TintaSiyasi.id -- Dakwah yang Menyentuh Hati Bukan Sekadar Memenuhi Telinga
Banyak orang mampu berbicara. Banyak pula yang mampu berpidato dengan bahasa yang indah dan penuh retorika. Namun, tidak semua mampu menyentuh hati manusia. Sebab, hati tidak dibuka oleh kecanggihan kata-kata, melainkan oleh ketulusan jiwa yang berbicara.
Dalam dunia dakwah, tujuan utama bukanlah membuat jamaah kagum kepada penceramah, melainkan membuat jamaah semakin dekat kepada Allah Swt.
Oleh karena itu, seorang dai, khatib, guru, murabbi atau pemimpin umat perlu memahami satu prinsip penting:
"Berdakwahlah kepada manusia sebagaimana seorang sahabat berbicara kepada sahabatnya, sebagaimana seorang ayah menasihati anaknya, dan sebagaimana seorang hamba mengajak sesama hamba menuju Allah."
Dakwah yang paling berpengaruh bukanlah yang paling keras suaranya, tetapi yang paling dekat dengan hati pendengarnya.
Rasulullah Saw: Komunikator Agung yang Menggetarkan Jiwa
Jika kita mempelajari sirah Nabi Muhammad Saw., kita akan menemukan bahwa beliau bukan hanya seorang Nabi, tetapi juga komunikator terbesar dalam sejarah manusia.
Beliau tidak berbicara dengan bahasa yang sulit dipahami. Beliau tidak menampilkan diri sebagai sosok yang ingin dipuji. Beliau tidak membangun jarak dengan umatnya.
Sebaliknya, beliau berbicara dengan penuh kasih sayang, kelembutan, dan kedekatan.
Allah Swt., berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
"Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali Imran: 159).
Ayat ini mengandung pelajaran komunikasi yang sangat mendalam. Manusia tidak hanya mendengar isi pembicaraan, tetapi juga merasakan energi dan suasana hati yang dibawa oleh pembicara.
Kata-kata yang benar sekalipun dapat ditolak jika disampaikan dengan kesombongan. Sebaliknya, nasihat yang sederhana dapat diterima jika disampaikan dengan cinta.
Dakwah Adalah Dialog Hati, Bukan Monolog Lisan
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam dakwah adalah menganggap ceramah sebagai ajang menunjukkan keluasan ilmu.
Akibatnya, dakwah berubah menjadi:
• Terlalu akademis.
• Terlalu banyak istilah.
• Terlalu banyak menggurui.
• Terlalu sedikit menyentuh kehidupan nyata.
Padahal, manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan. Mereka membutuhkan harapan, ketenangan, bimbingan, dan sentuhan ruhani.
Jamaah datang ke majelis bukan sekadar untuk mengetahui sesuatu yang baru. Mereka datang dengan berbagai persoalan:
• Ada yang sedang kehilangan pekerjaan.
• Ada yang sedang sakit.
• Ada yang sedang menghadapi masalah keluarga.
• Ada yang sedang mencari makna hidup.
• Ada yang sedang berjuang melawan dosa dan kelemahan dirinya.
Maka, seorang dai harus berbicara kepada hati mereka, bukan hanya kepada akal mereka.
Berbicaralah Seolah Sedang Mengobrol
Rahasia para muballigh yang dicintai umat adalah kemampuan mereka membuat jamaah merasa dekat. Ketika berbicara, jangan bayangkan sedang menghadapi ratusan orang. Bayangkan Anda sedang berbicara kepada satu orang yang sangat membutuhkan pertolongan.
Bayangkan di hadapan Anda ada seorang ayah yang sedang bingung menafkahi keluarganya.
Bayangkan ada seorang ibu yang sedang menangis dalam doanya.
Bayangkan ada seorang pemuda yang sedang mencari jalan menuju Allah.
Bayangkan ada seorang pensiunan yang sedang bertanya:
"Apa yang harus saya lakukan agar sisa umur saya bernilai di sisi Allah?"
Maka, nada bicara akan berubah.
Bahasa menjadi lebih lembut.
Nasihat menjadi lebih menyentuh.
Dakwah menjadi lebih hidup.
Dakwah dari Hati Akan Masuk ke Hati
Para ulama tasawuf sering mengatakan:
"Apa yang keluar dari hati akan masuk ke hati. Apa yang keluar dari lisan hanya akan berhenti di telinga."
Oleh karena itu, sebelum memperbaiki teknik berbicara, perbaikilah hati.
Sebelum memperindah suara, perindah niat.
Sebelum menyusun materi, susunlah hubungan dengan Allah.
Imam Malik rahimahullah pernah berpesan bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang dipenuhi maksiat. Dakwah bukan semata-mata keterampilan komunikasi. Dakwah adalah pancaran cahaya ruhani yang Allah letakkan pada hati para hamba-Nya yang ikhlas.
Kisah Lebih Kuat daripada Teori
Manusia diciptakan mencintai cerita.
Al-Qur'an sendiri dipenuhi kisah para nabi, orang-orang saleh, dan umat terdahulu.
Mengapa? Karena kisah mampu membuka pintu hati yang tidak mampu dibuka oleh teori. Ketika berbicara tentang tawakal, ceritakan Nabi Ibrahim AS.
Ketika berbicara tentang kesabaran, ceritakan Nabi Ayyub AS. Ketika berbicara tentang cinta kepada Allah, ceritakan kerinduan para sahabat kepada Rasulullah Saw.
Kisah menjadikan dakwah terasa seperti percakapan yang hangat, bukan kuliah yang kering.
Dakwah yang Menghidupkan Harapan
Salah satu penyakit zaman ini adalah banyak manusia kehilangan harapan.
Mereka dibebani oleh:
• Krisis ekonomi.
• Persaingan hidup.
• Penyakit.
• Kecemasan masa depan.
• Ketidakpastian zaman.
Oleh karena itu, seorang dai jangan hanya berbicara tentang ancaman dan hukuman.
Bicaralah pula tentang:
• Rahmat Allah.
• Ampunan Allah.
• Kasih sayang Allah.
• Luasnya pintu taubat.
• Kemuliaan husnul khatimah.
Jamaah perlu diingatkan bahwa sebesar apa pun masalah yang mereka hadapi, Allah jauh lebih besar daripada semua masalah itu.
Dalam Dakwah Jangan Berusaha Menjadi Hebat
Salah satu jebakan seorang pembicara adalah keinginan untuk terlihat hebat.
Ingin dianggap:
• Paling pintar.
• Paling fasih.
• Paling berwawasan.
• Paling menguasai dalil.
Padahal, tugas seorang dai bukan membuat manusia kagum kepada dirinya.
Tugas seorang dai adalah membuat manusia kagum kepada Allah.
Tugas seorang dai adalah menunjukkan jalan menuju Allah, bukan menarik manusia menuju dirinya. Sebagaimana bulan tidak memiliki cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya matahari, demikian pula seorang pendakwah.
Ia hanyalah pemantul cahaya hidayah Allah.
Public Speaking sebagai Ibadah
Bagi seorang mukmin, berbicara di depan manusia bukan sekadar keterampilan profesional.
Ia adalah amanah.
Ia adalah ibadah.
Ia adalah sarana mengajak manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Oleh karena itu sebelum berbicara, berdoalah:
"Ya Allah, jadikanlah lisanku sebagai sarana menyampaikan kebenaran, bukan sarana mencari kemuliaan diri. Jadikanlah kata-kataku cahaya yang mendekatkan manusia kepada-Mu."
Jika niat telah lurus, maka berbicara bukan lagi soal tampil hebat. Melainkan soal menjadi jalan bagi sampainya hidayah kepada hati-hati manusia.
Penutup: Jadilah Sahabat Bagi Jamaah
Dalam setiap ceramah, kajian, khutbah atau pelatihan, jangan tampil sebagai orang yang paling tinggi di hadapan manusia. Tampillah sebagai sahabat yang berjalan bersama mereka menuju Allah. Berbicaralah dengan kasih sayang. Nasihatilah dengan kelembutan. Ajaklah dengan keteladanan,
karena sesungguhnya manusia tidak terlalu membutuhkan pembicara yang pandai berbicara. Mereka membutuhkan orang yang mampu menghadirkan cahaya harapan, ketenangan, dan kedekatan kepada Allah Swt. Dan ketika dakwah disampaikan dengan hati yang ikhlas, bahasa yang sederhana, dan kasih sayang yang tulus, maka kata-kata yang keluar dari lisan akan berubah menjadi benih-benih hidayah yang tumbuh di dalam hati manusia.
Dakwah yang agung bukanlah ketika jamaah berkata, "Alangkah hebatnya pembicara itu."
Tetapi ketika jamaah pulang sambil berkata, "Alangkah dekatnya Allah kepada kita."
Dr Nasrul Syarif, M.Si.
Penulis Buku Gizi Spiritual dan Spiritual Motivator Nasional Quantum Spirit