Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Pakistan vs Afganistan, Jurnalis: Tidak Seharusnya Sesama Muslim Saling Serang

Minggu, 21 Juni 2026 | 16:37 WIB Last Updated 2026-06-21T09:37:02Z

TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo atau yang lebih akrab dipanggil Om Joy sangat menyesalkan tindakan Pakistan yang membombardir Afganistan dan menewaskan sedikitnya 13 orang.

 

"Sesama Muslim saling menyerang, sesama Muslim saling menuduh, bahkan sesama Muslim saling menumpahkan darah," sesalnya yang diungkapkannya kepada TintaSiyasi.ID pada Jumat (12/06/2026).

 

Menurutnya, meskipun keduanya memiliki alasan yang kuat untuk saling menyerang namun permasalahannya bukan tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. “Lebih jauh lagi, ada pertanyaan mendasar yang mengusiknya,” ujarnya.

 

"Mengapa tragedi seperti ini terus berulang di dunia Islam? Mengapa yang saling berhadapan justru sesama Muslim?" tandasnya.

 

Om Joy menilai bahwa persoalan itu tidak cukup dibaca sebagai sengketa keamanan atau konflik lintas batas. “Lebih dalam lagi, persoalan ini muncul sejak ditetapkannya garis buatan manusia,” sebutnya.

 

"Pada tahun 1893, Inggris menetapkan Durand Line, garis perbatasan yang membelah wilayah suku-suku Muslim di Pasthun yang selama berabad-abad hidup dalam satu kawasan yang sama." Bebernya.

 

Sejak saat itulah, kaum Muslim di wilayah tersebut terpecah menjadi dua wilayah politik yang berbeda. “Satu keluarga bisa berada di dua negara yang berbeda dengan kepentingan nasional yang berbeda,” urainya.

 

"Karena itu, konflik hari ini bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah dari sejarah Islam. Namun lahir dari tatanan politik modern yang memecah satu umat menjadi banyak negara yang berdiri sendiri-sendiri," tandasnya.

 

Om Joy menyatakan, apa yang terjadi antara Pakistan dan Afganistan, ataupun negara Muslim yang lain adalah akibat dari umat Islam sendiri yang lebih memilih ikatan nasionalisme daripada ikatan akidah.

 

“Akibatnya ketika terjadi sengketa, yang berbicara bukan lagi ukhuwah islamiah. Yang berbicara adalah logika negara bangsa,” tegasnya.

 

"Ketika batas wilayah menjadi identitas utama, ukhuwah perlahan tersingkir. Ketika nasionalisme menjadi orientasi utama, persaudaraan Islam kehilangan kekuatannya," lanjutnya.

 

Jalan Persatuan

 

Om Joy kembali menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini tidak cukup dengan seruan damai sesaat. “Tidak cukup pula dengan perundingan yang hanya meredakan konflik sementara,” lugasnya.

 

Menurutnya, selama umat Islam tetap tercerai-berai ke dalam puluhan negara yang masing-masing bergerak berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri, potensi konflik serupa akan terus ada.

 

"Umat Islam membutuhkan persatuan yang nyata. Persatuan yang dibangun di atas akidah Islam. Persatuan yang diatur dengan syariat Islam yang diwujudkan dalam kepemimpinan Islam yang menyatukan umat, " tegasnya.

 

Ia menegaskan bahwa persatuan umat Islam tidak akan lahir dari angan-angan. “Namun membutuhkan kesadaran, perjuangan, dan pengorbanan,” ungkapnya.

 

"Berpegang teguh pada janji Allah dan bisyarah Rasulullah tentang tegaknya kembali Khilafah 'ala Minhajin Nubuwwah tidak cukup hanya dengan meratapi konflik yang terus berulang. Namun, harus berupaya seoptimal mungkin, sesuai kemampuan masing-masing untuk memantaskan diri menjadi bagian dari kebangkitan umat," pungkasnya.[] Ni'matul Afiah

Opini

×
Berita Terbaru Update