TintaSiyasi.id -- Muharram kembali hadir sebagai penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Bagi umat Islam, datangnya tahun baru bukan sekadar pergantian angka dan waktu, melainkan momentum untuk melakukan muhasabah atau introspeksi terhadap perjalanan diri, masyarakat, dan peradaban umat.
Muharram seharusnya menjadi pengingat akan makna hijrah yang sesungguhnya, yaitu perubahan menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan petunjuk Allah SWT.
Namun, ketika menatap realitas kehidupan saat ini, umat Islam dihadapkan pada berbagai persoalan yang memprihatinkan. Di dalam negeri, masyarakat masih bergulat dengan berbagai problem yang seolah tidak pernah selesai. Kemiskinan yang bersifat struktural masih menjadi beban bagi sebagian rakyat. Di sisi lain, berbagai bentuk kemaksiatan dan kejahatan sosial seperti perjudian daring, prostitusi anak, perundungan, eksploitasi seksual, dan tindak kekerasan terus menjadi ancaman bagi generasi dan kehidupan masyarakat.
Berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa perbaikan yang dilakukan selama ini belum mampu menyentuh akar permasalahan. Dalang dari semua problem ini adalah sekularisme-kapitalisme, yang menjadi dasar kerusakan sosial terjadi karena kehidupan manusia diatur berdasarkan pemikiran yang memisahkan agama dari urusan kehidupan dan menjadikan keuntungan materi sebagai ukuran utama. Akibatnya, standar halal dan haram semakin tersisih dalam berbagai kebijakan serta perilaku masyarakat.
Persoalan umat juga tampak pada kondisi dunia Islam saat ini. Tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat Palestina, khususnya di Gaza, masih berlangsung dan menyisakan duka luka yang mendalam bagi kaum Muslim di seluruh dunia. Banyak warga sipil mengalami penderitaan akibat perang, keterbatasan bantuan kemanusiaan, dan kondisi hidup yang sangat sulit.
Kondisi ini menjadi salah satu gambaran beratnya tantangan yang dihadapi umat Islam dalam kancah dunia internasional. Lemahnya posisi umat Islam dalam menghadapi berbagai persoalan global yang dikaitkan dengan tidak adanya persatuan politik umat Islam dalam satu kepemimpinan yang menyatukan kekuatan mereka. Perpecahan berdasarkan batas negara dan kepentingan nasional dinilai menyebabkan umat Islam sulit menghadirkan pengaruh yang kuat di tingkat dunia.
Muharram seharusnya menjadi titik kebangkitan bagi umat Islam untuk kembali memahami makna hijrah secara lebih mendalam. Hijrah bukan hanya berpindah tempat atau sekadar melakukan perubahan pribadi, tetapi juga merupakan usaha meninggalkan segala sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah dan berusaha menghadirkan kehidupan yang lebih dekat dengan syariat-Nya secara menyeluruh atau kaffah.
Dimana perjuangan Rasulullah Saw dalam membawa risalah Islam memberikan pelajaran bahwa perubahan besar tidak terjadi dalam waktu singkat. Beliau bersama para sahabat menghadapi berbagai tantangan, penolakan, dan pengorbanan sebelum ajaran Islam dapat diterapkan secara luas. Dari perjalanan tersebut, umat Islam dapat mengambil pelajaran tentang pentingnya kesabaran, ilmu, keteguhan, serta perjuangan yang terarah dalam melakukan perubahan.
Oleh karena itu, datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah hendaknya menjadi seruan bagi setiap kaum Muslim untuk bangkit dari keterpurukan dan tidak sekadar menerima berbagai persoalan sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. Umat perlu meningkatkan keimanan, memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam, memperbaiki akhlak, serta berperan aktif dalam menghadirkan kebaikan di tengah masyarakat.
Semangat hijrah mengajarkan bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran yang benar, dilanjutkan dengan amal dan perjuangan yang konsisten. Setiap muslim memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi sesuai kemampuan dan jalan yang diyakininya dalam mengupayakan kemaslahatan umat.
Muharram bukan sekadar awal tahun baru Islam, tetapi sebuah panggilan untuk melakukan perubahan. Dengan kembali menjadikan ajaran Islam kaffah sebagai pedoman dan panduan hidup, memperkuat persatuan, dan memperjuangkan kebaikan dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, sehingga umat diharapkan mampu kembali menjadi khairu ummah—umat terbaik yang memberikan manfaat dan rahmat bagi seluruh manusia.
Wallahu a'lam bishshawab.[]
Oleh: Aliyah Nurhasana
Aktivis Muslimah