TintaSiyasi.id -- Jurnalis Joko Prasetyo atau yang lebih akrab dipanggil Om Joy sangat menyesalkan tindakan Pakistan yang membombardir Afganistan dan menewaskan sedikitnya 13 orang.
"Sesama Muslim saling
menyerang, sesama Muslim saling menuduh, bahkan sesama Muslim saling
menumpahkan darah," sesalnya yang diungkapkannya kepada TintaSiyasi.ID
pada Jumat (12/06/2026).
Menurutnya, meskipun keduanya
memiliki alasan yang kuat untuk saling menyerang namun permasalahannya bukan
tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. “Lebih jauh lagi, ada pertanyaan
mendasar yang mengusiknya,” ujarnya.
"Mengapa tragedi seperti ini
terus berulang di dunia Islam? Mengapa yang saling berhadapan justru sesama
Muslim?" tandasnya.
Om Joy menilai bahwa persoalan itu
tidak cukup dibaca sebagai sengketa keamanan atau konflik lintas batas. “Lebih
dalam lagi, persoalan ini muncul sejak ditetapkannya garis buatan manusia,”
sebutnya.
"Pada tahun 1893, Inggris
menetapkan Durand Line, garis perbatasan yang membelah wilayah suku-suku
Muslim di Pasthun yang selama berabad-abad hidup dalam satu kawasan yang
sama." Bebernya.
Sejak saat itulah, kaum Muslim di
wilayah tersebut terpecah menjadi dua wilayah politik yang berbeda. “Satu
keluarga bisa berada di dua negara yang berbeda dengan kepentingan nasional
yang berbeda,” urainya.
"Karena itu, konflik hari
ini bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah dari sejarah Islam. Namun lahir
dari tatanan politik modern yang memecah satu umat menjadi banyak negara yang
berdiri sendiri-sendiri," tandasnya.
Om Joy menyatakan, apa yang
terjadi antara Pakistan dan Afganistan, ataupun negara Muslim yang lain adalah
akibat dari umat Islam sendiri yang lebih memilih ikatan nasionalisme daripada
ikatan akidah.
“Akibatnya ketika terjadi
sengketa, yang berbicara bukan lagi ukhuwah islamiah. Yang berbicara adalah
logika negara bangsa,” tegasnya.
"Ketika batas wilayah
menjadi identitas utama, ukhuwah perlahan tersingkir. Ketika nasionalisme
menjadi orientasi utama, persaudaraan Islam kehilangan kekuatannya,"
lanjutnya.
Jalan Persatuan
Om Joy kembali menegaskan bahwa
penyelesaian masalah ini tidak cukup dengan seruan damai sesaat. “Tidak cukup
pula dengan perundingan yang hanya meredakan konflik sementara,” lugasnya.
Menurutnya, selama umat Islam
tetap tercerai-berai ke dalam puluhan negara yang masing-masing bergerak
berdasarkan kepentingan nasionalnya sendiri, potensi konflik serupa akan terus
ada.
"Umat Islam membutuhkan
persatuan yang nyata. Persatuan yang dibangun di atas akidah Islam. Persatuan
yang diatur dengan syariat Islam yang diwujudkan dalam kepemimpinan Islam yang
menyatukan umat, " tegasnya.
Ia menegaskan bahwa persatuan
umat Islam tidak akan lahir dari angan-angan. “Namun membutuhkan kesadaran,
perjuangan, dan pengorbanan,” ungkapnya.
"Berpegang teguh pada janji
Allah dan bisyarah Rasulullah tentang tegaknya kembali Khilafah 'ala
Minhajin Nubuwwah tidak cukup hanya dengan meratapi konflik yang terus
berulang. Namun, harus berupaya seoptimal mungkin, sesuai kemampuan
masing-masing untuk memantaskan diri menjadi bagian dari kebangkitan
umat," pungkasnya.[] Ni'matul Afiah