Salah satu dampak paling
memilukan yakni fenomena traumatic mutism, di mana anak-anak Gaza
kehilangan kemampuan berbicara secara total. Lidah mereka kelu dan fungsi
komunikasi mereka terkunci rapat karena otak kecil mereka menolak memproses
ledakan bom yang mereka saksikan setiap hari.
Derita sunyi yang kini dialami
anak-anak Gaza bukanlah sekadar gangguan kesehatan mental biasa, malainkan
dampak langsung dari kebiadaban Zionis yang terus membantai tanpa pandang bulu.
Ini adalah bagian dari skenario genosida terstruktur yang sengaja dirancang
tidak hanya untuk melenyapkan fisik, tetapi juga menghancurkan mental masa
depan rakyat Gaza.
Namun, di hadapan kejahatan
kemanusiaan di Gaza, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta hukum internasional
tampak lumpuh total dan tidak mampu menghentikan genosida tersebut. Dunia luar
hanya bisa menonton seraya mengirimkan segelintir bantuan logistik kemanusiaan
yang sama sekali tidak sebanding dengan skala kehancuran di lapangan.
Alhasil, kondisi ini diperparah
oleh sikap para penguasa negeri-negeri Muslim di sekitar Palestina yang justru
memilih diam dan menutup mata dari jeritan tanpa suara di Gaza. Pemimpin Muslim
telah melakukan pengkhianatan nyata terhadap perjuangan rakyat Palestina demi
mempertahankan kursi kekuasaan, investasi ekonomi, dan hubungan dengan sekutu
Barat.
Sehingga, untuk mengharapkan
perubahan nasib dari meja diplomasi semu atau menanti belas kasihan para
pemimpin yang inkonsisten merupakan sebuah kesia-siaan yang naif. Secara
logika, kejahatan militer Zionis yang disokong persenjataan canggih mustahil
bisa dihentikan hanya dengan selembar kertas resolusi atau kecaman lisan.
Maka, satu-satunya jawaban yang
setara untuk melawan penjajah Yahudi yang menggunakan moncong senjata yakni
dengan memobilisasi kekuatan militer yang sepadan melalui jihad fisabilillah.
Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah yang dirampas, sehingga
kewajiban utama umat Islam saat ini adalah mengusir para penjajah tersebut dari
tanah umat Muslim.
Meski demikian, kewajiban jihad
dalam skala negara dengan mengirimkan pasukan tentara mustahil diwujudkan oleh
sistem politik sekuler yang ada saat ini. Umat Islam mutlak membutuhkan kembali
khilafah, sebuah institusi politik global yang akan bertindak sebagai pelindung
bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Oleh karena itu, perjuangan untuk
mengakhiri penderitaan di Gaza tidak boleh lagi dikerdilkan sekadar menjadi isu
kemanusiaan musiman, penggalangan donasi, atau konflik perbatasan biasa.
Membangun kesadaran politik di tengah umat untuk menegakkan kembali khilafah
harus diletakkan sebagai agenda perjuangan yang paling utama dan krusial.
Hanya melalui khilafah,
persatuan umat Islam di seluruh dunia akan terwujud nyata dalam komando tunggal
yang bergerak membebaskan Baitulmaqdis dari belenggu penjajahan. Langkah
konkret itulah yang pada akhirnya akan menghentikan genosida, mengusir Zionis,
dan mengembalikan senyum serta hak bicara anak-anak Gaza.[] Taufan Noor
Ismailian