Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Gen z: Dari Depresi Menuju Resistensi

Minggu, 28 Juni 2026 | 17:25 WIB Last Updated 2026-06-28T10:25:27Z
Tintasiyasi.id.com -- Di Indonesia, Survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022 mencatat 34,8 % atau 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental dan 5,5 % di antaranya memenuhi kriteria gangguan mental.

Sejumlah faktor pemicunya pun beragam. Mulai dari masa pubertas, perubahan emosional, Pengaruh media sosial, tekanan sosial, dan lainnya seperti lingkungan keluarga, pertemanan, serta sistem pendidikan juga menjadi sebab gangguan mental generasi saat ini (Kompas.id, 18/06/2026).

Fenomena ini menggenjala di seluruh dunia, dengan ketidakpastian karir dan masa depan membuat gen z bersikap lebih skeptis. Namun, dari kondisi tersebut muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi, dimana di tengah tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, Gen Z justru menunjukkan sikap yang lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental. 

Berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih memilih diam dan menyimpan masalah secara pribadi, Gen Z kini melihat kesehatan mental adalah bagian penting dari kesejahteraan secara keseluruhan.

Gangguan Kesehatan Mental Adalah Bukti Kegagalan Sistem Kapitalisme 

Krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini jadi penyebab utama kecemasan yang dialami Gen Z. Terutama tekanan ekonomi yang terjadi saat ini, membuat generasi menjadi cemas karena ketidakpastian karir dan masa depannya. 

Dan perundungan siber di media sosial pun ikut memperparah gangguan mental generasi sekarang. Belum lagi tampilan konten- konten, dan gaya hidup diperlihatkan di media seringkali menjadi bahan perbandingan yang mempengaruhi kehidupan pemuda.

Potensi pemuda saat ini, dilemahkan dengan berbagai hal yang merusak jati diri melalui peradaban kapitalisme sekuler. Pencarian jadi diri yang terdistorsi oleh standar sekuler menjadikan mereka krisis etika dan nila moral. 

Abainya riayah negara dalam sistem kapitalisme terhadap generasi, Alih-alih dirangkul, atau memberi perlindungan generasi muda justru erat kali mendapat stigma buruk dari generasi di atasnya.

Seperti dicap lemah, manja, pemalas, individualis, serta dianggap sepele dan tidak loyal di dunia kerja. Akibatnya tidak heran jika Generasi Z mengalami tekanan mental, merasa tidak dihargai dan terasing. 

Meskipun demikian, banyak Gen Z yang akhirnya memilih untuk mengabaikan stigma tersebut walaupun dalam keadaan tertekan, mereka tetap fokus membuktikan diri, lewat kreativitas dan cara kerja yang lebih modern.

Selain itu mereka terbuka dalam upaya mencari pengobatan mental mereka dengan konsultasi dengan para ahli, menunjukkan tingkat kepedulian akan kesehatan mentalnya. Dan di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis para pemuda baru tersebut bisa menjadi peluang perubahan untuk mereka bangkit menuju kondisi yang lebih baik dan ideal. 

Gen Z Butuh Solusi Islam Bukan Ilusi

Islam adalah salah satu solusi krisis yang melanda dunia hari ini, yang mampu menjadikan generasi dalam kondisi yang ideal dan sempurna sesuai aturan syariat Allah. Penerapan Islam Kaffah dibawah institusi khilafah akan mendatangkan Rahmat bagi seluruh alam. Membawa kedamaian dan keselamatan bagi kehidupan seluruh makhluk.

Karakter generasi di abad kejayaan Islam sangat kuat. Berkepribadian Islam dan ahli dalam berbagai bidang keilmuan. Seperti pemuda pemberani, Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan kota konstantinopel dengan keimanan dan kecerdasannya, dan masih banyak lagi generasi muda masa itu yang berhasil menjadi pencetak peradaban Islam yang gemilang.

Dalam sejarah Islam, pemuda adalah pemegang peran penting terutama untuk membawa risalah Islam. Sebagaimana para nabi dan rosul, yang di utus Allah untuk menyampaikan ajaran Islam, mereka semua dipilih rata-rata dari kalangan pemuda. Ibnu Abbas ra. pernah berkata, "Tidak ada seorang nabi pun yang diutus Allah melainkan ia dipilih dari kalangan pemudah saja. Begitu juga tidak ada seorang alim pun yang diberi ilmu melainkan (hanya) dari kalangan pemuda".

 Negara juga hadir sebagai pelindung dan pelayan umat, serta menjamin pemenuhan kebutuhan hidup secara adil, tanpa membedakan status antara satu dengan yg lainnya. Islam memandang semua manusia sama dan punya hak yang sama tanpa adanya perbedaan sedikitpun.

Maka sudah saatnya umat bangkit dari peta dan arah kehidupan yang salah, pemuda adalah agen perubahan. Maka, sudah seharusnya sadar dan kritis terhadap apa yang menimpa mereka saat ini, yaitu dengan perubahan secara menyeluruh. 

Dan itu hanya bisa terwujud ketika pemuda mau bergerak untuk mengemban mabda Islam, serta punya rasa peduli terhadap kondisi umat, sehingga masa depan emas bukan lagi sebatas angan-angan semata, melainkan kenyataan yang akan menghantarkan pada ketenangan dan keselamatan.
Wallahu'alam bishshowwab.[]

Oleh: Dwi Anjani
(Aktivis Muslimah)

Opini

×
Berita Terbaru Update