
Sesungguhnya sedekah bukan hanya uang.
Senyum adalah sedekah.
Ilmu adalah sedekah.
Doa adalah sedekah.
Menolong orang adalah sedekah.
Bahkan menyingkirkan duri dari jalan pun termasuk sedekah.
Sedekah Mengalahkan Kekuatan Dunia
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa para malaikat bertanya kepada Allah, apakah ada makhluk yang lebih kuat daripada gunung.
Allah menjawab:
• besi lebih kuat daripada gunung
• api lebih kuat daripada besi
• air lebih kuat daripada api
• angin lebih kuat daripada air.
Lalu Allah menyatakan bahwa yang lebih kuat daripada semuanya adalah seorang hamba yang bersedekah dengan tangan kanannya hingga tangan kirinya tidak mengetahuinya.
Mengapa?
Karena ia telah menaklukkan musuh terbesar manusia, yaitu hawa nafsu dan kecintaan kepada dunia.
Sedekah Membuka Pintu Langit
Sedekah bukan hanya menggerakkan tangan, tetapi juga mengangkat doa ke langit.
Orang yang dermawan lebih mudah memperoleh keberkahan hidup.
Allah membuka pintu-pintu rezeki yang tidak pernah disangka.
Sering kali balasan sedekah bukan berupa uang yang kembali, tetapi berupa:
• kesehatan
• keluarga yang harmonis
• anak-anak yang saleh
• ketenangan hati
• kemudahan urusan,
• perlindungan dari musibah
• husnul khatimah.
Inilah keuntungan yang tidak dapat dibeli dengan kekayaan sebesar apa pun.
Muhasabah
Ketika kita wafat, semua harta akan berpindah kepada ahli waris.
Yang tetap menjadi milik kita hanyalah yang telah kita infakkan karena Allah.
Oleh karena itu, jangan menunggu kaya untuk bersedekah.
Jangan menunggu lapang untuk berbagi.
Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.
Mulailah dari yang ada hari ini.
Satu rupiah yang ikhlas lebih berharga daripada jutaan yang penuh riya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang gemar berinfak, ikhlas dalam memberi, dijauhkan dari sifat kikir, dan termasuk orang-orang yang memperoleh pelipatgandaan pahala sebagaimana dijanjikan dalam Al-Qur'an.
Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
Dr. Nasrul Syarif M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit