Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Anak Gaza Kehilangan Suara, Penguasa Muslim Kehilangan Nyali!

Selasa, 09 Juni 2026 | 13:02 WIB Last Updated 2026-06-09T06:02:48Z

TintaSiyasi.id -- Sebuah generasi di Gaza tengah dipaksa tumbuh dalam kesunyian yang mencekam sebagai dampak dari trauma yang merenggut kemampuan mendasar mereka untuk berbicara. Pakar Psikoterapi Anak Katrin Glatz Brubakk asal Norwegia menyampaikan bahwa lebih dari satu juta anak di Gaza kini menderita trauma dalam skala yang sangat parah.

 

Salah satu dampak paling memilukan yakni fenomena traumatic mutism, di mana anak-anak Gaza kehilangan kemampuan berbicara secara total. Lidah mereka kelu dan fungsi komunikasi mereka terkunci rapat karena otak kecil mereka menolak memproses ledakan bom yang mereka saksikan setiap hari.

 

Derita sunyi yang kini dialami anak-anak Gaza bukanlah sekadar gangguan kesehatan mental biasa, malainkan dampak langsung dari kebiadaban Zionis yang terus membantai tanpa pandang bulu. Ini adalah bagian dari skenario genosida terstruktur yang sengaja dirancang tidak hanya untuk melenyapkan fisik, tetapi juga menghancurkan mental masa depan rakyat Gaza.

 

Namun, di hadapan kejahatan kemanusiaan di Gaza, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta hukum internasional tampak lumpuh total dan tidak mampu menghentikan genosida tersebut. Dunia luar hanya bisa menonton seraya mengirimkan segelintir bantuan logistik kemanusiaan yang sama sekali tidak sebanding dengan skala kehancuran di lapangan.

 

Alhasil, kondisi ini diperparah oleh sikap para penguasa negeri-negeri Muslim di sekitar Palestina yang justru memilih diam dan menutup mata dari jeritan tanpa suara di Gaza. Pemimpin Muslim telah melakukan pengkhianatan nyata terhadap perjuangan rakyat Palestina demi mempertahankan kursi kekuasaan, investasi ekonomi, dan hubungan dengan sekutu Barat.

 

Sehingga, untuk mengharapkan perubahan nasib dari meja diplomasi semu atau menanti belas kasihan para pemimpin yang inkonsisten merupakan sebuah kesia-siaan yang naif. Secara logika, kejahatan militer Zionis yang disokong persenjataan canggih mustahil bisa dihentikan hanya dengan selembar kertas resolusi atau kecaman lisan.

 

Maka, satu-satunya jawaban yang setara untuk melawan penjajah Yahudi yang menggunakan moncong senjata yakni dengan memobilisasi kekuatan militer yang sepadan melalui jihad fisabilillah. Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah yang dirampas, sehingga kewajiban utama umat Islam saat ini adalah mengusir para penjajah tersebut dari tanah umat Muslim.

 

Meski demikian, kewajiban jihad dalam skala negara dengan mengirimkan pasukan tentara mustahil diwujudkan oleh sistem politik sekuler yang ada saat ini. Umat Islam mutlak membutuhkan kembali khilafah, sebuah institusi politik global yang akan bertindak sebagai pelindung bagi umat Muslim di seluruh dunia.

 

Oleh karena itu, perjuangan untuk mengakhiri penderitaan di Gaza tidak boleh lagi dikerdilkan sekadar menjadi isu kemanusiaan musiman, penggalangan donasi, atau konflik perbatasan biasa. Membangun kesadaran politik di tengah umat untuk menegakkan kembali khilafah harus diletakkan sebagai agenda perjuangan yang paling utama dan krusial.

 

​Hanya melalui khilafah, persatuan umat Islam di seluruh dunia akan terwujud nyata dalam komando tunggal yang bergerak membebaskan Baitulmaqdis dari belenggu penjajahan. Langkah konkret itulah yang pada akhirnya akan menghentikan genosida, mengusir Zionis, dan mengembalikan senyum serta hak bicara anak-anak Gaza.[] Taufan Noor Ismailian

Opini

×
Berita Terbaru Update