Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Anak-Anak Gaza Diambang Keterpurukan Mendalam

Sabtu, 20 Juni 2026 | 22:16 WIB Last Updated 2026-06-20T15:16:28Z

TintaSiyasi.id --Di bawah langit Gaza yang pekat oleh asap, ada jeritan tangis yang kehilangan suara. Duka itu meninggalkan luka mendalam bagi anak-anak yang tak berdosa. Menjadi yatim piatu sejak dini, rumah tempat berlindung hancur, dan masa kecil terenggut paksa oleh kejamnya perang yang tak kunjung usai. Tubuh-tubuh mungil itu kini penuh luka, namun luka yang paling dalam berada di hatinya. Tak sedikit anak Gaza meninggalkan traumatik yang mendalam. Seperti kata psikoterapis anak dari Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, ke BBC Mundo. Beliau mengatakan, "Setiap anak Gaza mengalami trauma, lebih dari satu juta anak telah menderita trauma parah," (Sumber: bbc.com/Indonesia, articles, 29 Mei 2026).

Kehilangan, kematian, dan penyiksaan tampak terjadi secara nyata di depan mata puluhan anak Gaza. Setelah 6 bulan gencatan senjata diumumkan, penyelesaian konflik tidak menghasilkan titik terang. Dilaporkan sejak tahun 2023 telah tercatat >20.000 anak terbunuh oleh pasukan zionis Israel, sedangkan menurut UNICEF sebanyak 41.000 anak Gaza mengalami luka cukup parah. Suara ledakan bom itu terus terdengar, jeritan tangis anak-anak Gaza tak lagi bersuara, sunyi dan hening dalam penderitaan yang cukup dalam. Sebagian besar anak mengalami trauma berat, psikisnya terluka akibat kejutan emosional secara bersamaan. Bukan lagi luka darah di luar yang mereka rasakan, pasukan zionis Israel berhasil menghancurkan pertahanan mental anak-anak secara perlahan.

Perjuangan Tak Akan Berhasil di Meja Diplomatik

Dunia seolah diam dan tidak berdaya menghentikan kekejaman tersebut. Suara mereka lantang mengatasnamakan kemanusiaan, namun bantuan bahan-bahan pokok yang diupayakan nyaris sedikit dan terbatas yang diterima warga Gaza. Blokade dan perbatasan masih terjaga ketat. Relawan-relawan kemanusiaan yang menembus jalur perbatasan pun tertangkap lalu diasingkan.

Bagaimana kondisi warga Gaza yang serba kekurangan dan keterbatasan mampu bertahan hidup? Benar saja, anak-anak Gaza meresponsnya dengan kondisi diam, sunyi, dan sulit diutarakan satu kata pun. Masa depan yang diimpikan nyaris musnah akibat kekejaman entitas zionis Israel. Revolusi-revolusi di meja diplomatik telah dilakukan. Sebagian negara menuntut dan mengecam Israel untuk segera memerdekakan negara Palestina. Hasilnya nihil, kondisi di Gaza makin luluh lantak rata dengan tanah. Suara-suara itu hanya tindakan kecil yang tidak meninggalkan efek jera untuk Israel. Justru mereka secara terang-terangan menodongkan senjata kepada warga Gaza walaupun gencatan senjata sedang berlangsung.

Penderitaan yang sedang dialami anak-anak Gaza bukan sekadar tragedi kemanusiaan semata, namun keterpihakan penguasa-penguasa Muslim yang perlu dipertanyakan. Sejatinya, tanah Palestina adalah milik seluruh kaum Muslim. Di sana terdapat mercusuar peradaban Islam yang harus dipertahankan, yaitu Masjid suci milik seluruh kaum Muslim, Masjidil Aqsa. Jikalau ketidakpastian hukum internasional tidak bisa dijadikan sandaran, lantas mengapa petinggi-petinggi pemimpin Islam duduk manis dan diam menyaksikan penindasan warga Gaza yang makin membabi buta?

Kaum Muslim Butuh Perisai Sejati

Hal ini disebabkan karena kaum Muslimin tercerai-berai. Mereka kehilangan "junnah-nya" yang berarti umat Islam saat ini tidak memiliki perisai atau pelindung politik yang kuat untuk menjaganya. Perisai yang sejati itu adalah Khilafah Islamiyah, sebuah institusi kepemimpinan global yang dahulu menyatukan umat dan melindungi serta menjaga kehormatan kaum Muslim. Tanpa adanya Khilafah, berperang di jalan Allah (jihad fii sabilillah) tidak bisa dilakukan untuk memerangi entitas zionis Israel yang kejam. Makanya, umat Islam saat ini bagaikan anak yatim yang kehilangan pelindung.

Tanah suci mereka dijajah dan rakyatnya tertindas tanpa ada satu pun institusi resmi yang mampu membela mereka secara total. Padahal dahulu kala, ketika Perang Salib yang dipimpin oleh panglima perang Salahuddin Al-Ayyubi di bawah komando institusi Khilafah Islam, mampu membebaskan tanah Palestina dari pasukan Romawi.

Bukti nyata ini termasuk catatan sejarah dunia yang bisa dijadikan rujukan kaum Muslim untuk membebaskan keterpurukan warga Gaza saat ini. Lantas, apa yang menyebabkan umat Islam tak mampu menyelamatkan saudara sesama Muslimnya di Gaza sekarang? Mungkinkah perisai umat Islam tegak jika seluruh kaum Muslim di berbagai negara bersatu?

Allahu a’lam bishawab

Eka Yunindah T.
Aktivis Muslimah

Opini

×
Berita Terbaru Update