TintaSiyasi.id -- Di negeri ini, bahkan jawaban yang benar pun bisa dianggap salah, asal yang memegang mikrofon dan kuasa berkata demikian.
Viralnya polemik lomba cerdas cermat Empat Pilar MPR RI di Kalimantan Barat bukan sekadar kesalahan teknis perlombaan. Ia adalah potret kecil dari wajah besar sistem yang sedang sakit. Sebuah sistem yang lebih sibuk menjaga gengsi daripada kejujuran, lebih nyaman membungkam kritik daripada mengakui kekeliruan.
Dalam video yang beredar luas, peserta yang merasa jawabannya benar mencoba meminta kejelasan. Namun respons yang muncul justru melukai banyak hati: “Mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja.” Kalimat sederhana, tetapi terasa seperti tamparan bagi nalar dan keberanian generasi muda.
Dirangkum detikcom, Selasa (12/5/2026), polemik ini berawal saat juri memberi nilai berbeda terhadap jawaban yang sama dari peserta LCC MPR di Kalbar. Dalam lomba itu, Grup C dari SMAN 1 Pontianak mendapat nilai minus lima untuk jawaban terkait proses pemilihan anggota BPK.
Ironis. Di panggung yang katanya mendidik kecerdasan, anak-anak justru belajar satu hal: kebenaran bisa dikalahkan oleh kuasa.
Pendidikan yang Kehilangan Kejujuran
Lomba cerdas cermat seharusnya menjadi ruang lahirnya sportivitas, kejujuran, dan keberanian berpikir kritis. Namun ketika peserta yang mempertanyakan keputusan malah dianggap berlebihan, pesan yang sampai kepada generasi muda menjadi berbahaya: jangan terlalu kritis, jangan terlalu vokal, dan jangan melawan keputusan pihak yang berwenang.
Padahal pendidikan sejati tidak dibangun di atas ketakutan. Ia lahir dari kejujuran intelektual.
Sayangnya, budaya anti kritik masih begitu kuat dalam sistem hari ini. Mereka yang mempertanyakan sering dianggap mengganggu. Yang bersuara dianggap membangkang. Dan yang menuntut keadilan justru dicap emosional.
Bukankah ini ironi terbesar dunia pendidikan kita?
Kita mengajarkan anak untuk berpikir kritis di ruang kelas, tetapi meminta mereka diam ketika melihat ketidakadilan di dunia nyata.
Generasi yang Dilatih Tunduk
Kasus ini sebenarnya lebih dalam daripada sekadar salah penilaian lomba. Ia menunjukkan bagaimana generasi muda perlahan dibiasakan menerima keputusan tanpa boleh mempertanyakan.
Budaya seperti ini berbahaya. Sebab bangsa yang besar lahir dari generasi yang berani berpikir kritis, luwes berpendapat, bukan generasi yang hanya pandai mengangguk saja.
Dalam sistem kapitalisme sekuler hari ini, pendidikan sering hanya difungsikan sebagai alat pencetak tenaga kerja dan penjaga stabilitas sosial. Murid didorong mengejar nilai, tetapi tidak dibentuk menjadi manusia yang berani menegakkan kebenaran. Akibatnya, banyak lembaga pendidikan kehilangan ruh moralnya.
Kejujuran menjadi formalitas. Sportivitas hanya slogan. Dan keadilan sering kalah oleh ego institusi.
Pendidikan Islam Membentuk Kepribadian
Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan syakhsiyah Islamiyah. Kepribadian yang jujur, berani, dan bertakwa. Guru bukan hanya pengajar materi, tetapi pembimbing akhlak. Sementara penguasa dan institusi wajib menjaga amanah serta menjauhkan kezaliman sekecil apa pun.
Dalam Islam, mengakui kesalahan bukanlah aib. Justru itulah kemuliaan. Sebab keadilan tidak lahir dari kesempurnaan manusia, melainkan dari keberanian untuk tunduk pada kebenaran.
Generasi muda tidak boleh dibiasakan hidup dalam budaya pembungkaman. Mereka harus tumbuh menjadi generasi yang kritis, cerdas, dan berani menyampaikan kebenaran tanpa takut ditekan kekuasaan.
Sebab ketika anak-anak mulai diajarkan bahwa kebenaran bisa dipelintir di depan umum, maka yang sedang dihancurkan bukan hanya rasa percaya mereka, tetapi masa depan bangsa itu sendiri.
Wallahu a’lam bishshawab.
Oleh: Irna Purnamasari
Aktivis Muslimah