Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gencatan Senjata Palsu, Pembunuhan Terus Berlanjut di Gaza

Minggu, 28 Juni 2026 | 17:34 WIB Last Updated 2026-06-28T10:34:29Z
Tintasiyasi.id.com -- Setiap kali kata “gencatan senjata“ disepakati dan diumumkan, warga Gaza bersorak. Namun tetap menghitung mundur. Sebab secara kolektif, gencatan versi Israel bukan jeda untuk hidup damai melainkan jeda untuk mengatur ulang bidikan selanjutnya. 

Dan sejak gencatan senjata yang dimediasi AS diberlakukan pada Oktober 2025, korban yang tewas akibat serangan Israel telah melampaui 1.000 jiwa (aljazeera.com, 18/6/2026).

Gencatan sejata biasanya ditandai dengan banyaknya truk bantuan logistik kemanusiaan yang masuk, listrik yang menyala, langit yang tenang selama bertahun-tahun. Namun apa yang terjadi di Gaza justru sebaliknya.

Sebagian besar korban yang tewas justru pada hari-hari ketika “jeda kemanusiaan” ini diumumkan. Mereka justru diserang dan dibunuh disaat mereka tetap percaya pada janji bahwa situasi telah aman dan tanpa serangan. 

Ketika ribuan pengungsi kembali ke rumah mereka atau warga sipil yang keluar dari persembunyiannya di situlah Israel kembali berulah, serangan udara, artileri, dan drone kembali ditembakkan. Alasannya juga selalu sama, kesalahan teknis, membalas serangan atau ada target militer yang katanya bersembunyi di balik warga sipil.

Ini bukan pelanggaran, melainkan memang desainnya. Israel tidak bergerak sendiri, Amerika Serikat sebagai sekutunya menjamin sekaligus menjadi sponsor utama terus memberi mereka bantuan dengan cara apapun. Amerika tak mungkin adil.

AS yang mendesain gencatan lewat proposal Presiden Trump. Ketika gencatan disepakati pada 17 Oktober 2025 lalu, AS langsung dirikan Civil Military Coordination Center (CMCC) di Israel sebagai bagian dari perjanjian yang bertujuan untuk mengkoordinasikan upaya stabilisasi dan bantuan kemanusiaan, logistik dan keamanan di Jalur Gaza pasca perang.

CMCC hampir libatkan 50 negara dan organisasi. Tambah lagi 200 personel militer AS ditempatkan di Israel untuk bantu implementasi gencatan. Artinya: uang, senjata, intelijen, sampai tentara AS masuk dengan dalih “jaga gencatan”. Faktanya, tentara Israel tetap kuasai 53% wilayah Gaza selama jeda.

Israel mungkin memang mundur dari pesisir Gaza ke luar “garis kuning” atau zona aman. Tapi militernya tetap menguasai 53% wilayah Gaza. Ledakan bangunan tempat tinggal dilaporkan tiap hari oleh PBB. Akses ke lahan pertanian, peternakan, infrastruktur publik, dan aset kemanusiaan tetap dilarang dan dibatasi.

Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata secara sistematis, Disaat dunia internasional ditekan, diboikot, aksi bela Palestina membesar, jeda gencatan senjata ini digunakan untuk meredam headline citra negatif Israel. Setelah dunia kembali lengah, operasi dilanjutkan.

Jeda gencatan senjata juga menjadi konsolidasi militer bagi Israel untuk rotasi pasukan, isi ulang amunisi dan memetakan kembali target serangan. Tank militer yang katanya mundur dari medan nyatanya hanya bergeser beberapa meter.

Ini adalah Gencatan senjata palsu yang tidak pernah benar-benar menciptakan perdamaian, melainkan strategi untuk meredakan opini dunia sambil membiarkan Israel terus membunuh secara terukur. 

Mengandalkan negara penjajah untuk urusan umat Islam apalagi dengan dalih perdamaian adalah kesalahan fatal. Karena mengaharap adanya perdamaian pada musuh sama saja menyerahkan tanah Palestina pada musuh.

Malah semakin melanggengkan penjajahan. Akar masalahnya bukan sebab pelanggaran gencatan senjata itu, melainkan ketiadaan junnah (perisai) yang melindungi umat Islam.

Umat tidak boleh berharap dan menggantungkan nasib pada kafir dan musuh-musuh Islam. Umat Islam harus mengambil solusi Islam dalam setiap lini hidup, termasuk menyelesaikan masalah Palestina. Pembebasan Palestina tidak cukup dengan sekedar bantuan kemanusiaan, melainkan kekuatan dan persatuan umat Islam seluruh dunia.

Satu-satunya solusi Palestina adalah jihad fii sabilillah untuk mengusir penjajah Israel beserta sekutunya. Para penguasa negeri Islam harus mengirim pasukan militernya berjihad untuk melawan Israel ,terutama negeri kawasan. Dan ini merupakan kewajiban syar’i. 

Jihad fii sabilillah akan sangat mudah dan berkekuatan luar biasa apabila umat bersatu dalam naungan peradaban Islam. Umat harus memperjuangkan kembalinya peradaban itu dan mejadikannya sebagai perisai kaum Muslimin yang akan menjaga setiap jengkal tanah mereka. Wallahu’alam bishshowwab.[]

Oleh: Norma Hariyanti, A. Md. (Penulis Buku Antologi)

Opini

×
Berita Terbaru Update