Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Sibuk dengan Sesuatu yang Membuat Hidup Berkah dan Bermanfaat

Kamis, 21 Mei 2026 | 11:18 WIB Last Updated 2026-05-21T05:15:51Z

Membangun Peradaban dengan Kesibukan yang Diridhai Allah

TintaSiyasi.id -- Di zaman yang dipenuhi hiruk-pikuk dunia modern, manusia semakin sibuk, namun tidak semuanya benar-benar hidup. Banyak yang bergerak cepat, namun kehilangan arah. Banyak yang memiliki aktivitas melimpah, tetapi miskin makna. Ada yang bangun pagi hingga larut malam mengejar dunia, namun hatinya kosong dari cahaya iman. Ada pula yang tenggelam dalam hiburan, media sosial, memuat, dan ambisi pribadi hingga lupa tujuan utama penciptaannya.
Padahal seorang mukmin sejati bukan sekedar manusia yang sibuk, melainkan manusia yang seluruh kesibukannya bernilai ibadah dan menjadi jalan pengabdian kepada Allah SWT.
Sahabat agung Abdullah bin Mas'ud berkata:
“Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Dia memperbaikinya, menjadikannya bertanya tentang sesuatu yang penting baginya dan mengajarkan apa yang bermanfaat baginya.”
Kalimat ini bukan sekedar nasehat akhlak, namun manhaj kehidupan. Ia mengandung dimensi ideologis, ruhani, intelektual, dan peradaban sekaligus. Tanda seorang hamba yang dicintai Allah bukan sekadar diberi kemudahan dunia, melainkan diarahkan hidupnya menuju kebermanfaatan.

Hakikat Kesibukan dalam Pandangan Islam
Islam tidak mengajarkan kemalasan, meredupkan ruhani, atau hidup tanpa tujuan. Seorang muslim diperintahkan menjadi insan produktif, pekerja keras, dan pembangun peradaban. Namun Islam juga mengajarkan bahwa produktivitas harus berada dalam orbit tauhid.
Kesibukan tanpa iman hanya melahirkan kelelahan.
Kesibukan tanpa ilmu melahirkan kesesatan.
Kesebukan tanpa tujuan akhirat melahirkan malang.
Oleh karena itu, para ulama salaf sangat takut terhadap waktu yang terbuang sia-sia. Mereka memahami bahwa umur adalah modal utama menuju Allah.
Hasan al-Bashri berkata:
“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilang pula sebagian dirimu.”
Kesadaran inilah yang melahirkan jiwa-jiwa besar Islam. Mereka sibuk membangun ilmu, menegakkan keadilan, memperjuangkan umat, menulis kitab, mendidik manusia, berjihad melawan hawa nafsu, dan memperbaiki masyarakat.

Kesibukan yang Menghidupkan Hati
Dalam perspektif sufistik, kesibukan terbaik adalah kesibukan yang mendekatkan hati kepada Allah. Sebab inti kebahagiaan bukan banyaknya aktivitas, melainkan hadirnya Allah dalam setiap aktivitas.
Ada orang yang tampak aktif berdakwah tetapi kehilangan keikhlasan. Ada yang sibuk bekerja namun lupa bersyukur. Ada yang mengejar ilmu tetapi dipenuhi riya dan kesombongan.
Karena itu tasawuf sejati bukan mengasingkan diri dari kehidupan, melainkan membersihkan hati ketika menjalani kehidupan.
Kaum sufi sejati mengajarkan:
• bekerja tetapi zuhud,
• berjuang tetapi tawadhu,
• berilmu tetapi rendah hati,
• memiliki dunia tetapi tidak memperbudak dunia.
Mereka menjadikan dunia di tangan, bukan di hati.
Ketika hati hidup bersama Allah, maka seluruh aktivitas berubah menjadi ibadah:
• bekerja menjadi ibadah,
• mengajar menjadi ibadah,
• Penyembahan menjadi ibadah,
• menulis menjadi ibadah,
• memimpin menjadi ibadah,
• Bahkan diam pun bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

Bertanya tentang Sesuatu yang Penting
Ibnu Mas'ud menegaskan bahwa Allah menjadikan hamba pilihan-Nya bertanya tentang hal penting. Ini menunjukkan bahwa kualitas seseorang terlihat dari apa yang memenuhi pikirannya.
Hari ini manusia lebih sibuk:
• membahas aib orang lain,
• mengejar sensasi,
• memperdebatkan hal remeh,
• menghabiskan waktu pada tontonan tanpa nilai,
• mencari dan pengakuan manusia.
Sedangkan orang yang diberi cahaya hidayah akan bertanya:
• Bagaimana cara memperbaiki tauhid?
• Bagaimana cara menundukkan hawa nafsu?
• Bagaimana membangun generasi Islam?
• Bagaimana memperkuat umat?
• Bagaimana menjadikan ilmu sebagai cahaya?
• Bagaimana mati dalam keadaan dicintai Allah?
Pertanyaan semacam ini adalah tanda kebangkitan ruhani dan intelektual.
Sebab manusia besar lahir dari pertanyaan besar.
Dan umat besar dibangun oleh visi besar.

Krisis Umat: Sibuk tetapi Kehilangan Misi
Salah satu tragedi terbesar umat Islam modern adalah banyaknya aktivitas tanpa arah peradaban. Energi umat habis dalam konflik kecil, perpecahan, fanatisme sempit, dan urusan duniawi yang melalaikan.
Padahal Islam diturunkan untuk membangun peradaban rahmatan lil ‘alamin:
• peradaban ilmu pengetahuan,
• kesopanan akhlak,
• peradaban keadilan,
• peradaban tauhid,
• peradaban dan kemanusiaan.
Musuh terbesar umat bukan sekedar kemiskinan materi, tetapi kemiskinan visi dan ruh perjuangan.
Ketika umat kehilangan orientasi akhirat:
• ilmu kehilangan keberkahan,
• kekuasaan berubah menjadi kezaliman,
• ekonomi melahirkan kerakusan,
• teknologi menjadi alat kerusakan,
• dan budaya berubah menjadi keruntuhan spiritual.
Oleh karena itu kebangkitan Islam harus dimulai dari pembenahan manusia:
• hati yang bersih,
• akal yang tercerahkan,
• ilmu yang bermanfaat,
• dan amal yang ikhlas.

Ilmu yang Bermanfaat sebagai Pondasi Kebangkitan
Rasulullah SAW mengajarkan doa:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.”
Hal ini menunjukkan bahwa ilmu dalam Islam bukan sekedar informasi, tetapi cahaya.
Ilmu yang tidak melahirkan ketakwaan akan berubah menjadi kesombongan.
Ilmu tanpa adab akan menjadi alat kehancuran.
Ilmu tanpa iman akan melahirkan krisis kemanusiaan.
Sebaliknya ilmu yang bermanfaat akan:
• Menghidupkan hati,
• memperkuat iman,
• membangun akhlak,
• membebaskan manusia dari polusi,
• dan mengangkat martabat umat.
Karena itu generasi Islam harus menjadi generasi pembelajar, pemikir, pejuang, sekaligus ahli ibadah.
Umat ​​tidak boleh hanya kuat secara spiritual tetapi lemah intelektual.
Tidak cukup hanya emosional religius tanpa penguasaan ilmu dan peradaban.
Islam membutuhkan manusia-manusia yang:
• tajam pikiran,
• bersih hatinya,
• kuat ibadahnya,
• luas ilmunya,
• dan besar merusaknya.

Kesibukan yang Bernilai Abadi
Dunia ini sementara. Jabatan akan berakhir. Popularitas akan hilang. Kekayaan akan ditinggalkan. Namun amal yang ikhlas akan tetap hidup hingga akhirat.
Betapa banyak manusia terkenal di bumi tetapi tidak dikenal di langit.
Dan betapa banyak hamba sederhana yang tidak dikenal manusia tetapi dicintai Allah.
Maka jangan mengukur kesuksesan hanya dengan materi. Ukurlah dengan:
• kebermanfaatan,
• bersujud kepada Allah,
• luasnya pengabdian,
• dan besarnya dampak kebaikan.
Sibukkan diri Anda dengan sesuatu yang:
• membuat iman bertambah,
• Memperkuat ilmu,
• memperbaiki akhlak,
• membantu manusia,
• dan membangun peradaban Islam.
Karena hidup yang paling mulia bukan hidup yang paling mewah, tetapi hidup yang paling bermanfaat.

Jalan Menuju Keberkahan Hidup
Ada beberapa jalan agar kesibukan menjadi sumber keberkahan:
1. Meluruskan Niat
Semua amal tergantung niat. Aktivitas duniawi pun bisa bernilai akhirat jika diniatkan karena Allah.
2. Menjaga Kedekatan dengan Al-Qur'an
Al-Qur'an adalah sumber cahaya kehidupan. Hati yang jauh dari Al-Qur'an akan mudah nyaman dan kehilangan arah.
3. Memilih Lingkungan yang Saleh
Lingkungan menentukan arah hidup. Bertemanlah dengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah dan ilmu.
4. Menghindari Kesia-siaan
Tidak semua yang menarik itu penting. Seorang mukmin harus pandai menjaga waktu dan fokus hidup.
5. Menjadi Manusia yang Bermanfaat
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Penutup: Jadilah Hamba yang Dipilih Allah
Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Allah tidak akan membiarkannya tenggelam dalam kesia-siaan. Allah akan mengarahkan hatinya pada ilmu, amal, perjuangan, dan kebermanfaatan.
Karena itu jangan iri kepada orang yang hanya sibuk mengejar dunia. Irilah kepada waktunya yang dipenuhi cahaya ilmu, ibadah, pengabdian, dan perjuangan untuk umat.
Semoga Allah menjadikan kita:
• hamba yang ikhlas,
• Menyebabkan ilmu yang rendah hati,
• pejuang kebaikan,
• • • peradaban,
• dan manusia yang hidupnya menjadi rahmat bagi sesama.
Sebab pada akhirnya, kehidupan yang bernilai bukanlah kehidupan yang paling panjang, tetapi kehidupan yang paling banyak membawa keberkahan di sisi Allah SWT.

Dr Nasrul Syarif M.Si. (Penulis Buku Gizi Rohani dan Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update