TintaSiyasi.id -- Muharam kerap menjadi momen awal yang memberi makna perubahan bagi umat Islam. Kini telah memasuki 1 Muharram 1448 H, umat Islam kembali menapaki lembaran baru dalam kalender Hijriah. Namun, semenjak umat kehilangan perisai, pergantian tahun hanya menampakkan berbagai persoalan yang makin erat membelit kehidupan umat. Sudah lebih dari 100 tahun tanpa perisai umat, alih-alih menyaksikan perubahan yang mendasar, umat justru berhadapan dengan berbagai krisis yang menyentuh seluruh aspek kehidupan.
Di dalam negeri, telah menampakkan kerusakan di seluruh aspek kehidupan. Problem sosial masih menjadi pemandangan yang berulang, dekadensi moral baik yang dialami generasi muda maupun tua menjadi bukti tak terbantahkan. Kemiskinan struktural tak mampu dientaskan dan terus menghimpit rakyat, sementara praktik judi online merusak baik yang muda ataupun tua, yang miskin ataupun yang kaya, menghancurkan banyak keluarga. Di sisi lain diperparah dengan berbagai peningkatan kasus kekerasan terhadap anak, prostitusi anak, bullying, eksploitasi seksual, kriminalitas, korupsi, ketidakadilan hukum, dan berbagai persoalan lainnya.
Seluruh problematika umat tersebut bukan sekadar kumpulan masalah, tetapi mengisyaratkan persoalan yang mendasar dalam tata kelola kehidupan. Ketika kerusakan terus berulang dan bahkan makin parah meskipun berbagai kebijakan diterapkan silih berganti, maka saatnya umat sadar ini adalah problem sistemis yang diakibatkan penerapan sistem kehidupan saat ini, yakni sekuler kapitalisme.
Dunia yang ditopang sistem kehidupan sekuler kapitalisme juga tak kalah menampakkan kerusakan yang sama. Kita dihadapkan pada penderitaan umat Islam di Palestina yang tak pernah usai. Genosida yang dilakukan Zionis terhadap rakyat Palestina telah merenggut nyawa-nyawa tak berdosa, anak-anak, perempuan, orang tua, tenaga medis, pers, bahkan relawan kemanusiaan tak luput dari siksa, sementara blokade dan kelaparan menambah derita mereka. Mirisnya, di tengah tragedi tersebut, umat Islam di penjuru dunia menyaksikan diamnya para penguasa negeri-negeri Muslim, tak menunjukkan langkah nyata yang mampu menghentikan kezaliman Zionis dan sekutunya.
Saatnya, kembali menjadikan momentum Muharram 1448 H sebagai langkah awal untuk melakukan muhasabah mendalam terhadap kondisi umat yang makin jauh dari predikat khairu ummah. Jadikan Muharram sebagai momentum kebangkitan, memperkuat kesadaran kebutuhan penerapan Islam secara menyeluruh, serta memperjuangkan Islam secara kaffah sebagai solusi bagi berbagai problem yang menimpa umat manusia.
Bagaimana sistem kehidupan sekuler kapitalisme merusak seluruh aspek kehidupan?
Bagaimana menjadikan Muharram sebagai strategi membangkitkan umat agar menegakkan Islam secara kaffah?
Sistem Kehidupan Sekuler Kapitalisme Merusak Seluruh Aspek Kehidupan
Sistem kehidupan sekuler kapitalisme adalah peradaban yang dibangun atas dasar akidah sekuler. Dari akidah inilah prinsip pemisahan agama dari kehidupan telah menggerogoti pemikiran umat Islam. Dari pemikiran sekuler ini pula yang menjadikan agama harus dipisahkan dari negara.
Sekuler kapitalisme menjadikan aturan agama hanya berhak mengatur ranah pribadi, sedangkan urusan publik hanya boleh diatur berdasarkan akal manusia dan manfaat semata. Secara sempurna sistem ini telah mendepak aturan agama dalam mengatur kehidupan masyarakat.
Telah jelas, ketika aturan agama disingkirkan dari pengaturan kehidupan manusia, maka standar halal dan haram tak lagi dibutuhkan. Standar halal dan haram telah tergantikan oleh seberapa banyak manfaat dan keuntungan materi yang dapat diperoleh. Dari standar ini, baik atau buruk perbuatan manusia bukan lagi ditimbang dari kacamata syariat, tetapi berdasarkan keuntungan ekonomi atau kepentingan materi. Pergeseran standar inilah yang menjadi gerbang pintu teebunya berbagai kerusakan di seluruh aspek kehidupan.
Di aspek ekonomi, sistem ekonomi kapitalisme telah melahirkan jurang kesenjangan yang begitu dalam antara si kaya dan si miskin. Kapitalisme membebaskan kekayaan milik umum diprivatisasi oleh individu dan korporat. Ini menjadikan kekayaan hanya berputar di kalangan para kapitalis. Sedangkan masyarakat makin terjerumus dalam kemiskinan dan beban berat dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Di aspek sosial, gaya hidup sekuler yang menjunjung tinggi liberalisme menyebabkan berbagai penyimpanan. Perilaku-perilaku yang merusak moral makin meningkat dan mirisnya menjangkit di semua kalangan, tak memandang miskin kaya, tua atau muda, bahkan anak-anak. Mulai dari kekerasan, bullying, seksualitas, kriminalitas, perjudian, dan berbagai macam kemaksiatan lainnya.
Di aspek pendidikan, hanya mimpi berharap sistem pendidikan sekuler kapitalisme mampu membentuk generasi berkepribadian Islam. Generasi dicetak hanya demi tujuan pemenuhan kepentingan korporat, sebagai tenaga-tenaga butuh yang mampu bersaing di pasar. Pendidikan hanya berorientasi pada pencapaian materi daripada pembentukan ketakwaan dan akhlak mulia. Generasi Muslim malah makin jauh dari julukan khairu ummah.
Di aspek media dan budaya, popularitas dan keuntungan dijadikan prioritas utama sehingga konten-konten sampah mulai menjamur. Tak sedikit konten-konten yang mempertontonkan kekerasan, pornografi, hedonisme yang makin menjauhkan umat dari nilai-nilai Islam.
Di aspek politik dan hukum, sekularisme menghalalkan kedaulatan ada di tangan manusia-manusia lemah. Hukum dibuat dan diubah sesuai pemilik kepentingan. Keadilan menjadi mahal, hanya mampu dibeli para pemilik modal.
Di tingkat global, sistem kehidupan sekuler kapitalisme telah mencerai-beraikan umat Muslim dalam banyak nation state. Ikatan nasionalisme makin menjerat dan merapuhkan ukhuwah islamiyah. Umat tak mampu bersatu dalam satu akidah Islam karena sekat nasionalisme.
Bukankah telah nampak bagaimana persoalan Palestina tak mampu terselesaikan meskipun umat Islam berjumlah milyaran tersebar di seluruh dunia. Namun, kekuatan umat tak mampu dipersatukan, karena tak memiliki kekuatan atau institusi yang dapat menghimpun kekuatan politik, ekonomi, dan militer kaum Muslim di seluruh dunia. Maka wajar, umat Islam hari ini lemah di hadapan dominasi global sekuler kapitalisme.
Berbagai problematika yang yang membelit umat hari ini, mulai dari kemiskinan, dekadensi moral, kekerasan, kriminalitas, ketidakadilan hukum, hingga melemahnya posisi umat Islam di tingkat global, menunjukkan akar masalah yang mendasar dalam sistem kehidupan yang diterapkan. Pergeseran standar halal dan haram berganti standar manfaat dan keuntungan materi telah menimbulkan kerusakan di seluruh aspek kehidupan. Sistem kehidupan sekuler kapitalisme tidak selaras dengan fitrah manusia, bertentangan dengan syariat Islam berpotensi menimbulkan kerusakan di seluruh aspek kehidupan. Dibutuhkan perubahan yang sistemis untuk membangkitkan umat agar keluar dari keterpurukan hari ini.
Muharram Menjadi Momentum Kebangkitan Umat untuk Menegakkan Islam Secara Kaffah
Muharram kerap menjadi langkah awal umat Islam dalam melakukan muhasabah. Umat wajib merefleksi kembali kondisi umat. Langkah hijrah Rasulullah Saw dari darul kufur menuju darul Islam patut menjadi arah perjuangan umat hari ini.
Akar masalah yang disebabkan oleh sistem kehidupan sekuler kapitalisme harus juga diselesaikan dengan sistem kehidupan yang mampu menjadi penyembuh secara totalitas. Sebagaimana Kalamullah dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang artinya, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)."
Dari ayat tersebut seharusnya telah menyadarkan umat saat ini, bahwa berbagai macam problem atau kerusakan di seluruh aspek kehidupan adalah akibat ulah manusia sendiri, akibat umat jauh dari petunjuk Al-Khaliq, Penciptanya, Allah SWT. Akibat manusia enggan diatur dengan aturan Tuhannya.
Oleh karena itu, melalui kesadaran tersebut seharusnya mampu mendorong kebangkitan umat. Saatnya umat bangkit dari keterpurukan selama ini, berani mewujudkan perubahan yang hakiki. Bukan sekadar perubahan individu semata, tetapi perubahan secara menyeluruh dan sistemis. Mewujudkan kehidupan Islam di tengah-tengah masyarakat. Menjadikan seluruh syariat Islam diterapkan di semua aspek kehidupan.
Dalam mewujudkan ini dibutuhkan perjuangan, sebagaimana perjuangan Rasulullah Saw dahulu di Makkah hingga mewujudkan darul Islam di Madinah. Jejak dakwah Rasulullah Saw dalam mewujudkan perubahan besar tidak terjadi secara instan. Perjuangan beliau dalam membangun pemahaman Islam, membina para sahabat dengan akidah Islam, hingga Islam menjadi way of life. Metode dakwah Rasulullah Saw pun terukur, terarah, dan terorganisir. Dakwah terus dilakukan dengan penuh kesabaran, keteguhan, dan konsisten meskipun ada berbagai tantangan dan penolakan dari kaum Quraisy saat itu.
Dari rekam jejak perjalanan dakwah Rasulullah Saw, umat harus mampu mengambil pelajaran bahwa kebangkitan umat dibutuhkan kesadaran kolektif. Perubahan hakiki tidak muncul dari semangat sesaat, melainkan harus terus-menerus dan tujuan yang jelas.
Upaya perubahan tersebut membutuhkan kepemimpinan sebuah jamaah dakwah ideologis yang tulus mengajak umat untuk berjuang. Dengan rahmat Allah, jalan dakwah akan mendapatkan hasil sepanjang menapaki thariqah Rasulullah, sebagaimana yang diemban oleh jamaah dakwah ideologis yang tulus menerapkan Islam kaffah.
Momentum Muharram 1448 H hendaknya menjadi titik refleksi sekaligus kebangkitan umat untuk kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh. Meneladani hijrah Rasulullah Saw, perubahan hakiki menuntut perjuangan yang sadar, terarah, dan berkesinambungan berjuang bersama dalam barisan dakwah yang konsisten mengikuti metode dakwah Rasulullah Saw mewujudkan kembali kehidupan Islam. Memperjuangkan Islam agar dapat diterapkan secara kaffah di tengah-tengah kehidupan.[]
#LamRad
#LiveOppressedOrRiseUpAgainst
Oleh: Dewi Srimurtiningsih
Dosol Uniol 4.0 Diponorogo