Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Negara Rusak, Jangan Salahkan Takdir

Minggu, 28 Juni 2026 | 21:38 WIB Last Updated 2026-06-28T14:38:36Z

TintaSiyasi.id -- Di tengah berbagai persoalan bangsa—mulai dari korupsi, ketimpangan ekonomi, mahalnya harga kebutuhan pokok, hingga melemahnya nilai rupiah—sering muncul pertanyaan reflektif: mengapa Allah tidak langsung turun tangan memperbaiki keadaan?

Mengapa para koruptor tidak segera diazab? Mengapa ekonomi tidak tiba-tiba membaik? Mengapa tidak hadir pemimpin adil yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan dalam sekejap?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sesungguhnya menyentuh pemahaman manusia tentang takdir, sebab-akibat, dan tanggung jawab. Islam tidak mengajarkan pola pikir pasrah tanpa usaha. Sebaliknya, Islam mengajarkan bahwa Allah SWT menciptakan kehidupan dengan sunnatullah, yakni hukum sebab-akibat yang harus dijalani manusia.

Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (TQS. Ar-Ra'd: 11).

Ayat ini menunjukkan bahwa perubahan tidak terjadi secara otomatis. Allah memberikan akal, petunjuk, dan kemampuan kepada manusia untuk memperbaiki keadaan mereka. Karena itu, ketika suatu bangsa mengalami kerusakan, yang perlu dikaji bukanlah mengapa Allah belum mengubah keadaan, tetapi apa yang menyebabkan kerusakan itu terus berlangsung.

Sebagaimana disoroti Khilafah News (22 Juni 2026), banyak persoalan yang menimpa negeri ini sesungguhnya merupakan akibat dari pilihan sistem yang diterapkan manusia sendiri. Korupsi, kesenjangan sosial, eksploitasi sumber daya alam, tingginya utang negara, hingga berbagai kebijakan yang merugikan rakyat bukanlah peristiwa yang muncul tanpa sebab. Semua itu lahir dari tata kelola yang dibangun berdasarkan aturan dan ideologi tertentu.

Akar persoalan tersebut dapat ditelusuri pada penerapan sistem sekuler-kapitalistik. Sekularisme memisahkan agama dari kehidupan publik sehingga kebijakan negara tidak lagi merujuk kepada hukum Allah, melainkan kepada pertimbangan politik dan kepentingan manusia. Sementara kapitalisme menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama pembangunan.

Akibatnya, kekuasaan sering menjadi sarana transaksi kepentingan, sumber daya alam dikuasai korporasi, dan kesejahteraan rakyat dikalahkan oleh kepentingan ekonomi segelintir pihak. Dalam sistem seperti ini, kerusakan bukanlah penyimpangan, melainkan konsekuensi yang terus berulang.

Allah SWT telah mengingatkan:

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar." (TQS. Ar-Rum: 41).

Ayat ini menegaskan bahwa banyak kerusakan yang terjadi merupakan hasil perbuatan manusia sendiri. Karena itu, menyalahkan takdir atas berbagai persoalan bangsa merupakan cara pandang yang keliru. Takdir tidak pernah memaksa manusia memilih sistem yang bertentangan dengan petunjuk Allah.

Islam menawarkan jalan keluar yang berbeda. Islam tidak hanya memberikan tuntunan ibadah individual, tetapi juga menghadirkan aturan kehidupan yang mengatur ekonomi, politik, pendidikan, peradilan, dan pengelolaan kekayaan negara.

Dalam Islam, pemimpin adalah ra'in (pengurus) yang bertanggung jawab atas rakyatnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, negara wajib mengelola urusan rakyat berdasarkan syariat, bukan berdasarkan kepentingan kelompok, tekanan pemilik modal, atau pertimbangan keuntungan semata.

Islam juga menetapkan bahwa sumber daya alam yang menjadi kebutuhan publik harus dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api." (HR. Abu Dawud).

Dengan pengelolaan yang benar, kekayaan alam dapat menjadi sumber pembiayaan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan publik lainnya tanpa membebani rakyat.

Oleh karena itu, solusi atas berbagai persoalan bangsa bukanlah menunggu keajaiban atau menyalahkan takdir. Perubahan hanya akan terwujud ketika manusia berani memperbaiki cara berpikir, meninggalkan sistem yang rusak, dan kembali kepada aturan Allah SWT.

Kerusakan yang terjadi hari ini bukan bukti bahwa Allah meninggalkan manusia, melainkan peringatan agar manusia kembali kepada petunjuk-Nya. Selama sistem sekuler-kapitalistik tetap dipertahankan, berbagai krisis akan terus berulang. Sebaliknya, ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah, terbuka jalan menuju keadilan, keberkahan, dan kesejahteraan yang hakiki.

Wallaahu a'lam bish-shawab.


Oleh: drh. Mei Widiati, M.Pd.
(Pemerhati Pendidikan dan Kesehatan)

Opini

×
Berita Terbaru Update