TintaSiyasi.id -- "Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman ketika mereka dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang bodoh. Mereka mengutamakan orang-orang yang buruk dan menyingkirkan orang-orang yang terbaik. Mereka juga menunda-nunda salat dari waktunya. Barang siapa di antara kalian mendapati mereka, maka janganlah ia menjadi pembantu, polisi, penarik harta atau bendahara mereka."
Hadis ini merupakan peringatan yang sangat serius. Terlepas dari pembahasan mengenai derajat dan penilaian sanadnya di kalangan para ulama, makna yang terkandung di dalamnya sejalan dengan banyak ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis sahih tentang pentingnya amanah, keadilan, dan bahaya kepemimpinan yang zalim. Pesan ini bukan sekadar ramalan sejarah, tetapi juga cermin agar setiap generasi melakukan muhasabah.
Kepemimpinan adalah Amanah, Bukan Kehormatan
Dalam pandangan Islam, jabatan bukanlah hadiah, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt.
Rasulullah Saw., bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Islam tidak memandang seorang pemimpin dari kekayaan, popularitas atau kemampuan retorikanya, tetapi yang menjadi ukuran adalah:
Keimanan
Kejujuran
Keadilan
Ilmu
Ketakwaan
Kemampuan memikul amanah
Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin berat pula hisabnya di akhirat.
Ketika Orang-orang Terbaik Disingkirkan
Salah satu tanda kemunduran suatu bangsa adalah ketika orang-orang yang berintegritas justru dijauhkan dari amanah, sedangkan orang-orang yang hanya pandai mencari muka diberi kedudukan.
Akibatnya:
Keputusan tidak lagi berdasarkan ilmu
Kebenaran dikalahkan oleh kepentingan
Jabatan dibeli dengan loyalitas, bukan kompetensi
Orang saleh dibungkam
Orang fasik dipromosikan
Dalam keadaan seperti ini, masyarakat perlahan kehilangan kepercayaan terhadap keadilan.
Padahal Allah Swt., berfirman:
"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya..." (QS. An-Nisa': 58).
Ayat ini menjadi fondasi utama tata kelola pemerintahan dalam Islam.
Rusaknya Kepemimpinan Berawal dari Rusaknya Hati
Dalam dakwah sufistik, akar kerusakan bukanlah semata-mata sistem politik.
Akar sebenarnya adalah hati manusia.
Ketika hati dipenuhi:
cinta dunia
kerakusan
kesombongan
riya'
ambisi kekuasaan
maka jabatan berubah menjadi alat memperkaya diri.
Sebaliknya, hati yang hidup bersama Allah akan memandang jabatan sebagai beban ibadah.
Seorang pemimpin yang takut kepada Allah tidak akan tidur nyenyak ketika rakyatnya kelaparan.
Ia takut terhadap doa orang yang dizalimi.
Ia sadar bahwa setiap rupiah uang rakyat akan menjadi pertanyaan di Padang Mahsyar.
Mengapa Rasulullah Menyebut Mereka Menunda Salat?
Hadis di atas juga menyebut bahwa para pemimpin tersebut menunda salat.
Ini bukan hanya persoalan waktu salat.
Salat adalah simbol hubungan manusia dengan Allah.
Ketika hubungan kepada Allah rusak, hubungan kepada manusia pun ikut rusak.
Seseorang yang menganggap ringan hak Allah akan lebih mudah menganggap ringan hak rakyat.
Oleh karena itu Al-Qur'an menghubungkan kepemimpinan dengan ibadah.
Allah berfirman:
"Orang-orang yang apabila Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar." (QS. Al-Hajj: 41).
Artinya, ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga tegaknya nilai-nilai keadilan dan ketakwaan.
Jangan Menjadi Bagian dari Kezaliman
Pesan Rasulullah Saw., agar tidak menjadi pembantu bagi pemimpin yang menzalimi rakyat mengandung pelajaran besar.
Islam mengajarkan bahwa dosa bukan hanya dilakukan oleh pelaku utama.
Orang yang membantu kezaliman juga memikul bagian dari tanggung jawab moral sesuai kadar keterlibatannya.
Namun, pesan ini juga harus dipahami dengan hikmah. Bekerja dalam suatu lembaga atau pemerintahan tidak otomatis berarti mendukung kezaliman. Seorang Muslim tetap dapat berkhidmat secara jujur, menegakkan keadilan, mencegah kemungkaran, dan memberikan manfaat bagi masyarakat selama tidak diperintahkan melakukan maksiat atau tindakan zalim.
Allah Swt., berfirman:
"Dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma'idah: 2).
Seorang Muslim wajib menjaga integritasnya di mana pun ia berada.
Muhasabah Sebelum Menyalahkan Pemimpin
Mudah sekali menunjuk kesalahan pemimpin.
Tetapi Rasulullah Saw., mengajarkan agar kita juga memperbaiki diri.
Karena pemimpin sering kali merupakan cerminan kondisi masyarakatnya.
Jika masyarakat:
membiasakan kebohongan
menjual suara karena uang
mengabaikan ilmu
menghalalkan korupsi kecil
meninggalkan salat
maka, lahirlah pemimpin yang mencerminkan penyakit tersebut.
Perubahan besar selalu dimulai dari perubahan hati.
Allah Swt., berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11).
Kepemimpinan dalam Perspektif Sufistik
Kaum sufi mengajarkan bahwa pemimpin sejati bukanlah orang yang mampu menguasai manusia.
Pemimpin sejati adalah orang yang telah mampu menguasai hawa nafsunya.
Karena musuh terbesar seorang pemimpin bukanlah lawan politik.
Musuh terbesar adalah:
ego
keserakahan
cinta kekuasaan
dan ketakutan kehilangan jabatan.
Orang yang telah menang melawan hawa nafsu akan lebih mudah berlaku adil kepada rakyat.
Harapan bagi Umat
Meski zaman penuh ujian, seorang mukmin tidak boleh putus asa.
Islam mengajarkan optimisme yang disertai ikhtiar.
Kita dapat memulai dari lingkungan terkecil:
Menjadi pemimpin yang adil dalam keluarga.
Menjadi guru yang amanah
Menjadi pegawai yang jujur
Menjadi pengusaha yang tidak menipu
Menjadi ulama yang menyampaikan kebenaran dengan hikmah
Menjadi warga yang menjaga persatuan dan menolak kezaliman
Peradaban besar selalu dibangun oleh pribadi-pribadi yang bertakwa
Penutup: Kepemimpinan Dimulai dari Memimpin Diri Sendiri
Pada akhirnya, pesan Rasulullah Saw., tentang kepemimpinan bukan hanya ditujukan kepada para penguasa, tetapi kepada setiap Muslim. Setiap kita adalah pemimpin dalam lingkup amanah yang Allah titipkan.
Maka, sebelum berharap lahir pemimpin yang adil, marilah kita bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah aku jujur dalam amanahku?
Sudahkah aku menegakkan salat dengan benar?
Sudahkah aku berlaku adil kepada keluarga dan sesama?
Sudahkah aku mendukung kebenaran dan menolak kezaliman?
Apabila setiap individu memperbaiki dirinya, insya Allah akan lahir masyarakat yang bermartabat. Dari masyarakat yang bertakwa akan muncul pemimpin-pemimpin yang amanah. Dan dari kepemimpinan yang amanah akan tumbuh negeri yang diberkahi Allah Swt.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada umat ini pemimpin-pemimpin yang berilmu, bertakwa, adil, jujur, mencintai rakyatnya, serta takut kepada-Mu. Jadikan kami termasuk hamba-hamba yang menegakkan kebenaran, menjauhi kezaliman, dan mengemban setiap amanah dengan penuh keikhlasan. Āmīn Yā Rabbal 'Ālamīn.
Dr. Nasrul Syarif, M.Si.
Sekjen Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa